Javascript must be enabled to continue!
Konsep Kekekalan Akhirat: Komparasi Eskatologi Islam dan Kristen
View through CrossRef
Agus Mushtofa's concept of eternity in a more rational sense. The attributes of Allah that are used as an argument that the Hereafter is not eternal do not mean rejecting the understanding of the eternity of the Hereafter. However, the attributes of Allah do not want to limit the absolute ability of Allah. Attributes such as Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah and Iradah are qualities that make the eternal nature of the hereafter a different matter. This is different from the understanding of scholars in general who argue that the eternity of the hereafter is inviolable, while Agus Musthofa provides another understanding that the eternity of the hereafter depends on Allah. If Allah wants the hereafter to be eternal, then the hereafter will be eternal and if Allah removes the eternity of the hereafter, then the hereafter will be destroyed, both heaven and hell. Thoughts about the afterlife or the last day also exist in Christianity is not much different. If Muslims have a concept of life in the grave, so does the doctrine in Christianity. In the concept of Islam, humans who have died will enter the grave, in Christianity, if they die then when they enter the grave everything will be burned or purified with purgatory until the time of judgment arrives. Likewise heaven and hell in Islam and Christianity. If in Islam there are levels in heaven and hell according to their deeds. Christianity does not mention any levels of heaven and hell. In general, religious leaders in Islam and Christianity close the door on discussions about the eternal concepts of heaven and hell.
Abstrak
Konsep Agus Mushtofa tentang kekekalan dalam arti yang lebih rasional. Sifat-sifat Allah yang dijadikan sebagai argumentasi bahwasanya Akhirat tidak kekal bukan berarti menolak pemahaman tentang kekekalan akhirat. Akan tetapi dengan sifat-sifat Allah itu tidak ingin membatasi kemampuan mutlaq dari Allah. Sifat seperti Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah dan Iradah adalah sifat-sifat yang menjadikan sifat kekal akhirat menjadi hal yang berbeda. Hal inilah yang berbeda dengan pemahaman ulama pada umumnya yang berpendapat bahwasanya kekekalan akhirat tidak dapat diganggu gugat sedangkan Agus Musthofa memberikan pemahaman lain bahwasanya kekekalan akhirat tergantung pada Allah. Jika Allah berkehendak akhirat kekal, maka kekallah akhirat dan jika Allah mencabut kekekalan akhirat, maka musnahlah alam akhirat baik itu surga maupun neraka. Pemikiran tentang akhirat atau hari akhir juga ada dalam agama Kristen tidaklah jauh berbeda. Jika umat Islam ada konsep kehidupan dalam kubur, begitu juga doktrin dalam agama Kristen. Dalam konsep agama Islam, manusia yang telah meninggal akan memasuki alam kubur, dalam agama Kristen, jika meninggal maka tatkala memasuki alam kubur semuanya akan dibakar atau dimurnikan dengan api penyucian hingga tiba saat penghakiman. Begitu juga surga dan neraka dalam Islam dan Kristen. Jika dalam Islam ada tingkatan dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya. Agama Kristen tidak menyebutkan adanya tingkatan dalam surga dan neraka. Pada umumnya para pemuka agama dalam agama Islam dan Kristen menutup pintu diskusi tentang konsep kekekalan surga dan neraka.
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Title: Konsep Kekekalan Akhirat: Komparasi Eskatologi Islam dan Kristen
Description:
Agus Mushtofa's concept of eternity in a more rational sense.
The attributes of Allah that are used as an argument that the Hereafter is not eternal do not mean rejecting the understanding of the eternity of the Hereafter.
However, the attributes of Allah do not want to limit the absolute ability of Allah.
Attributes such as Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah and Iradah are qualities that make the eternal nature of the hereafter a different matter.
This is different from the understanding of scholars in general who argue that the eternity of the hereafter is inviolable, while Agus Musthofa provides another understanding that the eternity of the hereafter depends on Allah.
If Allah wants the hereafter to be eternal, then the hereafter will be eternal and if Allah removes the eternity of the hereafter, then the hereafter will be destroyed, both heaven and hell.
Thoughts about the afterlife or the last day also exist in Christianity is not much different.
If Muslims have a concept of life in the grave, so does the doctrine in Christianity.
In the concept of Islam, humans who have died will enter the grave, in Christianity, if they die then when they enter the grave everything will be burned or purified with purgatory until the time of judgment arrives.
Likewise heaven and hell in Islam and Christianity.
If in Islam there are levels in heaven and hell according to their deeds.
Christianity does not mention any levels of heaven and hell.
