Javascript must be enabled to continue!
KESIAPSIAGAAN ANAK DALAM MENINGKATKAN RESILIENSI TERHADAP BENCANA
View through CrossRef
Latar belakang : Bencana merupakan suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kerugian baik harta benda, nyawa dan lingkungan. Faktor alam, non alam, dan faktor manusia merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bencana. Secara geologis dan hidrologis Indonesia rawan terhadap terjadinya bencana. Selama tahun 2021, terhitung jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah 3058. Adapun rincian bencana tersebut adalah banjir 1288 kejadian, cuaca yang ekstrim 791 kejadian, tanah longosor 623 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (kahutla) 265 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 44 kejadian, gempa bumi 31 kejadian, kekeringan 15 kejadian, dan erupsi gunung berapi 1 kejadian. Akibat dari bencana alam tersebut 141.795 rumah warga, 3.699 fasilitas publik, 509 kantor, dan 438 jembatan mengalami kerusakan. Bencana terjadi tanpa memilah siapa korbannya, bisa terjadi pada siapa saja. Kerugian baik fisik maupun non fisik akibat dari bencana sering menjadi besar dikarenakan masyarakat pada keadaan belum siap, sehingga untuk mengurangi dampak tersebut harus dilakukan managemen yang baik. Permasalahan yang diakibatkan bencana sangat kompleks dan memerlukan perencanaan matang dan terarah. Salah satu kelompok usia yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami dampak bencana adalah anak-anak, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan anak-anak untuk menghadapi bencana. Dengan kesiapsiagaan anak yang baik, harapannya dapat meningkatkan resiliensi terhadap bencana.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesiapsiagaan anak dalam meningkatkan resiliensi terhadap bencana. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden di wilayah Kabupaten Kediri Jawa Timur Indonesia. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan anak dalam menghadapai bencana sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebesar 73% dan resiliensi terhadap bencana gunung meletus dalam kategori cukup yaitu sebesar 67%. Analisis dengan uji Spearman Rho didapatkan nilai signifikansi 0.002 yang berarti terdapat hubungan antara kesiapsiagaan anak dengan peningkatan resiliensi terhadap bencana. Simpulan dan saran : Terdapat hubungan antara kesiapsiagaan anak dengan peningkatan resiliensi terhadap bencana. Kesiapsiagaan anak merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan resiliensi terhadap bencana. Saran untuk anak diperlukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan tentang kebencanaan sebagai upaya meningkatkan resiliensi dalam menghadapi bencana.
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
Title: KESIAPSIAGAAN ANAK DALAM MENINGKATKAN RESILIENSI TERHADAP BENCANA
Description:
Latar belakang : Bencana merupakan suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kerugian baik harta benda, nyawa dan lingkungan.
Faktor alam, non alam, dan faktor manusia merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bencana.
Secara geologis dan hidrologis Indonesia rawan terhadap terjadinya bencana.
Selama tahun 2021, terhitung jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah 3058.
Adapun rincian bencana tersebut adalah banjir 1288 kejadian, cuaca yang ekstrim 791 kejadian, tanah longosor 623 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (kahutla) 265 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 44 kejadian, gempa bumi 31 kejadian, kekeringan 15 kejadian, dan erupsi gunung berapi 1 kejadian.
Akibat dari bencana alam tersebut 141.
795 rumah warga, 3.
699 fasilitas publik, 509 kantor, dan 438 jembatan mengalami kerusakan.
Bencana terjadi tanpa memilah siapa korbannya, bisa terjadi pada siapa saja.
Kerugian baik fisik maupun non fisik akibat dari bencana sering menjadi besar dikarenakan masyarakat pada keadaan belum siap, sehingga untuk mengurangi dampak tersebut harus dilakukan managemen yang baik.
Permasalahan yang diakibatkan bencana sangat kompleks dan memerlukan perencanaan matang dan terarah.
Salah satu kelompok usia yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami dampak bencana adalah anak-anak, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan anak-anak untuk menghadapi bencana.
Dengan kesiapsiagaan anak yang baik, harapannya dapat meningkatkan resiliensi terhadap bencana.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesiapsiagaan anak dalam meningkatkan resiliensi terhadap bencana.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden di wilayah Kabupaten Kediri Jawa Timur Indonesia.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan anak dalam menghadapai bencana sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebesar 73% dan resiliensi terhadap bencana gunung meletus dalam kategori cukup yaitu sebesar 67%.
Analisis dengan uji Spearman Rho didapatkan nilai signifikansi 0.
002 yang berarti terdapat hubungan antara kesiapsiagaan anak dengan peningkatan resiliensi terhadap bencana.
Simpulan dan saran : Terdapat hubungan antara kesiapsiagaan anak dengan peningkatan resiliensi terhadap bencana.
Kesiapsiagaan anak merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan resiliensi terhadap bencana.
Saran untuk anak diperlukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan tentang kebencanaan sebagai upaya meningkatkan resiliensi dalam menghadapi bencana.
Related Results
Meningkatkan Pengetahuan Kesiapsiagaan Bencana Pada Warga di Dusun Beruk Jatiyoso Karanganyar
Meningkatkan Pengetahuan Kesiapsiagaan Bencana Pada Warga di Dusun Beruk Jatiyoso Karanganyar
Kesiapsiagaan bencana berfungsi untuk memicu agar masyarakat lebih paham tentang bencana dan masyarakat bisa menciptakan ketangguhan dan kesiapsiagaan bencana. Permasalahan mitra b...
SOSIALISASI TENTANG KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT MENGHADAPI BENCANA KEBAKARAN DI RT 001/07 KELURAHAN PAPANGGO JAKARTA UTARA.
SOSIALISASI TENTANG KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT MENGHADAPI BENCANA KEBAKARAN DI RT 001/07 KELURAHAN PAPANGGO JAKARTA UTARA.
Latar Belakang: Pengabdian kepada masyarakat ini dengan judul Sosialisasi tentang kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana kebakaran di rt 001/07 kelurahan papanggo jakarta utar...
Determinan Demografi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Kesiapsiagaan Gempa Bumi
Determinan Demografi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Kesiapsiagaan Gempa Bumi
Kesiapsiagaan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Kesia...
Upaya Guru dalam Meningkatkan Minat Membaca Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di BMBA AIUEO Batujajar Bandung
Upaya Guru dalam Meningkatkan Minat Membaca Anak pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di BMBA AIUEO Batujajar Bandung
Abstract. Based on the PISA report which was just released 2019, Indonesia's reading score is ranked 72 out of 77 countries (liputan6.com,2019). This condition shows the poor inter...
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Pulau Pramuka adalah salah satu pulau di Kepulauan Seribu, yang terletak di sebelah utara Jakarta, Kepulauan Seribu terdiri dari sekitar 110 pulau, Pulau Pramuka adalah pulau terbe...
KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT KAWASAN PERKOTAAN TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI
KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT KAWASAN PERKOTAAN TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI
Kawasan Perkotaan Takengon merupakan pusat kegiatan wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang tidak lepas dari ancaman gempa bumi, sehingga memerlukan upaya penanggulangan, penelitian ini...
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan relawan kebencanaan sebagai salah satu program kerja KKN Desa Tanjung Luar sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terlaksana dengan baik berkat kerjasam...

