Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perbandingan Kepastian Hukum Kepemilikan Rumah Susun di Indonesia dan Singapura

View through CrossRef
This study aims to analyze the legal framework governing apartment ownership in Indonesia and Singapore and to compare the degree of legal certainty provided by both systems in protecting owners’ rights. Legal certainty of apartment ownership in Indonesia still faces several issues, including the dependence of Ownership Rights to Apartment Units (HMSRS) on land rights, a non-integrated registration system, and the evidentiary weakness of Apartment Ownership Certificates (SHMSRS) which remain challengeable. This research is important due to the limited comparative studies examining legal certainty of apartment ownership through indicators of ownership structure, registration systems, relationship with land rights, and evidentiary strength of ownership certificates. This research employs normative legal methods through statutory, conceptual, and comparative approaches. The findings reveal that Indonesia still experiences regulatory fragmentation, dependence of HMSRS on land rights status, and a non-integrated registration system, while Singapore applies a centralized electronic registration system based on the principle of indefeasibility of title which provides stronger legal certainty. The study concludes that the integration of legal and registration systems constitutes the primary factor in determining legal certainty of apartment ownership. The novelty of this research lies in its comparative analysis that positions ownership structure, registration systems, relationship with land rights, and evidentiary strength of ownership certificates as the principal indicators of legal certainty in apartment ownership.     Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan hukum kepemilikan rumah susun di Indonesia dan Singapura serta membandingkan tingkat kepastian hukumnya dalam menjamin perlindungan hak pemilik. Kepastian hukum kepemilikan rumah susun di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, seperti ketergantungan Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) terhadap hak atas tanah, sistem registrasi yang belum terintegrasi, dan kekuatan pembuktian Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS) yang masih dapat digugat. Penelitian ini penting dilakukan karena kajian komparatif mengenai kepastian hukum kepemilikan rumah susun melalui indikator struktur hak, sistem registrasi, hubungan dengan hak atas tanah, dan kekuatan bukti kepemilikan masih terbatas. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi fragmentasi regulasi, ketergantungan HMSRS terhadap status hak atas tanah, dan sistem registrasi yang belum terintegrasi, sedangkan Singapura menerapkan registrasi elektronik terpusat dengan prinsip indefeasibility of title yang memberikan kepastian hukum lebih kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi sistem hukum dan registrasi menjadi faktor utama dalam membangun kepastian hukum kepemilikan rumah susun. Kebaruan penelitian terletak pada analisis komparatif yang menempatkan struktur hak, sistem registrasi, hubungan hak atas tanah, dan kekuatan bukti kepemilikan sebagai indikator utama kepastian hukum rumah susun.
Title: Perbandingan Kepastian Hukum Kepemilikan Rumah Susun di Indonesia dan Singapura
Description:
This study aims to analyze the legal framework governing apartment ownership in Indonesia and Singapore and to compare the degree of legal certainty provided by both systems in protecting owners’ rights.
Legal certainty of apartment ownership in Indonesia still faces several issues, including the dependence of Ownership Rights to Apartment Units (HMSRS) on land rights, a non-integrated registration system, and the evidentiary weakness of Apartment Ownership Certificates (SHMSRS) which remain challengeable.
This research is important due to the limited comparative studies examining legal certainty of apartment ownership through indicators of ownership structure, registration systems, relationship with land rights, and evidentiary strength of ownership certificates.
This research employs normative legal methods through statutory, conceptual, and comparative approaches.
The findings reveal that Indonesia still experiences regulatory fragmentation, dependence of HMSRS on land rights status, and a non-integrated registration system, while Singapore applies a centralized electronic registration system based on the principle of indefeasibility of title which provides stronger legal certainty.
The study concludes that the integration of legal and registration systems constitutes the primary factor in determining legal certainty of apartment ownership.
The novelty of this research lies in its comparative analysis that positions ownership structure, registration systems, relationship with land rights, and evidentiary strength of ownership certificates as the principal indicators of legal certainty in apartment ownership.
    Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan hukum kepemilikan rumah susun di Indonesia dan Singapura serta membandingkan tingkat kepastian hukumnya dalam menjamin perlindungan hak pemilik.
Kepastian hukum kepemilikan rumah susun di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, seperti ketergantungan Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (HMSRS) terhadap hak atas tanah, sistem registrasi yang belum terintegrasi, dan kekuatan pembuktian Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS) yang masih dapat digugat.
Penelitian ini penting dilakukan karena kajian komparatif mengenai kepastian hukum kepemilikan rumah susun melalui indikator struktur hak, sistem registrasi, hubungan dengan hak atas tanah, dan kekuatan bukti kepemilikan masih terbatas.
Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi fragmentasi regulasi, ketergantungan HMSRS terhadap status hak atas tanah, dan sistem registrasi yang belum terintegrasi, sedangkan Singapura menerapkan registrasi elektronik terpusat dengan prinsip indefeasibility of title yang memberikan kepastian hukum lebih kuat.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi sistem hukum dan registrasi menjadi faktor utama dalam membangun kepastian hukum kepemilikan rumah susun.
Kebaruan penelitian terletak pada analisis komparatif yang menempatkan struktur hak, sistem registrasi, hubungan hak atas tanah, dan kekuatan bukti kepemilikan sebagai indikator utama kepastian hukum rumah susun.

Related Results

Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami urgensi pengaturan AI dalam UU Hak Cipta di Indonesia serta potensi AI sebagai subjek hukum dalam sistem hukum di Indonesia...
Tingkat Kenyamanan Hunian Berdasarkan Kondisi Fisik Rusunawa Blok A dan Blok B Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak
Tingkat Kenyamanan Hunian Berdasarkan Kondisi Fisik Rusunawa Blok A dan Blok B Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak
Usaha pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perumahan di kota – kota besar dengan tingkat kepadatan yang tinggi adalah dicanangkannya kebijakan pembangunan rumah susun. Tujuan pemban...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Pengaruh Struktur Kepemilikan Pada Profitabilitas Perusahaan Asuransi di Indonesia
Pengaruh Struktur Kepemilikan Pada Profitabilitas Perusahaan Asuransi di Indonesia
Abstract This study aims to determine the effect of ownership structure on the profitability of insurance companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). Ownership st...
IMPLIKASI ITSBAT NIKAH TEHADAP STATUS PERKAWINAN DAN ANAK DALAM KEPASTIAN HUKUM
IMPLIKASI ITSBAT NIKAH TEHADAP STATUS PERKAWINAN DAN ANAK DALAM KEPASTIAN HUKUM
Pasangan suami istri yang telah melakukan perkawinan dihadapan Pegawai Pencatat Nikah, akan tetapi Pegawai Pencatat Nikah dengan sengaja tidak mencatat perkawinan yang ada dihada...
Grand Design Reformasi Penelitian Hukum Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Negara Republik Indonesia
Grand Design Reformasi Penelitian Hukum Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Negara Republik Indonesia
Dillihat dari sisi penelitian hukum, pembangunan hukum nasional merupakan wujud sistem hukum nasional, harus didukung oleh perencanaan pembentukan materi hukum, penelitian hukum, p...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Studi Perbandingan Hukum Perkawinan Islam di Indonesia dan Thailand
Studi Perbandingan Hukum Perkawinan Islam di Indonesia dan Thailand
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Memahami bagaimana sistem perkawinan nasional di Indonesia dan Thailand, (2) Latar belakang pemberlakuan hukum perkawinan Islam di Indonesia dan ...

Back to Top