Javascript must be enabled to continue!
AKULTURASI ESTETIK BUNGONG HIAS DALAM MASJID BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH
View through CrossRef
AbstrakPenelitian pada akulturasi estetik bungong hias masjid Baiturrahman menggunakan metode kerangka teori sebagai pisau bedah analisis, teori akulturasi mengarah pada pemikiran Koentjaraningrat, teori estetika dan teori semiotika Charles Sanders Pierce memahami komunikasi pembuktian tanda-tanda dari sebuah kenyataan. Analisis bungong hias estetik terhadap persilangan budaya Eropa dan Timur Tengah, menelusuri dengan proses perjalanan akulturasi yang mempengaruhi masjid Baiturrahman bungong hias berdasarkan literatur komunikasi indikator ikon, indeks, dan symbol. Bentuk dan pemaknaan bungong hias berdasarkan semiotik dari hasil representasi flora, alam, kaligrafi dan arabesque. Bentuk unsur flora terdiri bungong meusingklet, bungong ban keumang, bungong meulu dan pucok rebong. Bentuk alam terdiri dari bintang bulen, rante, puta taloe, awan si oen¸dan lampu kande. Bentuk kaligrafi dan arabesque terdiri dari unsur geometris dan lafad Allah dengan bentuk seni kaligrafi. Bungong hias tersebut memiliki makna filosofis sebagai kearifan lokal dari nilai-nilai budaya dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat Aceh dan juga mempengaruhi acuan bentuk bungong hias baik dari segi arsitektur dan penererapan terhadap objek yang tersebar di Nusantara.Kata Kunci: Akulturasi, Estetik, Bungong Hias AbstractResearch on the aesthetic acculturation of the ornamental Bungong Baiturrahman mosque uses the theoretical framework method as an analytical scalpel; acculturation theory leads to Koentjaraningrat's thoughts, aesthetic theory, and Charles Sanders Pierce's semiotic theory understand communication evidence of signs from a reality. The analysis of the aesthetic ornamental bungong on the cross between European and Middle Eastern cultures traces the process of acculturation that affects the Baiturrahman bungong decorative mosque based on the communication literature of icon, index, and symbol indicators. The shape and meaning of ornamental bungong are based on a semiotic representation of flora, nature, calligraphy and arabesque. The elements of flora consist of Bungong Meusingklet, Bungong Ban Keumang, Bungong Meulu and Pucok Rebong. The natural form consists of a bulen star, rante, puta taloe, si oen¸ cloud, and kande lamp. Calligraphy and arabesque forms consist of geometric elements and the pronunciation of Allah with the art form of calligraphy. The ornamental bungong has a philosophical meaning as local wisdom of cultural values in regulating the social life of the Acehnese people and also influences the reference to the shape of the ornamental bungong both in terms of architecture and the application of objects scattered throughout the archipelago.Keywords: Acculturation; Aesthetics; Ornamental Bungong
Title: AKULTURASI ESTETIK BUNGONG HIAS DALAM MASJID BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH
Description:
AbstrakPenelitian pada akulturasi estetik bungong hias masjid Baiturrahman menggunakan metode kerangka teori sebagai pisau bedah analisis, teori akulturasi mengarah pada pemikiran Koentjaraningrat, teori estetika dan teori semiotika Charles Sanders Pierce memahami komunikasi pembuktian tanda-tanda dari sebuah kenyataan.
Analisis bungong hias estetik terhadap persilangan budaya Eropa dan Timur Tengah, menelusuri dengan proses perjalanan akulturasi yang mempengaruhi masjid Baiturrahman bungong hias berdasarkan literatur komunikasi indikator ikon, indeks, dan symbol.
Bentuk dan pemaknaan bungong hias berdasarkan semiotik dari hasil representasi flora, alam, kaligrafi dan arabesque.
Bentuk unsur flora terdiri bungong meusingklet, bungong ban keumang, bungong meulu dan pucok rebong.
Bentuk alam terdiri dari bintang bulen, rante, puta taloe, awan si oen¸dan lampu kande.
Bentuk kaligrafi dan arabesque terdiri dari unsur geometris dan lafad Allah dengan bentuk seni kaligrafi.
Bungong hias tersebut memiliki makna filosofis sebagai kearifan lokal dari nilai-nilai budaya dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat Aceh dan juga mempengaruhi acuan bentuk bungong hias baik dari segi arsitektur dan penererapan terhadap objek yang tersebar di Nusantara.
