Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kesantunan Wanita Suku Sasak dalam Merespons Pujian Bahasa Sasak

View through CrossRef
Dalam kehidupan sehari-hari, wanita Sasak lebih sering mendapatkan pujian dibandingkan laki-laki. Penampilan fisik/dandanan busana, keahlian/kepintaran, serta prestasi menjadi keunggulan yang umumnya mendatangkan pujian kepada wanita. Namun, ketika mendapatkan pujian tersebut, wanita Sasak terbentur oleh batas budaya (gender) yang menempatkan mereka pada posisi lebih inferior dibandingkan laki-laki. Ini berpengaruh pada respons pujian yang muncul oleh wanita Sasak. Tuturan-tuturan sebagai respons pujian yang digunakan merupakan wujud negosiasi budaya yang dilakukan oleh wanita Sasak dalam berinteraksi. Tuturan ini sarat strategi kesantunan sehingga menarik untuk dikaji secara lebih komprehensif dengan menggunakan teori kesantunan dan pragmatik. Makalah ini membahas ihwal kesantunan wanita suku Sasak dalam merespons pujian. Tujuan tulisan ini adalah untuk melihat bentuk respons pujian dan prinsip kesantunan dalam respons yang digunakan wanita suku Sasak tersebut. Penghimpunan data menggunakan instrumen discourse completing test (DCT) sejumlah 20 pertanyaan yang diajukan kepada 30 orang wanita suku Sasak dari rentang usia 17-40 tahun. Data yang terhimpun dianalisis dengan menggunakan Teori Respons Pujian yang ditawarkan oleh Herbert (1990) dan Prinsip Kesantunan Leech (1983). Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa wanita suku Sasak merespons pujian dalam bentuk tuturan penolakan (reassignment, scale down, question, disagreement, qualification, dan request interpretation), penerimaan (appreciation token, comment acceptance, praise upgrade, comment history, dan return), dan gabungan antara penolakan dan penerimaan. Sementara itu, prinsip kesantunan yang diterapkan dalam respons tersebut menggunakan maksim-maksim Leech, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian.
Center for Open Science
Title: Kesantunan Wanita Suku Sasak dalam Merespons Pujian Bahasa Sasak
Description:
Dalam kehidupan sehari-hari, wanita Sasak lebih sering mendapatkan pujian dibandingkan laki-laki.
Penampilan fisik/dandanan busana, keahlian/kepintaran, serta prestasi menjadi keunggulan yang umumnya mendatangkan pujian kepada wanita.
Namun, ketika mendapatkan pujian tersebut, wanita Sasak terbentur oleh batas budaya (gender) yang menempatkan mereka pada posisi lebih inferior dibandingkan laki-laki.
Ini berpengaruh pada respons pujian yang muncul oleh wanita Sasak.
Tuturan-tuturan sebagai respons pujian yang digunakan merupakan wujud negosiasi budaya yang dilakukan oleh wanita Sasak dalam berinteraksi.
Tuturan ini sarat strategi kesantunan sehingga menarik untuk dikaji secara lebih komprehensif dengan menggunakan teori kesantunan dan pragmatik.
Makalah ini membahas ihwal kesantunan wanita suku Sasak dalam merespons pujian.
Tujuan tulisan ini adalah untuk melihat bentuk respons pujian dan prinsip kesantunan dalam respons yang digunakan wanita suku Sasak tersebut.
Penghimpunan data menggunakan instrumen discourse completing test (DCT) sejumlah 20 pertanyaan yang diajukan kepada 30 orang wanita suku Sasak dari rentang usia 17-40 tahun.
Data yang terhimpun dianalisis dengan menggunakan Teori Respons Pujian yang ditawarkan oleh Herbert (1990) dan Prinsip Kesantunan Leech (1983).
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa wanita suku Sasak merespons pujian dalam bentuk tuturan penolakan (reassignment, scale down, question, disagreement, qualification, dan request interpretation), penerimaan (appreciation token, comment acceptance, praise upgrade, comment history, dan return), dan gabungan antara penolakan dan penerimaan.
Sementara itu, prinsip kesantunan yang diterapkan dalam respons tersebut menggunakan maksim-maksim Leech, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian.

Related Results

SPEECH LEVEL OF SASAK LANGUAGE AT RARANG TENGAH VILLAGE
SPEECH LEVEL OF SASAK LANGUAGE AT RARANG TENGAH VILLAGE
This research is intended to describe the forms of Sasak language speech levels, with sub-focus, the domains of the Sasak Alus language (Base Alus) use in the Rarang Tengah communi...
LOKALITAS SASAK DALAM NOVEL GURU DANE DAN GURU ONYEH KARYA SALMAN FARIS
LOKALITAS SASAK DALAM NOVEL GURU DANE DAN GURU ONYEH KARYA SALMAN FARIS
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud lokalitas Sasak dalam novel Guru Dane dan Guru Onyeh karya Salman Faris, dan (2) fungsi lokalitas Sasak dalam membangun cer...
Perwujudan budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris
Perwujudan budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perwujudan budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode ...
REDUPLIKASI BAHASA SASAK DIALEK A-A
REDUPLIKASI BAHASA SASAK DIALEK A-A
AbstrakArtikel ini akan membahas reduplikasi bahasa Sasak di Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur dengan teori reduplikasi terdistribusi dari Framton. Dengan teori ini, penulis berh...
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Bahasa merupakan aspek terpenting dalam hidup setiap individu. Bahasa adalah sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan m...
PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA SASAK DI SEKOLAH (Hambatan dan Alternatif Pemecahannya)
PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA SASAK DI SEKOLAH (Hambatan dan Alternatif Pemecahannya)
Di dunia saat ini, terdapat tidak kurang dari 6000 bahasa. Separuh dari bahasa-bahasa tersebut terancam punah. Dari jumlah 6000 bahasa tersebut, sebanyak 746 bahasa berada di Indon...

Back to Top