Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Deotorisasi Otoritas Adat Dan Degradasi Lingkungan Pada Kawasan Hutan Yawila Desa Eka Pata Kabupaten Sumba Barat Daya

View through CrossRef
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sebab-sebab melamahnya peran otoritas adat di kawasan hutan Yawila di Desa Eka Pata Kabupaten Sumba Barat Daya. Jika ditelusuri lebih dalam, sebab utama deotorisasi ialah kontraksi internal lembaga adat dan determinasi lembaga berikut nilai baru yang datang dari luar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari mantan kepala dusun II, pemimpin suku Lobo, masyarakat komunitas adat lokal, dan warga dusun II yang mengelola lahan dikawan hutan Yawila. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara internal, degradasi lingkungan di kawasan hutan Yawila dapat dipetakan menurut beberapa sebab. Salah satu yang dapat dianalisis ialah masalah melemahnya peran otoritas dalam dalam pengelolaan lingkungan termasuk hutan. Pelemahan atau dapat disebut deotorisasi otoritas adat tentu disebabkan oleh banyak faktor. Bagian ini akan menjelaskan beberapa faktor tersebut dan implikasinya bagi proses degradasi lingkungan di kawasan hutan Yawila. Masyarakat Desa Eka Pata secara genologis merupakan satu rumpun keluarga yang tinggal di desa yang sama namun berbeda dusun. Warga di Dusun II merupakan warga komunitas adat yang merupakan mayoritas pemilik lahan garapan di desa Eka Pata. Termasuk warga di dusun II merupakan warga yang menjaga dan melestarikan hutan. Dalam kepercayaan masyarakat adat Marapu hutan Yawila mesti dijaga dan ekosistem alamnya harus selalu dilindungi. Sementara itu Masyarakat di Dusun III merupakan warga yang tidak memiliki lahan yang luas untuk dikelola menjadi perkebunan. Masyarakat di dusun tersebut hanya mempunyai ukuran seadanya untuk bangunan rumah dan bercocok tanam. Warga di dusun II memiliki lahan hingga puluhan hektar per kepala keluarga, memiliki lahan garapan pertanian ladang dan pertanian sawah. Sementara warga di dusun III hanya memiliki ukuran kecil tidak sampai satu hektar.  Dalam kondisi sosial tersebut munculnya perbedaan cara pandang terhadap menjaga dan melindungi hutan. Masyarakat di dusun II berupaya menjaga dan melestarikan hutan karena dalam tradisi tertentu hutan Yawila dikeramatkan karena berhubungan dengan kepercayaan adat Marapu. Berbanding terbalik dengan masyarakat dusun III karena kondisi lahan yang terbatas akhirnya ketika diberikan kesempatan oleh UPTD Kehutanan Sumba Barat Daya akhirnya merambah hutan hingga menyebabkan ratusan hektar hutan rusak dan menyebabkan degradasi.  Data menunjukkan konflik manifes berskala besar yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa tidak pernah terjadi di Desa Eka Pata. Konflik kecil-kecilan antara masyarakat dusun II dan dusun III hampir saja terjadi namun mampu diredam oleh tokoh masyarakat karena secara genologis warga tersebut masih memiliki hubungan kekeluargaan.
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Title: Deotorisasi Otoritas Adat Dan Degradasi Lingkungan Pada Kawasan Hutan Yawila Desa Eka Pata Kabupaten Sumba Barat Daya
Description:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sebab-sebab melamahnya peran otoritas adat di kawasan hutan Yawila di Desa Eka Pata Kabupaten Sumba Barat Daya.
Jika ditelusuri lebih dalam, sebab utama deotorisasi ialah kontraksi internal lembaga adat dan determinasi lembaga berikut nilai baru yang datang dari luar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi.
Informan dalam penelitian ini terdiri dari mantan kepala dusun II, pemimpin suku Lobo, masyarakat komunitas adat lokal, dan warga dusun II yang mengelola lahan dikawan hutan Yawila.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara internal, degradasi lingkungan di kawasan hutan Yawila dapat dipetakan menurut beberapa sebab.
