Javascript must be enabled to continue!
AGAMA KHONGHUCU DAN BUDDHA DALAM LINTASAN SEJARAH KOREA
View through CrossRef
South Korean society has a plural society with its different religious background. Khonghucu (Confucianism) and Buddhism have grown in the country for the last several centuries. Khonghucu teaches philosophy and thingking about politics and culture which form identity and ethic of Korean society. Likewise, Buddhism has a role in establishing basic identity and culture of Korean society. Other religions such as Catholic, Islam, Protestant, and shamanism are also followed by Korean. This article tries to respond the question about religious environment among Korean society, especially the question for the ground of Confucianism and Buddhism in Korean history. This article is resulted from a desk literature research which also aims at describing the current development of Confucianism and Buddhism and their role in forming culture as well as identity of Korean people.Keywords: Confucianism, Buddhism, shamanism, Xu she scripture, and mass culture.AbstrakMasyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang heterogen dari sisi agama. Agama Khonghucu dan Agama Buddha telah berkembang di Korea sejak berabad lampau. Agama Khonghucu sangat mengandung unsur-unsur filsafat pemikiran, politik, dan kebudayaan yang berakar dan berpengaruh ke dalam pembentukan etika dan identitas bangsa Korea. Agama Buddhajuga berperan dalam pembentukan dasar-dasar identitas dan kebudayaan Korea. Selain Agama Kristen, Islam dan Katholik, agama setempat atau shamanisme juga tetap dipeluk sebagian masyarakat Korea Selatan. Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah situasi kehidupan beragama di Korea Selatan dan bagaimanakah kedudukan Agama Khonghucu dan Buddha dalam sejarah perjalanan bangsa Korea. Tulisan yang dihasilkan dari penelitian literature ini ini juga dimaksudkan untuk mendeskripsikan bagaimanakah kondisi Agama Khonghucu dan Buddha di Korea pada masa kini dan bagaimana perannya dalam membentuk kebudayaan dan identitas nasional Bangsa Korea.Kata Kunci: Agama Khonghucu, Agama Buddha, shamanisme, teks-teks Xu she, dan budaya massa.
Title: AGAMA KHONGHUCU DAN BUDDHA DALAM LINTASAN SEJARAH KOREA
Description:
South Korean society has a plural society with its different religious background.
Khonghucu (Confucianism) and Buddhism have grown in the country for the last several centuries.
Khonghucu teaches philosophy and thingking about politics and culture which form identity and ethic of Korean society.
Likewise, Buddhism has a role in establishing basic identity and culture of Korean society.
Other religions such as Catholic, Islam, Protestant, and shamanism are also followed by Korean.
This article tries to respond the question about religious environment among Korean society, especially the question for the ground of Confucianism and Buddhism in Korean history.
This article is resulted from a desk literature research which also aims at describing the current development of Confucianism and Buddhism and their role in forming culture as well as identity of Korean people.
Keywords: Confucianism, Buddhism, shamanism, Xu she scripture, and mass culture.
AbstrakMasyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang heterogen dari sisi agama.
Agama Khonghucu dan Agama Buddha telah berkembang di Korea sejak berabad lampau.
Agama Khonghucu sangat mengandung unsur-unsur filsafat pemikiran, politik, dan kebudayaan yang berakar dan berpengaruh ke dalam pembentukan etika dan identitas bangsa Korea.
Agama Buddhajuga berperan dalam pembentukan dasar-dasar identitas dan kebudayaan Korea.
Selain Agama Kristen, Islam dan Katholik, agama setempat atau shamanisme juga tetap dipeluk sebagian masyarakat Korea Selatan.
Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah situasi kehidupan beragama di Korea Selatan dan bagaimanakah kedudukan Agama Khonghucu dan Buddha dalam sejarah perjalanan bangsa Korea.
Tulisan yang dihasilkan dari penelitian literature ini ini juga dimaksudkan untuk mendeskripsikan bagaimanakah kondisi Agama Khonghucu dan Buddha di Korea pada masa kini dan bagaimana perannya dalam membentuk kebudayaan dan identitas nasional Bangsa Korea.
Kata Kunci: Agama Khonghucu, Agama Buddha, shamanisme, teks-teks Xu she, dan budaya massa.
Related Results
Studi Semiotika Makna Upacara Perayaan Dewi Kwan Im di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang
Studi Semiotika Makna Upacara Perayaan Dewi Kwan Im di Kelenteng Dewi Kwan Im Palembang
This research discusses of rituals for Dewi Kwan Im celebration that is the day Dewi Kwan Im leaving the world. Dewi Kwan Im is the Goddess who was highly respected by Khonghucu pe...
Relasi Guru Agama Khonghucu dengan Masyarakat di Indonesia
Relasi Guru Agama Khonghucu dengan Masyarakat di Indonesia
This article intends to describe the relationship between Khonghucu Religious Education teachers and their students, communication between Khonghucu Religious Education teachers an...
Prinsip-Prinsip Manajerial Penyuluh Agama Buddha Di Provinsi Banten
Prinsip-Prinsip Manajerial Penyuluh Agama Buddha Di Provinsi Banten
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini penyuluh agama Buddha ketika berceramah menyampaikan materi yang tidak memiliki keterkaitan dengan sutta maupun referensi dalam agam...
Agama Buddha di Indonesia: Sejarah, Kemunduran dan Kebangkitan
Agama Buddha di Indonesia: Sejarah, Kemunduran dan Kebangkitan
Ketika mendengar agama Buddha di benak kita yang tergambar adalah Film Kera Sakti, India, Thailand dan lain sebagainya, seolah-olah agama ini sangat jauh dari kehidupan kita. Jikap...
Pembentukan Karakter Siswa Beragama Buddha di Sekolah Markus Tangerang
Pembentukan Karakter Siswa Beragama Buddha di Sekolah Markus Tangerang
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah pembentukankarakter siswa beragama Buddha melalui Pendidikan Agama Buddha diSekolah Markus Tangerang. Tujuan dari penelitian ...
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
Perkembangan disiplin ilmu sejarah buat sekian lama memusatkan perbahasannya kepada falsafah “tiada dokumen, tiada sejarah” sebagai wadah merealisasikan matlamat sejarawan untuk me...

