Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Hadis Terbitnya Bintang Ṡurayyā Dalam Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal (Studi Sanad Dan Matan Hadis)

View through CrossRef
Berawal dari wabah virus Covid-19 yang tak kunjung sirna, menjadikan sebagianbesar pihak merasakan penderitaan. Hingga wajar jika semua golongan sangatberharap wabah ini segera hilang. Sebagaimana kehebohan berita yang beredarmelalui akun twitter milik salah seorang warga yang beragumen bahwa wabah covid19 ini akan segera berakhir apabila telah terbit sebuah bintang di waktu pagi. Haltersebut berlandaskan keterangan dari hadis Nabi صلى الله عليه وسلم dalam riwayat Imam Ahmad binHanbal yang menyatakan hal demikian. Namun pada kenyataannya hingga saat iniwabah Covid-19 itu masih ada. Adanya kejadian tersebut dikhawatirkan menimbulkandugaan di kalangan masyarakat bahwa tidak semua ucapan nabi benar (bohong).dengan hal ini maka peneliti memfokuskan dua rumusan masalah. Pertama,bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang terbitnya bintang Ṡurayya sebagaitanda berakhirnya wabah, kedua Bagaimana kandungan isi hadis tersebut. Penelitianini menggunakan metode takhrij wa dirāsah al-asanid pada sanad, sedangkan padamatan menggunakan metode Syarhu al-Hadīṡ. Adapun pendekatan yang digunakanadalah historis dengan jenis penelitian library reseach. Adapun metode pengumpulandata yang digunakan adalah takhrij, iʻtibar dan Syarhu al-ḥadīṡ. Hasil dari penelitianini menyimpulkan bahwa hadis tentang terbitnya bintang Ṡurayya dalam musnadImam Ahmad tergolong Ḥasan Garib. Jika dilihat sanadnya, hadis ini tergolongmuttaṣil. Namun secara kualitas, hadis ini dinilai ḥasan karena ada perawi yangkredibilitasnya tidak memenuhi syarat hadis ṣaḥīḥ yakni ʻIsl bin Sufyān al-Tamīmī alYarbūʻī, beliau dinilai ḍaʻīf. Karena hanya bersumber dari sahabat Abū Hurairah dankemudian hanya berporos kepada Imam Ahmad bin Hanbal, maka hadis ini dinilaigarīb dan termasuk garīb mutlaq. Sedangkan matannya tidak Ṣaḥīḥ karena tidakmencukupi kriteria ke-ṣaḥīḥ-an matan. kekurangan tersebut, yakni bertentangandengan dalil Al-Qur’an dan akal sehat. Adapun isi kandungan hadis ini adalahpenjelasan atau informasi Nabi صلى الله عليه وسلم terkait waktu hilangnya hama yang ditandai denganterbitnya bintang (Ṡurayyā) pada waktu pagi. Namun yang harus digaris bahawahiadalah kata al-ʻĀhatu di sini bukan wabah Covid-19 (corona) atau wabah padaumumnya, melainkan perselisihan dan sengketa di antara orang-orang arab pada masaitu terhadap jual beli buah-buahan yang cacat atau rusak karena belum waktunyauntuk di panen. Oleh Nabi kemudian melarang kegiatan tersebut dan menjadikanterbitnya bintang Ṡurayya sebagai tolak ukur diperbolehkannya kembali jual beli. Haltersebut dikarenakan pada saat bintang Ṡurayya terbit, menurut kebiasaan di tanahhijaz merupakan awal musim panen tiba yang pada akhirnya menjadikan perselisihanjual beli tersebut terhindarkan (hilang/diangkat).
Title: Hadis Terbitnya Bintang Ṡurayyā Dalam Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal (Studi Sanad Dan Matan Hadis)
Description:
Berawal dari wabah virus Covid-19 yang tak kunjung sirna, menjadikan sebagianbesar pihak merasakan penderitaan.
Hingga wajar jika semua golongan sangatberharap wabah ini segera hilang.
Sebagaimana kehebohan berita yang beredarmelalui akun twitter milik salah seorang warga yang beragumen bahwa wabah covid19 ini akan segera berakhir apabila telah terbit sebuah bintang di waktu pagi.
Haltersebut berlandaskan keterangan dari hadis Nabi صلى الله عليه وسلم dalam riwayat Imam Ahmad binHanbal yang menyatakan hal demikian.
Namun pada kenyataannya hingga saat iniwabah Covid-19 itu masih ada.
Adanya kejadian tersebut dikhawatirkan menimbulkandugaan di kalangan masyarakat bahwa tidak semua ucapan nabi benar (bohong).
dengan hal ini maka peneliti memfokuskan dua rumusan masalah.
Pertama,bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang terbitnya bintang Ṡurayya sebagaitanda berakhirnya wabah, kedua Bagaimana kandungan isi hadis tersebut.
Penelitianini menggunakan metode takhrij wa dirāsah al-asanid pada sanad, sedangkan padamatan menggunakan metode Syarhu al-Hadīṡ.
Adapun pendekatan yang digunakanadalah historis dengan jenis penelitian library reseach.
Adapun metode pengumpulandata yang digunakan adalah takhrij, iʻtibar dan Syarhu al-ḥadīṡ.
Hasil dari penelitianini menyimpulkan bahwa hadis tentang terbitnya bintang Ṡurayya dalam musnadImam Ahmad tergolong Ḥasan Garib.
Jika dilihat sanadnya, hadis ini tergolongmuttaṣil.
Namun secara kualitas, hadis ini dinilai ḥasan karena ada perawi yangkredibilitasnya tidak memenuhi syarat hadis ṣaḥīḥ yakni ʻIsl bin Sufyān al-Tamīmī alYarbūʻī, beliau dinilai ḍaʻīf.
Karena hanya bersumber dari sahabat Abū Hurairah dankemudian hanya berporos kepada Imam Ahmad bin Hanbal, maka hadis ini dinilaigarīb dan termasuk garīb mutlaq.
Sedangkan matannya tidak Ṣaḥīḥ karena tidakmencukupi kriteria ke-ṣaḥīḥ-an matan.
kekurangan tersebut, yakni bertentangandengan dalil Al-Qur’an dan akal sehat.
Adapun isi kandungan hadis ini adalahpenjelasan atau informasi Nabi صلى الله عليه وسلم terkait waktu hilangnya hama yang ditandai denganterbitnya bintang (Ṡurayyā) pada waktu pagi.
Namun yang harus digaris bahawahiadalah kata al-ʻĀhatu di sini bukan wabah Covid-19 (corona) atau wabah padaumumnya, melainkan perselisihan dan sengketa di antara orang-orang arab pada masaitu terhadap jual beli buah-buahan yang cacat atau rusak karena belum waktunyauntuk di panen.
Oleh Nabi kemudian melarang kegiatan tersebut dan menjadikanterbitnya bintang Ṡurayya sebagai tolak ukur diperbolehkannya kembali jual beli.
Haltersebut dikarenakan pada saat bintang Ṡurayya terbit, menurut kebiasaan di tanahhijaz merupakan awal musim panen tiba yang pada akhirnya menjadikan perselisihanjual beli tersebut terhindarkan (hilang/diangkat).