Kata Kunci: Akulturasi, Estetik, Bungong Hias AbstractResearch on the aesthetic acculturation of the ornamental Bungong Baiturrahman mosque uses the theoretical framework method as an analytical scalpel; acculturation theory leads to Koentjaraningrat's thoughts, aesthetic theory, and Charles Sanders Pierce's semiotic theory understand communication evidence of signs from a reality.
The analysis of the aesthetic ornamental bungong on the cross between European and Middle Eastern cultures traces the process of acculturation that affects the Baiturrahman bungong decorative mosque based on the communication literature of icon, index, and symbol indicators.
The shape and meaning of ornamental bungong are based on a semiotic representation of flora, nature, calligraphy and arabesque.
The elements of flora consist of Bungong Meusingklet, Bungong Ban Keumang, Bungong Meulu and Pucok Rebong.
The natural form consists of a bulen star, rante, puta taloe, si oen¸ cloud, and kande lamp.
Calligraphy and arabesque forms consist of geometric elements and the pronunciation of Allah with the art form of calligraphy.
The ornamental bungong has a philosophical meaning as local wisdom of cultural values in regulating the social life of the Acehnese people and also influences the reference to the shape of the ornamental bungong both in terms of architecture and the application of objects scattered throughout the archipelago.
Keywords: Acculturation; Aesthetics; Ornamental Bungong.
Related Results
Bentuk Dan Fungsi Batee Ranup Bagi Masyarakat Aceh
Bentuk Dan Fungsi Batee Ranup Bagi Masyarakat Aceh
ABSTRACT Batee ranup has a variety of shapes and motifs, such as round or round oval shapes that have legs and there are also square shapes in general. Batee ranup has five kinds o...
Efektivitas Program Pemerintah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap Pola Pangan Harapan Rumah Tangga di Kota Banda Aceh
Efektivitas Program Pemerintah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap Pola Pangan Harapan Rumah Tangga di Kota Banda Aceh
Abstrak. Dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan, kementerian pertanian melalui Badan Litbang Pertanian mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang disebut dengan KRPL,...
PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KINERJA PEGAWAI
PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KINERJA PEGAWAI
Abstrak - Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis: (1) Reward (2) Punishment; (3) Kinerja Pegawai; serta (4) Pengaruh Reward dan Punishment terhadap Kinerja ...
Pengembangan Sistem Informasi Masjid Baiturrahman Banyuwangi Dengan Menerapkan Metode SDLC
Pengembangan Sistem Informasi Masjid Baiturrahman Banyuwangi Dengan Menerapkan Metode SDLC
Abstrak: Masjid Luhur Baiturrahman banyuwangi adalah sebuah masjid yang terletak di kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Masjid ini menjadi pusat keaktifan Agama Islam di ko...
PERSEPSI KEAMANAN MAHASISWA PERANTAUAN TERHADAP KRIMINALITAS DI BANDA ACEH
PERSEPSI KEAMANAN MAHASISWA PERANTAUAN TERHADAP KRIMINALITAS DI BANDA ACEH
Abstrak: Mahasiswa perantauan seringkali menghadapi tantangan unik terkait keamanan di lingkungan baru, seperti adaptasi dengan dinamika keamanan setempat, ancaman kejahatan jalana...
Mekanisme Pengupahan (Ujrah) pada Pengurus Masjid di Kabupaten Kubu Raya: Suatu Tinjauan Syariah
Mekanisme Pengupahan (Ujrah) pada Pengurus Masjid di Kabupaten Kubu Raya: Suatu Tinjauan Syariah
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mekanisme pengupahan (ujrah) pada pengurus masjid di Kabupaten Kubu Raya dan menilai apakah mekanisme pengupahan (ujrah) pada peng...
KOMPARASI TATA MASSA DAN RUANG PADA MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON DAN MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA
KOMPARASI TATA MASSA DAN RUANG PADA MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON DAN MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA
Abstrak- Penyebaran Islam di Indonesia meninggalkan keberagaman budaya akibat adanya akulturasi khususnya di Pulau Jawa. Di antaranya adalah ritual-ritual atau aktivitas asli Jawa ...
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1). Pengaturan Hukum Penyiaran Aceh dalam mengaktualisasi nilai keislaman dan Kearifan budaya local masyarakat Aceh (2) Program Penyiaran Ac...

