Javascript must be enabled to continue!
MERDEKA BELAJAR MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM PANDANGAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME
View through CrossRef
Peserta didik pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah adalah anak berusia 06-12 tahun atau dalam kajian psikologi biasa disebut anak usia sekolah dasar. Pada tahap ini mereka mempunyai karakteristik perkembengannya tersendiri, secara umum mereka dalam bertindak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekternal, salah satunya adalah proses pendidikan di sekolah. Saat ini, pemerintah telah merancang kurikulum pendidikan terbaru untuk segera bisa diimplementasikan di sekolah-sekolah yaitu kurikulum merdeka. Dalam kurikulum merdeka terdapat konsep merdeka belajar. Makna merdeka belajar dalam proses pembelajaran yaitu merdeka berpikir, merdeka berinovasi, merdeka belajar mandiri dan kreatif serta merdeka untuk kebahagiaan, di mana dengan semua itu, peserta didik dapat belajar dan mengembangkan dirinya, membentuk sikap peduli terhadap lingkungan di mana ia belajar. Lantas, dengan karakteristik anak usia sekolah dasar tepatkah konsep merdeka belajar untuk mereka? Oleh karena keingintahuan yang demikian, maka perlu dilakukan penelitian menganai permasalahan tersebut. Dalam hal ini, penulis mengguankan kacamata eksistensialisme. Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menganggap bahwa individu bertanggung jawab akan pengetahuannya sendiri. Meteode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yaitu dengan searching buku-buku dan artikel-artikel yang membahas fokus penelitian tentang merdeka belajar, karakterisrik anak usia sekolah dasar dan filsafat eksistensialisme untuk kemudian disusun dan melakukan analisis. Adapun hasil dari penbelitan adalah anak usia sekolah dasar dengan karakteristiknya masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksernalnya. Maka, konsep belajar merdeka yang dalam pembelajaran menekankan pada kebebasan berfikir, berinovasi, belajar dan meraih kebahagiaan akan bisa diimplementasikan bergantung pada gurunya karena pada anak usia ini masih belum memahami eksistensi dan esensi dirinya sendiri. Adapun rekomendasi bagi guru pada jenjang ini adalah memahami konsep merdeka belajar tidak benar-benar membebaskan peserta didik untuk memilih apa yang mereka ingin dalam belajar, akan tetapi tetap harus diarahkan dan dibimbing.
Title: MERDEKA BELAJAR MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM PANDANGAN FILSAFAT EKSISTENSIALISME
Description:
Peserta didik pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah adalah anak berusia 06-12 tahun atau dalam kajian psikologi biasa disebut anak usia sekolah dasar.
Pada tahap ini mereka mempunyai karakteristik perkembengannya tersendiri, secara umum mereka dalam bertindak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekternal, salah satunya adalah proses pendidikan di sekolah.
Saat ini, pemerintah telah merancang kurikulum pendidikan terbaru untuk segera bisa diimplementasikan di sekolah-sekolah yaitu kurikulum merdeka.
Dalam kurikulum merdeka terdapat konsep merdeka belajar.
Makna merdeka belajar dalam proses pembelajaran yaitu merdeka berpikir, merdeka berinovasi, merdeka belajar mandiri dan kreatif serta merdeka untuk kebahagiaan, di mana dengan semua itu, peserta didik dapat belajar dan mengembangkan dirinya, membentuk sikap peduli terhadap lingkungan di mana ia belajar.
Lantas, dengan karakteristik anak usia sekolah dasar tepatkah konsep merdeka belajar untuk mereka? Oleh karena keingintahuan yang demikian, maka perlu dilakukan penelitian menganai permasalahan tersebut.
Dalam hal ini, penulis mengguankan kacamata eksistensialisme.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menganggap bahwa individu bertanggung jawab akan pengetahuannya sendiri.
Meteode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yaitu dengan searching buku-buku dan artikel-artikel yang membahas fokus penelitian tentang merdeka belajar, karakterisrik anak usia sekolah dasar dan filsafat eksistensialisme untuk kemudian disusun dan melakukan analisis.
Adapun hasil dari penbelitan adalah anak usia sekolah dasar dengan karakteristiknya masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksernalnya.
Maka, konsep belajar merdeka yang dalam pembelajaran menekankan pada kebebasan berfikir, berinovasi, belajar dan meraih kebahagiaan akan bisa diimplementasikan bergantung pada gurunya karena pada anak usia ini masih belum memahami eksistensi dan esensi dirinya sendiri.
Adapun rekomendasi bagi guru pada jenjang ini adalah memahami konsep merdeka belajar tidak benar-benar membebaskan peserta didik untuk memilih apa yang mereka ingin dalam belajar, akan tetapi tetap harus diarahkan dan dibimbing.
Related Results
Pengaruh Apresiasi dan Motivasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kelas Rendah
Pengaruh Apresiasi dan Motivasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kelas Rendah
Minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan belajar siswa di madrasah ibtidaiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh apresiasi dan ...
PENERAPAN METODE WAFA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN DI MI MIFTAHUL HUDA
PENERAPAN METODE WAFA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN DI MI MIFTAHUL HUDA
This research article was conducted to find out the extent of the effectiveness of the application of the wafa method, namely the method using the right brain in improving the abil...
Implementasi Budaya Madrasah Dalam Perspektif Pendidikan Karakter
Implementasi Budaya Madrasah Dalam Perspektif Pendidikan Karakter
This research examines the implementation of madrasah culture from the perspective of character education in Madrasah through structural and cultural approaches. This study aims to...
Filsafat Humanisme Dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa Terhadap Konsep Merdeka Belajar: Kajian Teori
Filsafat Humanisme Dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa Terhadap Konsep Merdeka Belajar: Kajian Teori
Humanisme adalah salah satu filsafat dalam pendidikan yang menganggap manusia sebagai makhluk yang penuh kreativitas dan kebahagiaan. Pendidikan dengan memprioritaskan filsafat hum...
Manajemen Supervisi Dan Evaluasi Pengawas Madrasah Di Kementerian Agama Kabupaten Buol
Manajemen Supervisi Dan Evaluasi Pengawas Madrasah Di Kementerian Agama Kabupaten Buol
Manajemen Supervisi Dan Evaluasi Pengawas Madrasah Di Kementerian Agama Kabupaten Buol, dalam hal ini kami mengangkat judul tersebut guna mengetahui bagaimana manajemen supervisi d...
Arah dan Orientasi Filsafat Ilmu di Indonesia
Arah dan Orientasi Filsafat Ilmu di Indonesia
Filsafat Ilmu merupakan salah satu cabang khusus dari Filsafat yang memiliki kedudukan dan posisi yang strategis dalam membangun paradigma ilmu di Indonesia. Penelitian ini akan me...
KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU DALAM MUTU PENDIDIKAN
KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA MADRASAH DAN KINERJA MENGAJAR GURU DALAM MUTU PENDIDIKAN
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusikemampuan manajerialkepala madrasah dan kinerja mengajar guru terhadap mutu Madrasah Aliyah swasta. Pendekatan yang digu...
Analisis Pengaruh Filsafat Eksistensialisme Dalam Kurikulum Pendidikan Modern
Analisis Pengaruh Filsafat Eksistensialisme Dalam Kurikulum Pendidikan Modern
Filsafat eksistensialisme menekankan kebebasan, tanggung jawab pribadi, dan keaslian, yang memainkan peran penting dalam mendefinisikan pendidikan modern. Tujuan penelitian ini un...

