Javascript must be enabled to continue!
Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Tahura Ir. H. Djuanda Berdasarkan Tingkat Erosi Tanah
View through CrossRef
Abstract. Ir. H. Djuanda Forest Park (Tahura) in Bandung City, West Java Province, faces a high risk of soil erosion due to steep topography, the presence of the active Lembang Fault, and land cover changes from forest to settlements and plantations. These conditions potentially threaten the conservation function of the area, slope stability, and the sustainability of water resources. This study aims to analyze soil erosion levels and to formulate land use directions based on erosion hazard levels. The research employs a quantitative spatial approach using the Universal Soil Loss Equation (USLE), which analyzes rainfall erosivity (R), soil erodibility (K), slope length and steepness (LS), as well as crop management and conservation practice factors (CP). Primary data were obtained through field observations, GPS measurements, and interviews, while secondary data were derived from SPOT 6/7 imagery, soil maps, and rainfall data for the period 2015–2024. Spatial analysis was conducted using a Geographic Information System through an overlay process to classify erosion hazard levels (EHL) for each soil mapping unit. The results indicate that most areas of the forest park exhibit low to moderate erosion hazard levels in the forested central and southern parts. In contrast, high to very high erosion hazard levels are found on steep slopes in the northern and eastern parts, particularly within plantation enclave areas. Land use directions should therefore be developed based on area-specific erosion hazard levels.
Abstrak. Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, menghadapi risiko erosi tanah tinggi akibat topografi curam, keberadaan Sesar Lembang yang aktif, serta perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi permukiman dan perkebunan. Kondisi tersebut berpotensi mengancam fungsi konservasi kawasan, kestabilan lereng, dan keberlanjutan sumber daya air. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat erosi tanah dan menyusun arahan pemanfaatan lahan berdasarkan tingkat bahaya erosi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif spasial dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) yang menganalisis faktor rainfall erosivity (R), erodibilitas tanah (K), panjang dan kemiringan lereng (LS), serta faktor pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi (CP). Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran GPS, dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari citra SPOT 6/7, peta tanah, serta data curah hujan periode 2015–2024. Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis melalui proses overlay untuk mengklasifikasikan tingkat bahaya erosi (TBE) pada setiap satuan peta tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan Tahura memiliki tingkat bahaya erosi rendah hingga sedang pada area berhutan di bagian tengah dan selatan. Sebaliknya, tingkat bahaya erosi berat hingga sangat berat ditemukan pada lereng curam bagian utara dan timur, terutama pada kawasan enclave perkebunan. Arahan pemanfaatan lahan disusun berbasis tingkat bahaya erosi kawasan.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Tahura Ir. H. Djuanda Berdasarkan Tingkat Erosi Tanah
Description:
Abstract.
Ir.
H.
Djuanda Forest Park (Tahura) in Bandung City, West Java Province, faces a high risk of soil erosion due to steep topography, the presence of the active Lembang Fault, and land cover changes from forest to settlements and plantations.
These conditions potentially threaten the conservation function of the area, slope stability, and the sustainability of water resources.
This study aims to analyze soil erosion levels and to formulate land use directions based on erosion hazard levels.
The research employs a quantitative spatial approach using the Universal Soil Loss Equation (USLE), which analyzes rainfall erosivity (R), soil erodibility (K), slope length and steepness (LS), as well as crop management and conservation practice factors (CP).
Primary data were obtained through field observations, GPS measurements, and interviews, while secondary data were derived from SPOT 6/7 imagery, soil maps, and rainfall data for the period 2015–2024.
Spatial analysis was conducted using a Geographic Information System through an overlay process to classify erosion hazard levels (EHL) for each soil mapping unit.
The results indicate that most areas of the forest park exhibit low to moderate erosion hazard levels in the forested central and southern parts.
In contrast, high to very high erosion hazard levels are found on steep slopes in the northern and eastern parts, particularly within plantation enclave areas.
Land use directions should therefore be developed based on area-specific erosion hazard levels.
