Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Ghumi Uttara: A New Music Creation | Ghumi Uttara: Sebuah Karya Musik Baru

View through CrossRef
Karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara mengangkat ide penciptaan yang lahir dari pengalaman pribadi penulis dalam memainkan tabuh-tabuh yang mengidentitaskan Kabupaten Buleleng. Karya ini menonjolkan pengolahan dari tabuh sekatian dan tabuh lelongoran yang berada di Kabupaten Buleleng. Adapun tujuannya untuk memberikan pesan bagi masyarakat bahwa tabuh sekatian dan tabuh lelongoran adalah tabuh yang mengidentitaskan Kabupaten Buleleng yang harus dilestarikan dan disebar luaskan. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara”, adalah Metode Penciptaan Panca Sthiti Ngawi Sani dari I Wayan Dibia  dalam bukunya Metodologi Penciptaan Seni, yang terdiri dari Tahap Inspirasi (ngewirasa),  Tahap Esplorasi (Ngawacak), Tahap Konsepsi (Ngarencana), Tahap Eksekusi (Ngewangun) dan Tahap Produksi (Ngebah) dari kelima metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya ini mampu menghasilkan sebuah karya musik tabuh kreasi yang menggunakan media ungkap Gamelan Gong Kebyar. Karya Ghumi Uttara memakai struktur tri angga, yaitu kawitan/awalan (bagaian I), pengawak/isi (bagaian II), pengecet/penutup (bagaian III), yang disetiap bagian memiliki suasana atau penggambaran yang berbeda, bagian I mengenalkan intrumen yang digunakan, pada bagian II mengambarkan tabuh sekatian pada bagian II ini juga terdapat motif tabuh sekatian dari sekatian bentuk lelambatan dan sekatian bentuk pengecet, sedangkan pada bagian III mengambarkan tabuh lelongoran pada bagian III ini terdapat tiga motif lelongoran. Terciptanya  karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi generasi muda untu berkarya yang tidak hanya mengolah pola-pola tradisi tetapi yang mampu mengembangkan pola tradisi.   The creation of percussion music “Ghumi Uttara” raises the idea of creation that was born from the author's personal experience in playing percussion which identifies Buleleng Regency. This work highlights the processing of the sekatian and lelongoran percussions in Buleleng Regency. The aim is to give a message to the public that the percussion of the Sekatian and the percussion of the Lelongoran are percussions that identify Buleleng Regency which must be preserved and disseminated widely. The method used in the process of creating the musical creation "Ghumi Uttara", is the Panca Sthiti Ngawi Sani creation method from I Wayan Dibia in his book The Art Creation Methodology, which consists of the Inspiration Stage (ngewirasa), the Exploration Stage (Ngawacak), the Conception Stage ( Ngarencana), the execution stage (Ngewangun) and the production stage (Ngebah) from the five methods used in the process of creating this work are able to produce a creation of percussion music using the media, said Gamelan Gong Kebyar.  Ghumi Uttara's work uses a tri angga structure, namely kawitan/prefix (part I), pengawak/content (part II), pengecet/closing (part III), each of which has a different atmosphere or description, part I introduces the instruments used, in part II it depicts the Sekatian percussion in part II there is also a sekatian percussion motif from the sekatian form of lelongoran and sekatian form of pressing, while in part III it depicts the lelongoran percussion in this part III there are three lelongoran motifs. The creation of the creation of "Ghumi Uttara" percussion is expected to provide motivation for the younger generation to create works that not only cultivate traditional patterns but who are able to develop traditional patterns.
Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Title: Ghumi Uttara: A New Music Creation | Ghumi Uttara: Sebuah Karya Musik Baru
Description:
Karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara mengangkat ide penciptaan yang lahir dari pengalaman pribadi penulis dalam memainkan tabuh-tabuh yang mengidentitaskan Kabupaten Buleleng.
Karya ini menonjolkan pengolahan dari tabuh sekatian dan tabuh lelongoran yang berada di Kabupaten Buleleng.
Adapun tujuannya untuk memberikan pesan bagi masyarakat bahwa tabuh sekatian dan tabuh lelongoran adalah tabuh yang mengidentitaskan Kabupaten Buleleng yang harus dilestarikan dan disebar luaskan.
Metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara”, adalah Metode Penciptaan Panca Sthiti Ngawi Sani dari I Wayan Dibia  dalam bukunya Metodologi Penciptaan Seni, yang terdiri dari Tahap Inspirasi (ngewirasa),  Tahap Esplorasi (Ngawacak), Tahap Konsepsi (Ngarencana), Tahap Eksekusi (Ngewangun) dan Tahap Produksi (Ngebah) dari kelima metode yang digunakan dalam proses penciptaan karya ini mampu menghasilkan sebuah karya musik tabuh kreasi yang menggunakan media ungkap Gamelan Gong Kebyar.
Karya Ghumi Uttara memakai struktur tri angga, yaitu kawitan/awalan (bagaian I), pengawak/isi (bagaian II), pengecet/penutup (bagaian III), yang disetiap bagian memiliki suasana atau penggambaran yang berbeda, bagian I mengenalkan intrumen yang digunakan, pada bagian II mengambarkan tabuh sekatian pada bagian II ini juga terdapat motif tabuh sekatian dari sekatian bentuk lelambatan dan sekatian bentuk pengecet, sedangkan pada bagian III mengambarkan tabuh lelongoran pada bagian III ini terdapat tiga motif lelongoran.
Terciptanya  karya musik tabuh kreasi “Ghumi Uttara ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi generasi muda untu berkarya yang tidak hanya mengolah pola-pola tradisi tetapi yang mampu mengembangkan pola tradisi.
  The creation of percussion music “Ghumi Uttara” raises the idea of creation that was born from the author's personal experience in playing percussion which identifies Buleleng Regency.
This work highlights the processing of the sekatian and lelongoran percussions in Buleleng Regency.
The aim is to give a message to the public that the percussion of the Sekatian and the percussion of the Lelongoran are percussions that identify Buleleng Regency which must be preserved and disseminated widely.
The method used in the process of creating the musical creation "Ghumi Uttara", is the Panca Sthiti Ngawi Sani creation method from I Wayan Dibia in his book The Art Creation Methodology, which consists of the Inspiration Stage (ngewirasa), the Exploration Stage (Ngawacak), the Conception Stage ( Ngarencana), the execution stage (Ngewangun) and the production stage (Ngebah) from the five methods used in the process of creating this work are able to produce a creation of percussion music using the media, said Gamelan Gong Kebyar.
  Ghumi Uttara's work uses a tri angga structure, namely kawitan/prefix (part I), pengawak/content (part II), pengecet/closing (part III), each of which has a different atmosphere or description, part I introduces the instruments used, in part II it depicts the Sekatian percussion in part II there is also a sekatian percussion motif from the sekatian form of lelongoran and sekatian form of pressing, while in part III it depicts the lelongoran percussion in this part III there are three lelongoran motifs.
The creation of the creation of "Ghumi Uttara" percussion is expected to provide motivation for the younger generation to create works that not only cultivate traditional patterns but who are able to develop traditional patterns.

