Javascript must be enabled to continue!
BENTUK DAN STRUKTUR PENYAJIAN TARI TINGANG NELISE PADA SUKU DAYAK BAHAU BUSANG SUB SUKU LONG GELAAT DI ULU MAHAKAM
View through CrossRef
Tari Tingang Nelise merupakan tari tradisional yang berkembang di desa Long Tuyoq khususnya Sub Suku Long Gelaat. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang dibawakan secara khusus pada saat acara Nemlaai, acara adat anak, pernikahan, dan Dangai. Tari Tingang Nelise terinspirasi dari keseharian burung Enggang yang sedang merapikan bulunya, memperindah serta mempercantik dirinya. Tari Tingang Nelise adalah salah satu tarian yang memiliki banyak variasi dari tarian-tarian Karang Sapeq. Tingang Nelise awalnya dikenal dengan nama Tari Tingang Mate, namun karena itu memberikan makna yang kurang tepat terlebih lagi karena gerakannya lebih tepat disebut dengan Nelise (berhias). Penelitian ini akan mengupas bentuk dan struktur penyajian tari Tingang Nelise dilihat dari tari tradisional yang menggabungkan motif-motif dari setiap gerakan-gerakannya. Dengan pendekatan koreografi dan struktur. Pendekatan koreografi melihat tema, pelaku, gerak, rias busana, properti, musik iringan dilihat dari bentuk tariannya dibawakan sebagai tari hiburan atau rakyat yang tumbuh di kalangan masyarakat. Pendekatan struktur mengupas tari Tingang Nelise dilihat dari analisis struktural dimulai dari unsur gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Tingang Nelise memiliki ciri khas yang terlihat dari motif-motif geraknya. Gerak yang paling dominan adalah kaki dan tangan. Secara struktur tari Tingang Nelise terbagi ke dalam 4 gugus, dan memiliki 7 motif gerak yang khas yaitu motif gerak Ngaset yang melompat ke kanan dan kiri dengan posisi jongkok, Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, dan Nelise. ABSTRACT Tingang Nelise dance is a traditional dance of Dayak community, Long Gelaat tribe in Long Tuyoq village. This dance is a folk dance that is performed specifically at Nemlaai events, children's traditional events, weddings, and Dangai. Tingang Nelise dance is inspired by the daily activities of hornbills that are grooming their feathers and beautifying themselves. Tingang Nelise dance is one of the dances that have many variations of the Karang Sapeq dances, which is the embodiment of Tingang Nelise or the result of a change in name which was originally known as the Tingang Mate Dance, but because it gives less meaning and also because the movement is more accurately called Nelise (decorated). This research will explore the form and structure of the presentation of the Tingang Nelise dance with a choreography and structure approach. The choreography approach looks at themes, dancers, movements, dress and make-up, properties, and music accompaniment. While the structural approach of the Tingang Nelise dance is seen from the structural analysis of dance in the language analysis which analyzes from the smallest movement. Starting from the elements of movement, motives movement, phrases movement, sentences, and group movement. The results of the analysis conclude that the Tingang Nelise Dance has a characteristic that can be seen from the motives of the movement which are dominated by foot and hand movements. Structurally, the Tingang Nelise dance is divided into 4 groups and has 7 characteristic motive movement, namely the Ngaset that jumps to the right and left in a squatting position. The other motives are Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, and Nelise.
Title: BENTUK DAN STRUKTUR PENYAJIAN TARI TINGANG NELISE PADA SUKU DAYAK BAHAU BUSANG SUB SUKU LONG GELAAT DI ULU MAHAKAM
Description:
Tari Tingang Nelise merupakan tari tradisional yang berkembang di desa Long Tuyoq khususnya Sub Suku Long Gelaat.
Tarian ini merupakan tarian rakyat yang dibawakan secara khusus pada saat acara Nemlaai, acara adat anak, pernikahan, dan Dangai.
Tari Tingang Nelise terinspirasi dari keseharian burung Enggang yang sedang merapikan bulunya, memperindah serta mempercantik dirinya.
Tari Tingang Nelise adalah salah satu tarian yang memiliki banyak variasi dari tarian-tarian Karang Sapeq.
Tingang Nelise awalnya dikenal dengan nama Tari Tingang Mate, namun karena itu memberikan makna yang kurang tepat terlebih lagi karena gerakannya lebih tepat disebut dengan Nelise (berhias).
Penelitian ini akan mengupas bentuk dan struktur penyajian tari Tingang Nelise dilihat dari tari tradisional yang menggabungkan motif-motif dari setiap gerakan-gerakannya.
Dengan pendekatan koreografi dan struktur.
