Javascript must be enabled to continue!
Nilai-nilai Karakteristik Kepemimpinan Perempuan dalam Qs. Al-Naml [27]: 29-35 (Studi Komparatif Penafsiran Nawawi al-Bantani dan Hamka terhadap Kisah Ratu Balqis)
View through CrossRef
<p>Kepemimpinan perempuan masih menjadi kontroversi dalam dunia Islam akibat mengakarnya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi superior dan perempuan pada inferior. Kondisi ini diperpuruk oleh teks-teks klasik yang menjadi legitimasi dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan peran keduanya sehingga perempuan tidak mempunyai tempat dalam ranah publik karena wilayah tersebut hanya milik laki-laki. Akan tetapi, ketika Islam hadir di tengah-tengah masyarakat Arab dan mengabarkan kemuliaan perempuan serta kedudukannya yang tinggi dan mempunyai derajat yang sama dengan laki-laki, maka tidak ada perbedaan di antara keduanya. Belakangan ini, kemajuan berfikir kaum perempuan juga didukung oleh pandangan beberapa ulama kontemporer yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin di ruang publik dan menyampaikan aspirasinya. Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis ingin meneliti lebih dalam tentang nilai-nilai karakteristik kepemimpinan perempuan melalui pandangan dua tokoh tafsir nusantara, yaitu Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marāḥ Labīd dan Hamka dalam Tafsir al-Azhar dengan mengkhususkan QS. al-Naml [27]: 29-35 yang membahas tentang kepemimpinan Ratu Balqis. Penulis ingin melihat bagaimana pandangan Nawawi al-Bantani dan Hamka terhadap ayat ini serta bagaimana persamaan dan perbedaan pandangan Nawawi al-Bantani dan Hamka tentang kepemimpinan perempuan.<em></em></p>
Sekolah Tinggi Ilmu Qur an Amuntai
Title: Nilai-nilai Karakteristik Kepemimpinan Perempuan dalam Qs. Al-Naml [27]: 29-35 (Studi Komparatif Penafsiran Nawawi al-Bantani dan Hamka terhadap Kisah Ratu Balqis)
Description:
<p>Kepemimpinan perempuan masih menjadi kontroversi dalam dunia Islam akibat mengakarnya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi superior dan perempuan pada inferior.
Kondisi ini diperpuruk oleh teks-teks klasik yang menjadi legitimasi dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan peran keduanya sehingga perempuan tidak mempunyai tempat dalam ranah publik karena wilayah tersebut hanya milik laki-laki.
Akan tetapi, ketika Islam hadir di tengah-tengah masyarakat Arab dan mengabarkan kemuliaan perempuan serta kedudukannya yang tinggi dan mempunyai derajat yang sama dengan laki-laki, maka tidak ada perbedaan di antara keduanya.
Belakangan ini, kemajuan berfikir kaum perempuan juga didukung oleh pandangan beberapa ulama kontemporer yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin di ruang publik dan menyampaikan aspirasinya.
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis ingin meneliti lebih dalam tentang nilai-nilai karakteristik kepemimpinan perempuan melalui pandangan dua tokoh tafsir nusantara, yaitu Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marāḥ Labīd dan Hamka dalam Tafsir al-Azhar dengan mengkhususkan QS.
al-Naml [27]: 29-35 yang membahas tentang kepemimpinan Ratu Balqis.
Penulis ingin melihat bagaimana pandangan Nawawi al-Bantani dan Hamka terhadap ayat ini serta bagaimana persamaan dan perbedaan pandangan Nawawi al-Bantani dan Hamka tentang kepemimpinan perempuan.
<em></em></p>.
Related Results
Rekonstruksi Kisah Ratu Balqis dalam Perspektif Tafsir Maqashidi
Rekonstruksi Kisah Ratu Balqis dalam Perspektif Tafsir Maqashidi
Artikel ini menjelaskan tentang pembacaan baru kisah Ratu Balqis dalam perspektif tafsir maqashidi. Pembacaan ini dimaksudkan untuk memberikan angin segar bagi pemahaman kisah-kisa...
Gender Bias in the Book “Syarh 'Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” by Nawawi Al-Bantani
Gender Bias in the Book “Syarh 'Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” by Nawawi Al-Bantani
This article aims to prove that the book “Syarh ‘Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain,” which is studied in many Islamic boarding schools, has indications of gender bias and p...
KEPEMIMPINAN DEMOKRASI PADA MADRASAH
KEPEMIMPINAN DEMOKRASI PADA MADRASAH
Tujuan artikel ini untuk menjelaskan tentang kepemimpinan demokratis yang tepat untuk diterapkan di Madrasah. Masalah yang urgen di madrasah saat ini kepemimpinan belum menunjukkan...
Kisah Nabi Adam dan Hawa Prespektif Tafsir Al-Qurthubi
Kisah Nabi Adam dan Hawa Prespektif Tafsir Al-Qurthubi
Abstract: The story of the Qur'an is a medium for conveying moral messages in the context of forming a people who have noble character. The stories in the Al-Qur'an are a method fo...
KARAKTERISTIK HADITS DAN MUHADDIS NUSANTARA STUDI PEMIKIRAN SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI
KARAKTERISTIK HADITS DAN MUHADDIS NUSANTARA STUDI PEMIKIRAN SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI
Para ulama Nusantara, sebagai penjaga dan pewaris tradisi keilmuan, memainkan peran sentral dalam meriwayatkan, mempelajari, dan menyebarkan hadits di wilayah ini. Kontribusi merek...
NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA HAMKA SEBUAH ANALISIS UNSUR TEMA, TOKOH, PERWATAKAN, AMANAT
NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA HAMKA SEBUAH ANALISIS UNSUR TEMA, TOKOH, PERWATAKAN, AMANAT
Penelitian ini merupakan suatu analisis terhadap unsur pendidikan atas tema, tokoh dan perwatakan serta amanat dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA. Rumusan mas...
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...

