Javascript must be enabled to continue!
KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS
View through CrossRef
Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980). In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology. In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little. He put God as absolute ruler, do as His Will. Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God. Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason. In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.H. Siradjuddin Abbas (1905-1980). Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional. Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran. Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya. Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal. Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif.
Title: KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS
Description:
Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980).
In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology.
In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah).
He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little.
He put God as absolute ruler, do as His Will.
Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God.
Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason.
In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.
Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.
H.
Siradjuddin Abbas (1905-1980).
Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional.
Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah).
Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran.
Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya.
Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan.
Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal.
Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif.
Related Results
TEOLOGI KONTEMPORER: KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
TEOLOGI KONTEMPORER: KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
Teologi kontemporer merupakan teologi yang selalu mengedepankan rasio dibandingkan iman. Teologi kontemporer merupakan hasil berpikir dari historis kritis para teolog. Teologi ini ...
HUBUNGAN TEOLOGI BIBLIKA DENGAN DIVISI-DIVISI LAIN DALAM DISIPLIN ILMU TEOLOGI
HUBUNGAN TEOLOGI BIBLIKA DENGAN DIVISI-DIVISI LAIN DALAM DISIPLIN ILMU TEOLOGI
Abstract: The Bible is the holy book of Christians. In the academic field of theology, the Bible is the main capital of the book which is the subject that must be learned. Learn th...
KRITIK SENI DAN FUNGSI MELAKUKAN KRITIK SENI
KRITIK SENI DAN FUNGSI MELAKUKAN KRITIK SENI
Art criticism is a process of evaluating and inputting a work of art. The purpose of doing art criticism is to provide improvements to a work of art to make it even better. The met...
Tipologi Pemikiran Pendidikan Islam Di Indonesia
Tipologi Pemikiran Pendidikan Islam Di Indonesia
Pemikiran pendidikan adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam. Untuk...
PPPUD DIVERSIFIKASI PRODUK KERAJINAN TENUN CORAK INSANG DI KAMPUNG WISATA TENUN KHATULISTIWA
PPPUD DIVERSIFIKASI PRODUK KERAJINAN TENUN CORAK INSANG DI KAMPUNG WISATA TENUN KHATULISTIWA
PPPUD of Product Diversification of Corak Insang Weaving at Kampung Wisata Tenun KhatulistiwaAbstact. Since established on 16th of November 2018 as a woven tourist village area, th...
The Rational Paradigm in Islam: A Perspective on the Thought of Harun Nasution
The Rational Paradigm in Islam: A Perspective on the Thought of Harun Nasution
The study of Harun Nasution's thought is very important to be studied more deeply because the study never stops being debated. The purpose of this paper is to understand 3 things: ...
Islam dan Society 5.0: Pembacaan Ulang Teologi Islam Perspektif Mohammed Arkoun di Era Digital
Islam dan Society 5.0: Pembacaan Ulang Teologi Islam Perspektif Mohammed Arkoun di Era Digital
Artikel ini berisi tentang pembacaan teologi Islam di era society 5.0. Di mana seiring berkembangnya zaman, teknologi canggih pun terus muncul dan hadir di hampir seluruh lini kehi...
Islam dan Wacana Pascamodenisme
Islam dan Wacana Pascamodenisme
Dunia intelektual Barat hari ini dikatakan cenderung terhadap corak pemikiran "pascamodenisme". Dapat dikatakan bahawa kecenderungan tersebut kemudiannya turut menjangkau ke dunia ...

