Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Puasa Intermiten Air: Dampaknya terhadap Derajat Steatosis

View through CrossRef
Abstract. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a metabolic disorder commonly associated with high-fat diet consumption and a sedentary lifestyle, characterized by lipid accumulation and inflammation in liver tissue. Water intermittent fasting is a non-pharmacological approach that has the potential to improve lipid metabolism and liver health; however, its effects on the microscopic features of liver tissue remain unclear. This study aimed to analyze the relationship between water intermittent fasting and the degree of steatosis in the liver tissue of mice fed a high-fat diet. This experimental study employed a post-test only controlled group design using 28 paraffin-embedded mouse liver tissue blocks divided into four treatment groups: standard diet control, high-fat diet control, water intermittent fasting with a standard diet, and water intermittent fasting with a high-fat diet. The water intermittent fasting protocol consisted of a 14-hour fasting period followed by a 10-hour feeding window for 30 days. Liver tissue sections were stained with hematoxylin–eosin and evaluated histopathologically to assess the degree of steatosis. Statistical analysis was performed using Fisher’s exact test and Spearman correlation analysis. The results demonstrated that water intermittent fasting had a significant effect on reducing the degree of microvesicular steatosis in mouse liver tissue (p = 0.002), with a strong correlation strength and a non-linear negative direction (r = −0.632. In conclusion, water intermittent fasting effectively reduces hepatic steatosis in mice fed a high-fat diet. Abstrak. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan gangguan metabolik yang sering terjadi akibat konsumsi pakan tinggi lemak dan gaya hidup sedentari, ditandai oleh akumulasi lemak dan inflamasi pada jaringan hati. Puasa intermiten air (water intermittent fasting) merupakan pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi memperbaiki metabolisme lipid dan kesehatan hati, namun pengaruhnya terhadap gambaran mikroskopik jaringan hati masih perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan puasa intermiten air terhadap derajat steatosis pada jaringan hati mencit yang mendapat pakan tinggi lemak. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain post-test only controlled group design dengan 28 parafin blok jaringan hati mencit yang dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan, yaitu kontrol pakan standar, kontrol pakan tinggi lemak, puasa intermiten air dengan pakan standar, serta puasa intermiten air dengan pakan tinggi lemak. Protokol puasa intermiten air dilakukan dengan pola 14 jam puasa dan 10 jam jendela makan selama 30 hari. Preparat jaringan hati diwarnai hematoksilin-eosin dan dianalisis secara histopatologis untuk menilai derajat steatosis. Analisis statistik menggunakan Fisher’s exact test dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten air berpengaruh signifikan terhadap penurunan derajat microvesicular steatosis (p = 0,002) dengan kekuatan korelasi kuat dan arah tidak linear (r = −0,632). Disimpulkan bahwa puasa intermiten air efektif menurunkan derajat steatosis hati pada mencit dengan pakan tinggi lemak dalam durasi penelitian ini.
Title: Puasa Intermiten Air: Dampaknya terhadap Derajat Steatosis
Description:
Abstract.
Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a metabolic disorder commonly associated with high-fat diet consumption and a sedentary lifestyle, characterized by lipid accumulation and inflammation in liver tissue.
Water intermittent fasting is a non-pharmacological approach that has the potential to improve lipid metabolism and liver health; however, its effects on the microscopic features of liver tissue remain unclear.
This study aimed to analyze the relationship between water intermittent fasting and the degree of steatosis in the liver tissue of mice fed a high-fat diet.
This experimental study employed a post-test only controlled group design using 28 paraffin-embedded mouse liver tissue blocks divided into four treatment groups: standard diet control, high-fat diet control, water intermittent fasting with a standard diet, and water intermittent fasting with a high-fat diet.
The water intermittent fasting protocol consisted of a 14-hour fasting period followed by a 10-hour feeding window for 30 days.
Liver tissue sections were stained with hematoxylin–eosin and evaluated histopathologically to assess the degree of steatosis.
Statistical analysis was performed using Fisher’s exact test and Spearman correlation analysis.
The results demonstrated that water intermittent fasting had a significant effect on reducing the degree of microvesicular steatosis in mouse liver tissue (p = 0.
002), with a strong correlation strength and a non-linear negative direction (r = −0.
632.
In conclusion, water intermittent fasting effectively reduces hepatic steatosis in mice fed a high-fat diet.
Abstrak.
Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan gangguan metabolik yang sering terjadi akibat konsumsi pakan tinggi lemak dan gaya hidup sedentari, ditandai oleh akumulasi lemak dan inflamasi pada jaringan hati.
Puasa intermiten air (water intermittent fasting) merupakan pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi memperbaiki metabolisme lipid dan kesehatan hati, namun pengaruhnya terhadap gambaran mikroskopik jaringan hati masih perlu dikaji.
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan puasa intermiten air terhadap derajat steatosis pada jaringan hati mencit yang mendapat pakan tinggi lemak.
Penelitian eksperimental ini menggunakan desain post-test only controlled group design dengan 28 parafin blok jaringan hati mencit yang dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan, yaitu kontrol pakan standar, kontrol pakan tinggi lemak, puasa intermiten air dengan pakan standar, serta puasa intermiten air dengan pakan tinggi lemak.
Protokol puasa intermiten air dilakukan dengan pola 14 jam puasa dan 10 jam jendela makan selama 30 hari.
Preparat jaringan hati diwarnai hematoksilin-eosin dan dianalisis secara histopatologis untuk menilai derajat steatosis.
Analisis statistik menggunakan Fisher’s exact test dan uji korelasi Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten air berpengaruh signifikan terhadap penurunan derajat microvesicular steatosis (p = 0,002) dengan kekuatan korelasi kuat dan arah tidak linear (r = −0,632).
Disimpulkan bahwa puasa intermiten air efektif menurunkan derajat steatosis hati pada mencit dengan pakan tinggi lemak dalam durasi penelitian ini.

