Javascript must be enabled to continue!
Study Of The Basrah And Kuffah Schools In The Book Of Syarh Ibn Aqil: A Comparative Perspective
View through CrossRef
The Alfiyyah book is a book of naḥwu used in various institutions in Indonesia, from Islamic boarding schools to universities. This book is recommended by many scholars, one of which is the book of Syarh Ibn Aqil. This book contains an explanation of Alfiyyah's naẓams in great detail. In addition to explaining the material in naẓams, Ibn Aqil also reviewed various opinions of naḥwu experts. The two significant schools of thought in the development of naḥwu science are often used as a benchmark for comparison, namely the Basrah and Kuffah schools. This study aims to discover the different opinions between these two schools in the book of Syarh Ibn Aqil and the factors that cause the differences. The method used in this research is descriptive qualitative through a literature study using documentation. The results of this study state that these two schools have different views in determining the rules of naḥwu, such as amil who recites multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā‘il, etc. This is based on the different methods used in determining the rules. With the sima‘i method, the Basrah School is more selective in retrieving data. At the same time, Kuffah is more flexible and often uses the qiyas method to determine the rules.The purpose of learning naḥwu in the context of learning Arabic in Indonesia is as a wasῑlah (language learning tool), not as a gayah (final goal). Therefore learning naḥwu in the context of teaching Arabic needs to be done tajdid by looking at the importance of facilitating, simplifying, and reforming naḥwu material. Learning naḥwu should avoid philosophical analysis such as that developed by Basrah and accommodate all Arabic languages as developed by Kufah.
Keywords: Schools in Basrah, Kuffah, Ibn Aqil, and Arabic Learning.
AbstrakKitab Alfiyyah merupakan kitab naḥwu yang digunakan berbagai lembaga di Indonesia, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi. Buku ini direkomendasikan oleh banyak ulama, salah satunya adalah kitab Syarh Ibnu Aqil. Buku ini memuat penjelasan tentang nama-nama Alfiyyah dengan sangat detail. Selain menjelaskan materi naẓams, Ibnu Aqil juga mengulas berbagai pendapat dari para ahli naḥwu. Dua mazhab penting dalam perkembangan ilmu naḥwu yang sering dijadikan tolok ukur pembanding, yaitu mazhab Basrah dan Kuffah. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapat antara kedua mazhab tersebut dalam kitab Syarh Ibnu Aqil dan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kedua mazhab ini memiliki pandangan yang berbeda dalam menentukan aturan naḥwu, seperti amil yang membaca multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā'il, dll. Hal ini didasarkan pada perbedaan metode yang digunakan untuk menentukan aturan. Dengan metode sima'i, Mazhab Basrah lebih selektif dalam pengambilan data. Sedangkan Kuffah lebih fleksibel dan sering menggunakan metode qiyas untuk menentukan aturannya. Tujuan pembelajaran naḥwu dalam konteks pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah sebagai wasῑlah (alat pembelajaran bahasa), bukan sebagai gayah (tujuan akhir). ). Oleh karena itu pembelajaran naḥwu dalam konteks pengajaran bahasa Arab perlu dilakukan secara tajdid dengan melihat pentingnya kemudahan, penyederhanaan, dan pembenahan materi naḥwu. Pembelajaran naḥwu harus menghindari analisis filosofis seperti yang dikembangkan oleh Basrah dan mengakomodasi semua bahasa Arab seperti yang dikembangkan oleh Kufah.
Kata kunci : Kajian Madzhab Basrah, Kuffah, Ibnu Aqil, Pembelajaran Bahasa Arab
Al-Jamiah Research Centre
Title: Study Of The Basrah And Kuffah Schools In The Book Of Syarh Ibn Aqil: A Comparative Perspective
Description:
The Alfiyyah book is a book of naḥwu used in various institutions in Indonesia, from Islamic boarding schools to universities.
This book is recommended by many scholars, one of which is the book of Syarh Ibn Aqil.
This book contains an explanation of Alfiyyah's naẓams in great detail.
In addition to explaining the material in naẓams, Ibn Aqil also reviewed various opinions of naḥwu experts.
The two significant schools of thought in the development of naḥwu science are often used as a benchmark for comparison, namely the Basrah and Kuffah schools.
This study aims to discover the different opinions between these two schools in the book of Syarh Ibn Aqil and the factors that cause the differences.
The method used in this research is descriptive qualitative through a literature study using documentation.
The results of this study state that these two schools have different views in determining the rules of naḥwu, such as amil who recites multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā‘il, etc.
