Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MEMANUSIAKAN MANUSIA: REFLEKSI KRITIS ATAS GAGASAN KEMANUSIAAN DALAM PEMIKIRAN GUS DUR DAN NELSON MANDELA

View through CrossRef
Penulisan jurnal ini bertujuan merefleksikan secara kritis gagasan kemanusiaan dalam pemikiran Gus Dur dan Nelson Mandela sebagai respons terhadap tantangan dehumanisasi kontemporer. Fenomena intoleransi, diskriminasi berbasis identitas, polarisasi politik, dan krisis kemanusiaan global menunjukkan urgensi kajian ini. Subjek penelitian ini adalah pemikiran kemanusiaan Gus Dur dan Nelson Mandela, yang dianalisis secara komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan studi pustaka (library research). Data dikumpulkan dari literatur (buku, jurnal, artikel) dan dianalisis menggunakan metode kualitatif komparatif untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keduanya menggunakan posisi politiknya untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip kemanusiaan. Kemudian Gus Dur dan Nelson Mandela memiliki fondasi kemanusiaan pada humanisme, pluralisme, dan perjuangan anti-penindasan. Keduanya menjunjung tinggi nilai anti-kekerasan dalam mencapai perubahan. Perbedaannya terletak pada konteks dan implementasi, Gus Dur fokus pada pluralisme agama dan budaya di Indonesia dengan pendekatan dialogis, sementara Mandela fokus pada perjuangan anti-diskriminasi dan anti-rasisme yang pendekatannya dengan konsep rekonsiliasi dan pengampunan pasca-apartheid di Afrika Selatan. Gagasan kemanusiaan kedua tokoh ini dapat menjadi inspirasi dan solusi konkret dalam mengatasi tantangan kemanusiaan di era modern, mendorong sikap saling menghargai dan keadilan universal.
Title: MEMANUSIAKAN MANUSIA: REFLEKSI KRITIS ATAS GAGASAN KEMANUSIAAN DALAM PEMIKIRAN GUS DUR DAN NELSON MANDELA
Description:
Penulisan jurnal ini bertujuan merefleksikan secara kritis gagasan kemanusiaan dalam pemikiran Gus Dur dan Nelson Mandela sebagai respons terhadap tantangan dehumanisasi kontemporer.
Fenomena intoleransi, diskriminasi berbasis identitas, polarisasi politik, dan krisis kemanusiaan global menunjukkan urgensi kajian ini.
Subjek penelitian ini adalah pemikiran kemanusiaan Gus Dur dan Nelson Mandela, yang dianalisis secara komparatif.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan studi pustaka (library research).
Data dikumpulkan dari literatur (buku, jurnal, artikel) dan dianalisis menggunakan metode kualitatif komparatif untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keduanya menggunakan posisi politiknya untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Kemudian Gus Dur dan Nelson Mandela memiliki fondasi kemanusiaan pada humanisme, pluralisme, dan perjuangan anti-penindasan.
Keduanya menjunjung tinggi nilai anti-kekerasan dalam mencapai perubahan.
Perbedaannya terletak pada konteks dan implementasi, Gus Dur fokus pada pluralisme agama dan budaya di Indonesia dengan pendekatan dialogis, sementara Mandela fokus pada perjuangan anti-diskriminasi dan anti-rasisme yang pendekatannya dengan konsep rekonsiliasi dan pengampunan pasca-apartheid di Afrika Selatan.
Gagasan kemanusiaan kedua tokoh ini dapat menjadi inspirasi dan solusi konkret dalam mengatasi tantangan kemanusiaan di era modern, mendorong sikap saling menghargai dan keadilan universal.

Related Results

Gus Dur dalam Keberagaman Pendidikan Islam
Gus Dur dalam Keberagaman Pendidikan Islam
Abstrak Persepsi publik seringkali menganggap bahwa pendidikan Islam hanya fokus di lembaga formal. Apabila persepsi itu terus langgeng, maka pendidikan Islam akan sulit untuk menj...
Pandangan Nasionalisme
Pandangan Nasionalisme
Gus Dur or Abdurahman Wahid is a national figure who is often referred to as the father of Pluralism due to his open attitude towards the existence of other religions in his life's...
AWARENESS ON ISLAMIC FEMINISM: Learning From Gus Dur and Husein Muhammad
AWARENESS ON ISLAMIC FEMINISM: Learning From Gus Dur and Husein Muhammad
Abstract: Women has been an interesting research discourse due to various remaining practical problems. This is mainly triggered by embedded patriarchal culture within society. Iro...
Gus Dur’s Interreligious Equality in the Context of Plural Indonesian Society
Gus Dur’s Interreligious Equality in the Context of Plural Indonesian Society
In the plural Indonesian society, where there are Muslim, Protestant, Catholic, Budha, Hindu, Konghucu, and Penghayat, interreligious harmony is something that cannot be ignored. I...
Hormone interactions and regulation of PsPK2::GUS compared with DR5::GUS and PID::GUS in Arabidopsis thaliana
Hormone interactions and regulation of PsPK2::GUS compared with DR5::GUS and PID::GUS in Arabidopsis thaliana
The putative pea PINOID homolog, PsPK2, is expressed in all growing plant parts and is positively regulated by auxin, gibberellin, and cytokinin. Here, we studied hormonal regulati...
Pemikiran Politik Gus Dur terhadap Demokratisasi dan Kebebasan Beragama di Indonesia
Pemikiran Politik Gus Dur terhadap Demokratisasi dan Kebebasan Beragama di Indonesia
Penelitian ini mengkaji pemikiran politik Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berperan penting dalam memperkuat demokrasi dan kebebasan beragama di Indonesia. Latar belakang penelitia...
Pluralisme dalam Perspektif Pemikiran Gus Dur dan Nurcholish Majid
Pluralisme dalam Perspektif Pemikiran Gus Dur dan Nurcholish Majid
The purpose of this research is to understand the thoughts of Gus Dur and Nurcholish Majid about pluralism. In Indonesian society, which is pluralistic, friction between understand...
KONSELING LINTAS BUDAYA PERSPEKTIF ABDURRAHMAN WAHID
KONSELING LINTAS BUDAYA PERSPEKTIF ABDURRAHMAN WAHID
<p class="normal" align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p class="normal">Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji model konseling lintas budaya K...

Back to Top