Abstrak.
Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.
H.
Djuanda di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, menghadapi risiko erosi tanah tinggi akibat topografi curam, keberadaan Sesar Lembang yang aktif, serta perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi permukiman dan perkebunan.
Kondisi tersebut berpotensi mengancam fungsi konservasi kawasan, kestabilan lereng, dan keberlanjutan sumber daya air.
Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat erosi tanah dan menyusun arahan pemanfaatan lahan berdasarkan tingkat bahaya erosi.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif spasial dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) yang menganalisis faktor rainfall erosivity (R), erodibilitas tanah (K), panjang dan kemiringan lereng (LS), serta faktor pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi (CP).
Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, pengukuran GPS, dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari citra SPOT 6/7, peta tanah, serta data curah hujan periode 2015–2024.
Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis melalui proses overlay untuk mengklasifikasikan tingkat bahaya erosi (TBE) pada setiap satuan peta tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan Tahura memiliki tingkat bahaya erosi rendah hingga sedang pada area berhutan di bagian tengah dan selatan.
Sebaliknya, tingkat bahaya erosi berat hingga sangat berat ditemukan pada lereng curam bagian utara dan timur, terutama pada kawasan enclave perkebunan.
Arahan pemanfaatan lahan disusun berbasis tingkat bahaya erosi kawasan.
Related Results
ANALISIS SPASIAL TINGKAT EROSI TANAH DI DAS CILIWUNG HULU
ANALISIS SPASIAL TINGKAT EROSI TANAH DI DAS CILIWUNG HULU
Berkurangnya luasan kawasan hutan yang dijadikan lahan pertanian dan pemukiman di bagian Hulu DAS menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya alam dan menurunkan fungsi-fungsi hidr...
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. ...
Pengaruh Faktor Panjang Kelerengan Terhadap Penentuan Awal Erosi Lahan
Pengaruh Faktor Panjang Kelerengan Terhadap Penentuan Awal Erosi Lahan
ABSTRAKSalah satu faktor penentu dalam analisis erosi lahan adalah faktor panjang kelerengan lahan daerah aliran sungai. Perubahan panjang kelerengan, akan memberikan dampak terhad...
Prediksi Tingkat Bahaya Erosi di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar
Prediksi Tingkat Bahaya Erosi di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian menggunakan metode survei yang didasark...
Prediksi Potensi Erosi Kawasan Taman Hutan Raya Murhum Kota Kendari
Prediksi Potensi Erosi Kawasan Taman Hutan Raya Murhum Kota Kendari
Penelitian ini bertujuan untuk mevaluasi potensi erosi di Kawasan Taman Hutan Raya Murhum Kota Kendari. Metode yang digunakan adalah USLE dan menentukan arahan penggunaan lahan pad...
PERHITUNGAN TINGKAT EROSI KUALITATIF DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU
PERHITUNGAN TINGKAT EROSI KUALITATIF DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU
<p>Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) memiliki luas 50.273,3 ha dikelilingi 4 kabupaten di Jawa Timur : Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan yang merupakan d...
Analisis Kekritisan Lahan Pada Fungsi Kawasan Konservasi DAS Citarum Dengan Software Arcgis
Analisis Kekritisan Lahan Pada Fungsi Kawasan Konservasi DAS Citarum Dengan Software Arcgis
Penelitian dilakukan pada Kawasan Konservasi di wilayah DAS Citarum salah satu DAS prioritas di Indonesia dan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Limabelas Kawa...
Pemodelan Spasial Erosi Kualitatif Berbasis Raster Studi Kasus di DAS Serang, Kabupaten Kulonprogo
Pemodelan Spasial Erosi Kualitatif Berbasis Raster Studi Kasus di DAS Serang, Kabupaten Kulonprogo
Erosi merupakan salah satu fenomena alam yang banyak dikaji karena melibatkan banyak faktor yaitu vegetasi, tanah, iklim, topografi dan manusia. Kompleksitas faktor-faktor yang me...