Related Results

Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Jejak Penulisan Hadis di Mesir Abad ke 2-3 H (Kajian terhadap Kitab Musnad At- Thahawi)
Jejak Penulisan Hadis di Mesir Abad ke 2-3 H (Kajian terhadap Kitab Musnad At- Thahawi)
                                                      AbstrakTulisan ini mengkaji tentang sejarah dari penulisan hadis di Mesir, mengingat daerah tersebut merupakan salah satu bagi...
Tradisi Periwayatan Umat Islam
Tradisi Periwayatan Umat Islam
Penelitian ini membahas tentang tradisi periwayatan umat Islam, khususnya tentang bidang-bidang pengaplikasian sanad. Setidaknya ada tiga bidang yang sering diiringi oleh sanad, ya...
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
Penelitian ini bermaksud menjelaskan penelitian hadis menurut standar prosedur ilmiah penelitian hadis yang disebut saintifik hadis. Wacana saintifik hadis dalam konstruksi kesahih...
Kualitas Hadis dalam Kitab Pelajaran Akhlak Karya Adnan Yahya Lubis
Kualitas Hadis dalam Kitab Pelajaran Akhlak Karya Adnan Yahya Lubis
In the daily practice of Islamic teachings, it is found that some hadiths of unknown quality circulate among the general public and are used as references to educational institutio...
Metode Kritik Sanad (Naqd Al-Sanad)
Metode Kritik Sanad (Naqd Al-Sanad)
Sanad merupakan salah satu unsur terpenting dalam hadis, sebagaimana telah dikenal bahwa hadis tersusun atas tiga unsur utama, yaitu sanad, matan, dan rawi. Sebagai sumber hukum Is...
MEMBEDAH MUSNAD AL-HUMAYDÎ: SALAH SATU MUSNAD HADITS TERTUA
MEMBEDAH MUSNAD AL-HUMAYDÎ: SALAH SATU MUSNAD HADITS TERTUA
Al-Humaydî is one of the figures of hadist from Mecca area. He belongs to the main generation as the follower of tâbi`în who lived and gathered with one of the chiefs of fiqh Madzh...

Back to Top