Javascript must be enabled to continue!
PENELUSURAN POA ISLAMISASI DI INDONESIA
View through CrossRef
Jika ada pihak yang melontarkan klaim, bahwa terdapat Islam Historis di Indonesia, maka kemungkinan besar akan muncul banyak protes. Pasti, jika satu kebudayaan Islam disebut sebagai historis, maka ia akan menafikan historisitas keberislaman ‘yang lain’. Apalagi dalam pluralitas keberislaman di tanah air, yang memang sejak awal islamisasi telah menunjukkan perbedaan, baik kultur geografi Nusantara maupun daerah ‘luar’ dimana Islam datang untuk melakukan konversi. Hanya saja, jika kita percaya akan adanya local genius, atau cultural core (inti pola kebudayaan) di sebuah masyarakat, maka pastilah terdapat satu ‘ruh’ kebudayaan yang menjadi kesatuan inti dari semua pluralitas tersebut.
Dari sinilah penggalian Islam Historis di Indonesia menjadi urgen. Kebutuhan ini berangkat dari satu postulat, bahwa keindonesiaan Islam kita telahlamamengalami proses dehistorisasi. Sebuah proses ketercerabutan akar baik kesejarahan, otentisitas kebudayaan, maupun genealogi keilmuan, yang membuat Keberislaman kita mengalami ‘gagap’ dalam menanggapi berbagai gelombang permasalahan yang datang dari luar. Dehistorisasi ini, seperti kita tahu merujuk pada dua gelombang islamisasi sejak abad ke-19 yang menemu ruang pada gerak Wahabisasi dan modernisasi. Ya, memang problematik, sebab Wahabisme sebagai klaimitas pemurnian Islam tentu memiliki ‘niat suci’ tersendiri, yakni pembersihan normativisme Islam dari berbagai laku akulturatif dengan kebudayaan lokal yang memang sering berasal dari peradaban pra-Islam. Sementara modernisasi, yang mengacu pada usaha rasionalisasi pemikiran keagamaan, bahkan mengklaim diri sebagai usaha menuju Islam Indonesia yang lebih maju. Artinya, jika Islam di Indonesia ingin menemukan bentuk keindonesiaan, maka ia harus melakukan rasionalisasi dari cara berpikir serba klenik, atau meminjam istilah al-Jabiri, ‘rasionalitas yang irrasional’, guna menemukan modernitas Indonesia. Kesejarahan Indonesia kemudian dipangkas, hanya pasca lahirnya negara-bangsa, sehingga yang dibutuhkan kemudian modernisasi. Sementara kesejarahan Indonesia yang berangkat dari pergulatan awal (islamisasi), bahkan dilihat sebagai ‘remah-remah’(remnants) masa lalu yang harus dibabat, demi kecerlangan masa depan.
Title: PENELUSURAN POA ISLAMISASI DI INDONESIA
Description:
Jika ada pihak yang melontarkan klaim, bahwa terdapat Islam Historis di Indonesia, maka kemungkinan besar akan muncul banyak protes.
Pasti, jika satu kebudayaan Islam disebut sebagai historis, maka ia akan menafikan historisitas keberislaman ‘yang lain’.
Apalagi dalam pluralitas keberislaman di tanah air, yang memang sejak awal islamisasi telah menunjukkan perbedaan, baik kultur geografi Nusantara maupun daerah ‘luar’ dimana Islam datang untuk melakukan konversi.
Hanya saja, jika kita percaya akan adanya local genius, atau cultural core (inti pola kebudayaan) di sebuah masyarakat, maka pastilah terdapat satu ‘ruh’ kebudayaan yang menjadi kesatuan inti dari semua pluralitas tersebut.
Dari sinilah penggalian Islam Historis di Indonesia menjadi urgen.
Kebutuhan ini berangkat dari satu postulat, bahwa keindonesiaan Islam kita telahlamamengalami proses dehistorisasi.
Sebuah proses ketercerabutan akar baik kesejarahan, otentisitas kebudayaan, maupun genealogi keilmuan, yang membuat Keberislaman kita mengalami ‘gagap’ dalam menanggapi berbagai gelombang permasalahan yang datang dari luar.
Dehistorisasi ini, seperti kita tahu merujuk pada dua gelombang islamisasi sejak abad ke-19 yang menemu ruang pada gerak Wahabisasi dan modernisasi.
Ya, memang problematik, sebab Wahabisme sebagai klaimitas pemurnian Islam tentu memiliki ‘niat suci’ tersendiri, yakni pembersihan normativisme Islam dari berbagai laku akulturatif dengan kebudayaan lokal yang memang sering berasal dari peradaban pra-Islam.