Related Results

Pengaruh Puasa Air Intermiten terhadap Kadar Kolesterol Mencit yang Diberi Pakan Tinggi Lemak
Pengaruh Puasa Air Intermiten terhadap Kadar Kolesterol Mencit yang Diberi Pakan Tinggi Lemak
Abstract. Hypercholesterolemia is a risk factor for coronary heart disease. One alternative for lowering cholesterol levels that is easy to do and does not require large costs is i...
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus L.)
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus L.)
Abstract. Lifestyle changes in the modern era such as changes in diet that more often consume high-fat foods cause various diseases, one of which is hyperuricemia which is caused b...
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Gambaran Mikrostruktur Pankreas Mencit
Pengaruh Puasa Intermiten Kering terhadap Gambaran Mikrostruktur Pankreas Mencit
Abstract. A lifestyle with minimal physical activity and consumption of high-fat foods canincrease the risk of obesity and insulin resistance, and can lead to high blood sugar leve...
Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental
Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental
Artikel ini mengulas tentang dampak dari puasa terhadap kesehatan mental, di era modern banyak orang yang salah memahami puasa banyak orang yang mengira, bahkan menuding, bahwa pua...
Manfaat Puasa Terhadap Kesehatan Masyarakat: Literatur Review
Manfaat Puasa Terhadap Kesehatan Masyarakat: Literatur Review
Puasa adalah praktik menahan diri dari makan dan minum selama jangka waktu tertentu, yang sering kali memiliki dimensi spiritual, budaya, atau kesehatan. Dalam konteks penelitian y...
PUASA YANG MENAJUBKAN (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN INDIVIDU YANG MENJALANKAN PUASA DAUD)
PUASA YANG MENAJUBKAN (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN INDIVIDU YANG MENJALANKAN PUASA DAUD)
Sebagian umat manusia di dunia menjalankan ibadah puasa. Berbagai agama turut memerintahkan umatnya untuk menjalankan puasa sesuai dengan tata cara dan pelaksanaannya masing-masing...
Pelatihan Problematika Puasa bagi Warga Madrasah Minu 13 Gandariyah melalui Kajian Fiqih Puasa
Pelatihan Problematika Puasa bagi Warga Madrasah Minu 13 Gandariyah melalui Kajian Fiqih Puasa
Pelatihan problematika puasa bagi warga Madrasah MINU 13 Gandariyah melalui kajian fiqih puasa bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang hukum dan adab puasa. Pelatiha...
Puasa Intermiten Kering: Bagaimana Pengaruhnya terhadap Derajat Inflamasi Hepar Mencit?
Puasa Intermiten Kering: Bagaimana Pengaruhnya terhadap Derajat Inflamasi Hepar Mencit?
Abstract. Modern lifestyle changes, characterized by increased consumption of high-fat foods and reduced physical activity, have led to a rise in obesity and non-alcoholic fatty li...

Back to Top