Pendekatan koreografi melihat tema, pelaku, gerak, rias busana, properti, musik iringan dilihat dari bentuk tariannya dibawakan sebagai tari hiburan atau rakyat yang tumbuh di kalangan masyarakat.
Pendekatan struktur mengupas tari Tingang Nelise dilihat dari analisis struktural dimulai dari unsur gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak.
Tari Tingang Nelise memiliki ciri khas yang terlihat dari motif-motif geraknya.
Gerak yang paling dominan adalah kaki dan tangan.
Secara struktur tari Tingang Nelise terbagi ke dalam 4 gugus, dan memiliki 7 motif gerak yang khas yaitu motif gerak Ngaset yang melompat ke kanan dan kiri dengan posisi jongkok, Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, dan Nelise.
ABSTRACT Tingang Nelise dance is a traditional dance of Dayak community, Long Gelaat tribe in Long Tuyoq village.
This dance is a folk dance that is performed specifically at Nemlaai events, children's traditional events, weddings, and Dangai.
Tingang Nelise dance is inspired by the daily activities of hornbills that are grooming their feathers and beautifying themselves.
Tingang Nelise dance is one of the dances that have many variations of the Karang Sapeq dances, which is the embodiment of Tingang Nelise or the result of a change in name which was originally known as the Tingang Mate Dance, but because it gives less meaning and also because the movement is more accurately called Nelise (decorated).
This research will explore the form and structure of the presentation of the Tingang Nelise dance with a choreography and structure approach.
The choreography approach looks at themes, dancers, movements, dress and make-up, properties, and music accompaniment.
While the structural approach of the Tingang Nelise dance is seen from the structural analysis of dance in the language analysis which analyzes from the smallest movement.
Starting from the elements of movement, motives movement, phrases movement, sentences, and group movement.
The results of the analysis conclude that the Tingang Nelise Dance has a characteristic that can be seen from the motives of the movement which are dominated by foot and hand movements.
Structurally, the Tingang Nelise dance is divided into 4 groups and has 7 characteristic motive movement, namely the Ngaset that jumps to the right and left in a squatting position.
The other motives are Nyebeb, Nyegung, Nyebib, Lemako, Nyelut, and Nelise.
Related Results
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
<p>ABSTRACT<br />Sintang’s Dayak ikat weaving, which is one of the cultural artifacts of Sintang District, West Kalimantan, is used by indigenous peoples (Dayak tribes)...
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ABSTRAK Penulis tertarik mengajikan Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau karena Upacara Ladung Bio’ adalah upcara Adat Dayak Kenyah yang sangat penting. ...
Tatag De Penyawo: Perenungan Atas Identitas Kesukuan
Tatag De Penyawo: Perenungan Atas Identitas Kesukuan
ABSTRAK Tatag de Penyawo adalah sebuah koreografi kelompok yang ditampilkan oleh 9 orang penari laki-laki. Karya ini lahir dari hasil perenungan penata tari yang gelisah dengan ide...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
ANALISIS MANTRA PESTA PANEN ADAT LOMPLAI SUKU DAYAK WEHEA DI DESA NEHAS LIAH BING KABUPATEN KUTAI TIMUR KAJIAN SEMIOTIKA
ANALISIS MANTRA PESTA PANEN ADAT LOMPLAI SUKU DAYAK WEHEA DI DESA NEHAS LIAH BING KABUPATEN KUTAI TIMUR KAJIAN SEMIOTIKA
Aslam Cahya Putra, Kiftiawati, PurwantiProgram Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu BudayaUniversitas MulawarmanEmail: aslamr074@gmail.com ABSTRAKKata kunci: suku dayak wehea, ma...
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
Proses Inovasi Gerak Tari Jaipongan yang terjadi dikalangan generasi muda lebih digemari dari pada bentuk tari Jaipongan bentuk ketuk tilu. Hal menjadi permasalahan penting bagi pa...
ANALISIS SEDIMEN DAN PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN:DAERAH KASUS DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR
ANALISIS SEDIMEN DAN PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN:DAERAH KASUS DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR
Delta Mahakam mempunyai sumberdaya minyak dan gas bumi serta sumberdaya laut lainnya. Hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam merupakan salah satu parameter kelestarian lingkungan....
KARAWITAN TARI SEKAR PUDYASTUTI KARYA K.R.T. SASMINTADIPURA: STRUKTUR PENYAJIAN DAN GARAP KENDHANGAN
KARAWITAN TARI SEKAR PUDYASTUTI KARYA K.R.T. SASMINTADIPURA: STRUKTUR PENYAJIAN DAN GARAP KENDHANGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta mendeskripsikan pola penyajian dan garap kendhangan Tari Sekar Pudyastuti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskrip...