Salah satu yang dapat dianalisis ialah masalah melemahnya peran otoritas dalam dalam pengelolaan lingkungan termasuk hutan.
Pelemahan atau dapat disebut deotorisasi otoritas adat tentu disebabkan oleh banyak faktor.
Bagian ini akan menjelaskan beberapa faktor tersebut dan implikasinya bagi proses degradasi lingkungan di kawasan hutan Yawila.
Masyarakat Desa Eka Pata secara genologis merupakan satu rumpun keluarga yang tinggal di desa yang sama namun berbeda dusun.
Warga di Dusun II merupakan warga komunitas adat yang merupakan mayoritas pemilik lahan garapan di desa Eka Pata.
Termasuk warga di dusun II merupakan warga yang menjaga dan melestarikan hutan.
Dalam kepercayaan masyarakat adat Marapu hutan Yawila mesti dijaga dan ekosistem alamnya harus selalu dilindungi.
Sementara itu Masyarakat di Dusun III merupakan warga yang tidak memiliki lahan yang luas untuk dikelola menjadi perkebunan.
Masyarakat di dusun tersebut hanya mempunyai ukuran seadanya untuk bangunan rumah dan bercocok tanam.
Warga di dusun II memiliki lahan hingga puluhan hektar per kepala keluarga, memiliki lahan garapan pertanian ladang dan pertanian sawah.
Sementara warga di dusun III hanya memiliki ukuran kecil tidak sampai satu hektar.
 Dalam kondisi sosial tersebut munculnya perbedaan cara pandang terhadap menjaga dan melindungi hutan.
Masyarakat di dusun II berupaya menjaga dan melestarikan hutan karena dalam tradisi tertentu hutan Yawila dikeramatkan karena berhubungan dengan kepercayaan adat Marapu.
Berbanding terbalik dengan masyarakat dusun III karena kondisi lahan yang terbatas akhirnya ketika diberikan kesempatan oleh UPTD Kehutanan Sumba Barat Daya akhirnya merambah hutan hingga menyebabkan ratusan hektar hutan rusak dan menyebabkan degradasi.
 Data menunjukkan konflik manifes berskala besar yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa tidak pernah terjadi di Desa Eka Pata.
Konflik kecil-kecilan antara masyarakat dusun II dan dusun III hampir saja terjadi namun mampu diredam oleh tokoh masyarakat karena secara genologis warga tersebut masih memiliki hubungan kekeluargaan.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Kuasa Politik Negara Dalam Proses Degradasi Lingkungan Pada Kawasan Hutan Yawila Desa Eka Pata, Kabupaten Sumba Barat Daya
Kuasa Politik Negara Dalam Proses Degradasi Lingkungan Pada Kawasan Hutan Yawila Desa Eka Pata, Kabupaten Sumba Barat Daya
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kuasa politik negara terhadap para komunitas adat lokal di desa Eka Pata, kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kuasa ...
Pendekatan Positivistik dalam Studi Hukum Adat
Pendekatan Positivistik dalam Studi Hukum Adat
AbstractAdat Positive Legal Science was initiated to simplify Western People (officer, legal enforcer, scholar) to understand adat or adat law. There are two important process to p...
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
Pemimpin desa adat dalam hal ini kelian desa merupakan pemegang otoritas utama dalam kepemerintahan desa adat di desa adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten ...
Marginalisasi Hukum Adat pada Masyarakat Adat The marginalization of adat law on adat communities
Marginalisasi Hukum Adat pada Masyarakat Adat The marginalization of adat law on adat communities
Tulisan ini berupaya melihat marjinalisasi adat, hukum adat serta implikasinya pada masyarakat adat. Dalam konteks Indonesia, meskipun Konstitusi dan beberapa aturan formal mengaku...
ISUE STRATEGIS KAWASAN HUTAN PADA PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
ISUE STRATEGIS KAWASAN HUTAN PADA PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Tata ruang adalah wujud dari struktur ruang dan pola ruang; Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah. Penetapan Kawasan Hutan adalah suatu penegasan tentan...
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintah...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...

Back to Top