Related Results

Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
Music Theraphy
Music Theraphy
Berbagai permasalahan dalam pelaksanaan layanan konseling dialami konselor sekolah. Konselor belum mampu menerapkan konseling yang memiliki dampak yang signifikan bagi perubahan ti...
POWER PEREMPUAN DALAM TRADISI MUSIK BECANANG DI BENER MERIAH
POWER PEREMPUAN DALAM TRADISI MUSIK BECANANG DI BENER MERIAH
This study aims to identify and examine the existence and role of women in the bronze musical tradition: becanang in Bener Meriah. The extent of the role of men in Aceh, including ...
GITAR TUNGGAL LAMPUNG PESISIR: SEBUAH IDENTITAS DAN LANSKAP PENDIDIKAN MUSIK INFORMAL YANG BERBASIS KELOKALAN
GITAR TUNGGAL LAMPUNG PESISIR: SEBUAH IDENTITAS DAN LANSKAP PENDIDIKAN MUSIK INFORMAL YANG BERBASIS KELOKALAN
Gitar tunggal Lampung terdiri atas dua gaya, yakni pesisir dan pepadun. Diantara kedua gaya tersebut, peneliti melihat fakta-fakta unik yang terjadi pada gitar tunggal bergaya pesi...
FILSAFAT MUSIK DAN POSISINYA DALAM HINDUISME
FILSAFAT MUSIK DAN POSISINYA DALAM HINDUISME
Musik tidak terpisahkan dari kehidupan manusia sejak zaman kuno hingga sekarang baik itu sebagai identitas diri, identitas kelompok sosial, termasuk juga dalam beragama Hindu, meng...
GEDUNG MUSIK BANDA ACEH
GEDUNG MUSIK BANDA ACEH
Musik adalah bahasa manusia, karena dengan musik kita dapat mengekspresikan kemauan, atau isi hati kita tanpa harus mengerti terlebih dahulu bahasa yang dipakai oleh mereka yang me...
Musik Klasik dalam Paradigma Kontemporer: Penyelidikan tentang Apresiasi dan Pendengar
Musik Klasik dalam Paradigma Kontemporer: Penyelidikan tentang Apresiasi dan Pendengar
Penelitian ini bertujuan untuk melacak pergeseran apresiasi musik klasik pada konteks era kontemporer, selain itu juga menganalisis persentase pendengar musik klasik dalam menghada...
ESTETIKA MUSIK PADAGENERASI MILENIAL
ESTETIKA MUSIK PADAGENERASI MILENIAL
Musik saat ini semakin banyak memiliki variasi-variasi trendbaru. Masa kepopulerannya kerap berganti-ganti dengan tujuan mengikuti selera musik yang berkembang...

Back to Top