In general, religious leaders in Islam and Christianity close the door on discussions about the eternal concepts of heaven and hell.
Abstrak
Konsep Agus Mushtofa tentang kekekalan dalam arti yang lebih rasional.
Sifat-sifat Allah yang dijadikan sebagai argumentasi bahwasanya Akhirat tidak kekal bukan berarti menolak pemahaman tentang kekekalan akhirat.
Akan tetapi dengan sifat-sifat Allah itu tidak ingin membatasi kemampuan mutlaq dari Allah.
Sifat seperti Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawadisti, Qudrah dan Iradah adalah sifat-sifat yang menjadikan sifat kekal akhirat menjadi hal yang berbeda.
Hal inilah yang berbeda dengan pemahaman ulama pada umumnya yang berpendapat bahwasanya kekekalan akhirat tidak dapat diganggu gugat sedangkan Agus Musthofa memberikan pemahaman lain bahwasanya kekekalan akhirat tergantung pada Allah.
Jika Allah berkehendak akhirat kekal, maka kekallah akhirat dan jika Allah mencabut kekekalan akhirat, maka musnahlah alam akhirat baik itu surga maupun neraka.
Pemikiran tentang akhirat atau hari akhir juga ada dalam agama Kristen tidaklah jauh berbeda.
Jika umat Islam ada konsep kehidupan dalam kubur, begitu juga doktrin dalam agama Kristen.
Dalam konsep agama Islam, manusia yang telah meninggal akan memasuki alam kubur, dalam agama Kristen, jika meninggal maka tatkala memasuki alam kubur semuanya akan dibakar atau dimurnikan dengan api penyucian hingga tiba saat penghakiman.
Begitu juga surga dan neraka dalam Islam dan Kristen.
Jika dalam Islam ada tingkatan dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya.
Agama Kristen tidak menyebutkan adanya tingkatan dalam surga dan neraka.
Pada umumnya para pemuka agama dalam agama Islam dan Kristen menutup pintu diskusi tentang konsep kekekalan surga dan neraka.
.
Related Results
ESKATOLOGI ISLAM SHIA: ESKATOLOGI DUA DIMENSI | SHIA ISLAMIC ESCHATOLOGY: A TWO DIMENSIONAL ESCHATOLOGY
ESKATOLOGI ISLAM SHIA: ESKATOLOGI DUA DIMENSI | SHIA ISLAMIC ESCHATOLOGY: A TWO DIMENSIONAL ESCHATOLOGY
<b>Abstract</b>
This paper explains an Islamic eschatology according to Shia,
and suggests that []Shia eschatology always has two dimensions
–...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
PEMAHAMAN KONSEP VOLUME BANGUN RUANG MELALUI HUKUM KEKEKALAN ISI
PEMAHAMAN KONSEP VOLUME BANGUN RUANG MELALUI HUKUM KEKEKALAN ISI
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pemahaman konsep siswa terhadap materi volume bangun ruang berbasis teori Piaget melalui hukum kekekalan isi. Berdasarkan hasil eksperimen...
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Budaya Toraja
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Budaya Toraja
Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan teologis terhadap eskatologi pada zaman Patristika, khususnya melalui lensa Filsafat Yustinus Martir, dan melihat bagaimana pand...
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Budaya Toraja
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Budaya Toraja
Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan teologis terhadap eskatologi pada zaman Patristika, khususnya melalui lensa filsafat Yustinus Martir, dan melihat bagaimana pand...
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Kematian Budaya Toraja
Kajian Teologis Terhadap Eskatologi Pada Zaman Patristika Menurut Pandangan Filsafat Yustinus Martir Dan Kaitannya Dengan Kematian Budaya Toraja
Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan teologis terhadap eskatologi pada zaman Patristika, khususnya melalui lensa filsafat Yustinus Martir, dan melihat bagaimana pand...
Relevansi Pendidikan Kristen dalam Membentuk Resiliensi Iman Remaja Generasi Z terhadap Pemikiran Kristen Progresif dari Bingkai Teologi Kristen
Relevansi Pendidikan Kristen dalam Membentuk Resiliensi Iman Remaja Generasi Z terhadap Pemikiran Kristen Progresif dari Bingkai Teologi Kristen
Social changes and technological advancements, generation Z (Gen Z) teenagers face issues and challenges maintaining their Christian faith, especially with the emergence of progres...
PANDANGAN IMAN KRISTEN TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN APLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
PANDANGAN IMAN KRISTEN TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN APLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Pergumulan antara iman Kristen dan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah kehidupan banyak menimbulkan pro dan kontra. Tetapi apakah benar iman Kristen menentang ilmu pengetahuan dan j...