Sementara modernisasi, yang mengacu pada usaha rasionalisasi pemikiran keagamaan, bahkan mengklaim diri sebagai usaha menuju Islam Indonesia yang lebih maju.
Artinya, jika Islam di Indonesia ingin menemukan bentuk keindonesiaan, maka ia harus melakukan rasionalisasi dari cara berpikir serba klenik, atau meminjam istilah al-Jabiri, ‘rasionalitas yang irrasional’, guna menemukan modernitas Indonesia.
Kesejarahan Indonesia kemudian dipangkas, hanya pasca lahirnya negara-bangsa, sehingga yang dibutuhkan kemudian modernisasi.
Sementara kesejarahan Indonesia yang berangkat dari pergulatan awal (islamisasi), bahkan dilihat sebagai ‘remah-remah’(remnants) masa lalu yang harus dibabat, demi kecerlangan masa depan.
Related Results
Phylogenetic relationships in subtribe Poinae (Poaceae, Poeae) based on nuclear ITS and plastidtrnT–trnL–trnF sequencesThis paper is one of a selection of papers published in the Special Issue on Systematics Research.
Phylogenetic relationships in subtribe Poinae (Poaceae, Poeae) based on nuclear ITS and plastidtrnT–trnL–trnF sequencesThis paper is one of a selection of papers published in the Special Issue on Systematics Research.
The worldwide temperate subtribe Poinae comprises the largest grass genus, Poa (500+ species), and multiple additional small genera. We explore generic boundaries and relationships...
Islamisasi Penulisan Sejarah: Survey Gagasan Hamka, Syed Naquib Al-Attas, dan Ahmad Mansur Suryanegara
Islamisasi Penulisan Sejarah: Survey Gagasan Hamka, Syed Naquib Al-Attas, dan Ahmad Mansur Suryanegara
<p>Semenjak ada usaha untuk menuliskan sejarah Indonesia setelah Indonesia merdeka sebagai upaya untuk mendefinisikan bentuk “Indonesia” sebagai sebagai sebuah bangsa dan kom...
Menelusuri Literatur Akademik Secara Online Dengan Cepat dan Tepat (Peningkatan Kemampuan Penelusuran Literatur Akademik Secara Online Bagi Mahasiswa OMK Paroki Kristus Terang Dunia Waena)
Menelusuri Literatur Akademik Secara Online Dengan Cepat dan Tepat (Peningkatan Kemampuan Penelusuran Literatur Akademik Secara Online Bagi Mahasiswa OMK Paroki Kristus Terang Dunia Waena)
Sebagian mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam komunitas Orang Muda Khatolik (OMK) Paroki Kristus Terang Dunia Waena (KTDW) masih menggunakan literatur buku klasik dalam membuat...
TRANSFORMASI BUDAYA NUSANTARA DALAM PROSES ISLAMISASI DI INDONESIA
TRANSFORMASI BUDAYA NUSANTARA DALAM PROSES ISLAMISASI DI INDONESIA
Abstract
Penelitian ini mengkaji transformasi budaya Nusantara dalam proses Islamisasi di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini dilakukan dengan mengambil subje...
The Role of Posterior Pallial Amygdala in Mediating Motor Behaviors in Pigeons
The Role of Posterior Pallial Amygdala in Mediating Motor Behaviors in Pigeons
Abstract
The posterior pallial amygdala (PoA) is located on the basolateral caudal telencephalon, including the basal division of PoA (PoAb) and the compact division of PoA...
The Role of Posterior Pallial Amygdala in Mediating Motor Behavior in Pigeons
The Role of Posterior Pallial Amygdala in Mediating Motor Behavior in Pigeons
Abstract
The posterior pallial amygdala (PoA) is located on the basolateral caudal telencephalon, including the basal division of PoA (PoAb) and the compact division of PoA...
The effect of herbicides and surfactants on turf grasses and annual poa
The effect of herbicides and surfactants on turf grasses and annual poa
The tolerance of browntop (Agrostis capillaris L) perennial ryegrass (Lolium perenne L) Chewings fescue (Festuca nigrescens Lam) and annual poa (Poa annua L) to twelve herbicides w...
The Hypothalamic Preoptic Area and Body Weight Control
The Hypothalamic Preoptic Area and Body Weight Control
The preoptic area (POA) of the hypothalamus is involved in many physiological and behavioral processes thanks to its interconnections to many brain areas and ability to respond to ...

