Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Rancang Bangun Sistem Terapi Infrared Otomatis Untuk Terapi Far-Infrared Pada Spinal Cord

View through CrossRef
Terapi infrared adalah terapi yang banyak dilakukan dengan memanfaatkan efek panas yang ditimbulkan pada tubuh manusia terutama pada permukaan kulit yang terpapar secara langsung. Ada beberapa jenid infrared tetapi yang paling umum digunakan untuk terapi adalah far-infrared (FIR). Dosis pemberian terapi infrared bervariatif dengan rentang 10-45 menit dan dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Di Indonesia kebanyakan terapi infrared menggunakan lampu infrared portable. Pada terapi infrared ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti menjaga jarak lampu infrared terdahap tubuh pasien, menjaga waktu terapi, dan mengarahkan ke lokasi yang butuh di terapi. Ada tiga parameter yang harus selalu di monitor dan di kendalikan: jarak, waktu, dan posisi. Untuk mengatur ketiga parameter tersebut dengan durasi terapi yang lumayan lama maka terapi infrared cukup melelahkan terapis atau orang yang membantu terapi infrared dengan lampu infrared. Dengan masalah tersebut, sebuah sistem terapi infrared otomatis akan sangat membantu. Rancang bangun sistem terapi infrared otomatis bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada seperti mampu mengendalikan timer, jarak, dan posisi terapi infrared. Sistem terapi infrared yang sudah berhasil dibuat dapat bekerja dengan baik. Sensor jarak bekerja dengan akurat, mekanisme gerak dan timer juga bekerja dengan baik.   Kata kunci: terapi infrared otomatis, terapi otomatis, terapi infrared, terapi FIR
Title: Rancang Bangun Sistem Terapi Infrared Otomatis Untuk Terapi Far-Infrared Pada Spinal Cord
Description:
Terapi infrared adalah terapi yang banyak dilakukan dengan memanfaatkan efek panas yang ditimbulkan pada tubuh manusia terutama pada permukaan kulit yang terpapar secara langsung.
Ada beberapa jenid infrared tetapi yang paling umum digunakan untuk terapi adalah far-infrared (FIR).
Dosis pemberian terapi infrared bervariatif dengan rentang 10-45 menit dan dilakukan beberapa kali dalam seminggu.
Di Indonesia kebanyakan terapi infrared menggunakan lampu infrared portable.
Pada terapi infrared ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti menjaga jarak lampu infrared terdahap tubuh pasien, menjaga waktu terapi, dan mengarahkan ke lokasi yang butuh di terapi.
Ada tiga parameter yang harus selalu di monitor dan di kendalikan: jarak, waktu, dan posisi.
Untuk mengatur ketiga parameter tersebut dengan durasi terapi yang lumayan lama maka terapi infrared cukup melelahkan terapis atau orang yang membantu terapi infrared dengan lampu infrared.
Dengan masalah tersebut, sebuah sistem terapi infrared otomatis akan sangat membantu.
Rancang bangun sistem terapi infrared otomatis bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada seperti mampu mengendalikan timer, jarak, dan posisi terapi infrared.
Sistem terapi infrared yang sudah berhasil dibuat dapat bekerja dengan baik.
Sensor jarak bekerja dengan akurat, mekanisme gerak dan timer juga bekerja dengan baik.
  Kata kunci: terapi infrared otomatis, terapi otomatis, terapi infrared, terapi FIR.

Related Results

Spinal Cord Injury Rehabilitation: Basics and Beyond
Spinal Cord Injury Rehabilitation: Basics and Beyond
This special issue is dedicated to the Borneo International Spinal Cord Injury (SCI) Rehabilitation Conference (BISCIR) which was held on 30th July – 1st August 2021 through a virt...
Spinal Cord Injury Rehabilitation: Basics and Beyond
Spinal Cord Injury Rehabilitation: Basics and Beyond
This special issue is dedicated to the Borneo International Spinal Cord Injury (SCI) Rehabilitation Conference (BISCIR) which was held on 30th July – 1st August 2021 through a virt...
GABAergic Signaling during Spinal Cord Stimulation Reduces Cardiac Arrhythmias in a Porcine Model
GABAergic Signaling during Spinal Cord Stimulation Reduces Cardiac Arrhythmias in a Porcine Model
Background Neuraxial modulation, including spinal cord stimulation, reduces cardiac sympathoexcitation and ventricular arrhythmogenesis. There is an incomplete understa...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Motor Control in the Human Spinal Cord
Motor Control in the Human Spinal Cord
Abstract:  Features of the human spinal cord motor control are described using two spinal cord injury models: (i) the spinal cord completely separated from brain motor structures b...
The organization of spinal motor neurons in a monotreme is consistent with a six‐region schema of the mammalian spinal cord
The organization of spinal motor neurons in a monotreme is consistent with a six‐region schema of the mammalian spinal cord
AbstractThe motor neurons in the spinal cord of an echidna (Tachyglossus aculeatus) have been mapped in Nissl‐stained sections from spinal cord segments defined by spinal nerve ana...
Role of Magnetic Resonance Imaging in Evaluation of Compressive Myelopathy
Role of Magnetic Resonance Imaging in Evaluation of Compressive Myelopathy
Introduction: Myelopathy describes any neurologic deficit related to the spinal cord. Myelopathy is usually due to compression of the spinal cord by osteophyte or extruded disk mat...
Obstacles and Possibilities for Participation in Sport after Spinal Cord Injury
Obstacles and Possibilities for Participation in Sport after Spinal Cord Injury
Research background and hypothesis. Studies have shown that persons after spinal cord injury rarely continue participating in sport (Stryker, Burke, 2000; Hanson, Nabavi, 2001; Ste...

Back to Top