Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERBANDINGAN RAGAM HIAS KERETA KYAI GARUDA KENCANA DAN GARUDA YAKSA

View through CrossRef
Carriage is a material manifestation from the highest social structure in the Javanese culture, the kraton. But, studies on this subject are still considered as scarce and having narrow contexts. These two considerations have led this research to adopt not only Javanese, but also European culture paradigm. Using those paradigms, we compared royal carriages ornaments of Kraton Kasunanan Surakarta (named Garuda Kencana) and Kasultanan Yogyakarta (Garuda Yaksa). This study aims to uncover ornaments differences or similarities, how those ornaments symbolized the status of kraton, and how they relate to the social culture at that time. The method being use was qualitative by inductive reasoning. Data were compared and interpreted with combining field and literature data. This research concludes that those carriages are using style and symbolization concept of European ornament. Those similarities are highlighting the social realities that at 19th Century Java, European Dutch culture were dominant among the elites. Kereta adalah salah satu manifestasi bendawi dari struktur sosial tertinggi di kebudayaan Jawa, kraton. Sayangnya, penelitian atas artefak ini masih sedikit dan beberapa penelitian sebelumnya pun konteksnya tidak begitu luas. Dilatari oleh penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mempertimbangkan tidak hanya budaya Jawa, namun juga budaya Eropa. Konteks artefak yang lebih luas dengan dua sudut pandang itu kemudian digunakan untuk membandingkan ragam hias antara kereta-kereta kebesaran Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Dua kereta yang diambil sebagai bahan perbandingan adalah kereta kebesaran di kedua kraton, yaitu Garuda Kencana dan Garuda Yaksa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan atau persamaan ragam hias, bagaimana penyimbolan status kerajaan melalui ragam hias itu, dan bagaimanakah pula hubungannya dengan konteks sosial budaya pada masa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penalaran induktif. Hasil analisis diinterpretasikan dengan menggabungkan data primer dari observasi langsung dengan data sekunder studi pustaka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua kereta tersebut menggunakan gaya ragam hias dan konsep penyimbolan kerajaan pada budaya Eropa. Persamaan tersebut mengungkapkan realita bahwa budaya Eropa Belanda pada abad ke-19 dominan di antara para elit Jawa.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud
Title: PERBANDINGAN RAGAM HIAS KERETA KYAI GARUDA KENCANA DAN GARUDA YAKSA
Description:
Carriage is a material manifestation from the highest social structure in the Javanese culture, the kraton.
But, studies on this subject are still considered as scarce and having narrow contexts.
These two considerations have led this research to adopt not only Javanese, but also European culture paradigm.
Using those paradigms, we compared royal carriages ornaments of Kraton Kasunanan Surakarta (named Garuda Kencana) and Kasultanan Yogyakarta (Garuda Yaksa).
This study aims to uncover ornaments differences or similarities, how those ornaments symbolized the status of kraton, and how they relate to the social culture at that time.
The method being use was qualitative by inductive reasoning.
Data were compared and interpreted with combining field and literature data.
This research concludes that those carriages are using style and symbolization concept of European ornament.
Those similarities are highlighting the social realities that at 19th Century Java, European Dutch culture were dominant among the elites.
 Kereta adalah salah satu manifestasi bendawi dari struktur sosial tertinggi di kebudayaan Jawa, kraton.
Sayangnya, penelitian atas artefak ini masih sedikit dan beberapa penelitian sebelumnya pun konteksnya tidak begitu luas.
Dilatari oleh penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mempertimbangkan tidak hanya budaya Jawa, namun juga budaya Eropa.
Konteks artefak yang lebih luas dengan dua sudut pandang itu kemudian digunakan untuk membandingkan ragam hias antara kereta-kereta kebesaran Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta.
Dua kereta yang diambil sebagai bahan perbandingan adalah kereta kebesaran di kedua kraton, yaitu Garuda Kencana dan Garuda Yaksa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan atau persamaan ragam hias, bagaimana penyimbolan status kerajaan melalui ragam hias itu, dan bagaimanakah pula hubungannya dengan konteks sosial budaya pada masa tersebut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penalaran induktif.
Hasil analisis diinterpretasikan dengan menggabungkan data primer dari observasi langsung dengan data sekunder studi pustaka.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua kereta tersebut menggunakan gaya ragam hias dan konsep penyimbolan kerajaan pada budaya Eropa.
Persamaan tersebut mengungkapkan realita bahwa budaya Eropa Belanda pada abad ke-19 dominan di antara para elit Jawa.

Related Results

ANALISIS KOREOGRAFI TARI PEUMULIA JAMEE CIPTAAN YUSLIZAR SEBAGAI TARI PENYAMBUTAN DI SANGGAR CUT NYAK DHIEN PROVINSI ACEH
ANALISIS KOREOGRAFI TARI PEUMULIA JAMEE CIPTAAN YUSLIZAR SEBAGAI TARI PENYAMBUTAN DI SANGGAR CUT NYAK DHIEN PROVINSI ACEH
Tujuan penelitian ini mengkaji tentang analisis koreografi Tari Peumulia Jamee diciptaan Yulizar, seorang koreografer yang berasal dari Sanggar Cut Nyak Dhien Banda Aceh. Tari ini ...
BENTUK DAN MAKNA RAGAM HIAS NISAN PADA MAKAM MASYARAKAT DESA HENDEA
BENTUK DAN MAKNA RAGAM HIAS NISAN PADA MAKAM MASYARAKAT DESA HENDEA
Nisan kubur merupakan tanda tentang adanya sebuah peradaban dan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya. Begitu pula nisan Mayasa yang dimiliki masyarakat Desa Hende...
MAKNA SIMBOLIS PADA RAGAM HIAS MASJID MANTINGAN DI JEPARA
MAKNA SIMBOLIS PADA RAGAM HIAS MASJID MANTINGAN DI JEPARA
Sejarah abad pertengahan, pada abad ke 16 masehi masih menyisakan berbagai peninggalan berupa artefak maupun dalam bentuk bangunan yang memiliki nilai historikal yang luar biasa. P...
TEMBIKAR PADA GUA TENGKORAK 1 DESA WAWONTOAHO KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA (Kajian Ragam Hias)
TEMBIKAR PADA GUA TENGKORAK 1 DESA WAWONTOAHO KECAMATAN WIWIRANO KABUPATEN KONAWE UTARA (Kajian Ragam Hias)
Di Sulawesi Tenggara banyak tersebar Gua – Gua Prasejarah dengan temuan didalamnya sangat beragam. Salah satu gua tersebut adalah Gua Tengkorak yang terdapat di Wilayah administr...
INVESTIGATE THE FACTORS THAT INFLUENCE FOREIGN TOURISTS' DECISION TO VISIT GARUDA WISNU KENCANA
INVESTIGATE THE FACTORS THAT INFLUENCE FOREIGN TOURISTS' DECISION TO VISIT GARUDA WISNU KENCANA
The goal of this study was to examine the variables that affect foreign tourists' decisions to visit the Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. The purpose of this study is to answer ...
ALIH GAYA BAHASA DALAM PERCAKAPAN ACARA BUKAN EMPAT MATA DI TRANS 7
ALIH GAYA BAHASA DALAM PERCAKAPAN ACARA BUKAN EMPAT MATA DI TRANS 7
Penelitian ini difokuskan pada fenomena alih gaya dan fungsi alih gayabahasa dalam percakapan acara Bukan Empat Mata di Trans7. Data yangdimaksud dalam penelitian ini, yaitu berupa...
SEJARAH TOMBAK KYAI UPAS DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
SEJARAH TOMBAK KYAI UPAS DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
Penelitian ini membahas tentang salah satu kegiatan kebudayaan turun temurun di Kabupaten Tulungagung, yang dikenal dengan Tradisi Jamasan Tombak Kyai Upas pada bulan Suro. Pada da...

Back to Top