This is based on the different methods used in determining the rules.
With the sima‘i method, the Basrah School is more selective in retrieving data.
At the same time, Kuffah is more flexible and often uses the qiyas method to determine the rules.
The purpose of learning naḥwu in the context of learning Arabic in Indonesia is as a wasῑlah (language learning tool), not as a gayah (final goal).
Therefore learning naḥwu in the context of teaching Arabic needs to be done tajdid by looking at the importance of facilitating, simplifying, and reforming naḥwu material.
Learning naḥwu should avoid philosophical analysis such as that developed by Basrah and accommodate all Arabic languages as developed by Kufah.
Keywords: Schools in Basrah, Kuffah, Ibn Aqil, and Arabic Learning.
AbstrakKitab Alfiyyah merupakan kitab naḥwu yang digunakan berbagai lembaga di Indonesia, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi.
Buku ini direkomendasikan oleh banyak ulama, salah satunya adalah kitab Syarh Ibnu Aqil.
Buku ini memuat penjelasan tentang nama-nama Alfiyyah dengan sangat detail.
Selain menjelaskan materi naẓams, Ibnu Aqil juga mengulas berbagai pendapat dari para ahli naḥwu.
Dua mazhab penting dalam perkembangan ilmu naḥwu yang sering dijadikan tolok ukur pembanding, yaitu mazhab Basrah dan Kuffah.
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapat antara kedua mazhab tersebut dalam kitab Syarh Ibnu Aqil dan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kedua mazhab ini memiliki pandangan yang berbeda dalam menentukan aturan naḥwu, seperti amil yang membaca multiday, taqdῑmul khabar, taqdῑmul fā'il, dll.
Hal ini didasarkan pada perbedaan metode yang digunakan untuk menentukan aturan.
Dengan metode sima'i, Mazhab Basrah lebih selektif dalam pengambilan data.
Sedangkan Kuffah lebih fleksibel dan sering menggunakan metode qiyas untuk menentukan aturannya.
Tujuan pembelajaran naḥwu dalam konteks pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah sebagai wasῑlah (alat pembelajaran bahasa), bukan sebagai gayah (tujuan akhir).
).
Oleh karena itu pembelajaran naḥwu dalam konteks pengajaran bahasa Arab perlu dilakukan secara tajdid dengan melihat pentingnya kemudahan, penyederhanaan, dan pembenahan materi naḥwu.
Pembelajaran naḥwu harus menghindari analisis filosofis seperti yang dikembangkan oleh Basrah dan mengakomodasi semua bahasa Arab seperti yang dikembangkan oleh Kufah.
Kata kunci : Kajian Madzhab Basrah, Kuffah, Ibnu Aqil, Pembelajaran Bahasa Arab.
Related Results
Primerjalna književnost na prelomu tisočletja
Primerjalna književnost na prelomu tisočletja
In a comprehensive and at times critical manner, this volume seeks to shed light on the development of events in Western (i.e., European and North American) comparative literature ...
[Muhammad Ibn Abi ‘Amir’s Political Involvement According to The Chronicle Of Ibn Hayyan Al-Qurtubi] Penglibatan Politik Muhammad Ibn Abi ‘Amir Menurut Catatan Ibn Hayyan Al-Qurtubi
[Muhammad Ibn Abi ‘Amir’s Political Involvement According to The Chronicle Of Ibn Hayyan Al-Qurtubi] Penglibatan Politik Muhammad Ibn Abi ‘Amir Menurut Catatan Ibn Hayyan Al-Qurtubi
Abstract
Muhammad ibn Abi ‘Amir was a de facto leader of al-Andalus during the Umayyad rule based in Cordoba. Caliph al-Hakam II had appointed him to hold some political posi...
Trooping the (School) Colour
Trooping the (School) Colour
Introduction
Throughout the early and mid-twentieth century, cadet training was a feature of many secondary schools and educational establishments across Australia, with countless ...
Ibn Ṭumlūs’s Commentary on Ibn Sīnā’s Poem on Medicine The Text within its Context
Ibn Ṭumlūs’s Commentary on Ibn Sīnā’s Poem on Medicine The Text within its Context
Abstract
What makes Ibn Ṭumlūs’
Commentary
on Ibn Sīnā’s
Poem on Medicine
...
آراء البصريين والكوفيين عن الإضافة في شرح ابن عقيل لألفية ابن مالك
آراء البصريين والكوفيين عن الإضافة في شرح ابن عقيل لألفية ابن مالك
One of the characteristics of language is system. The Bashrah scholars and the Kufa scholars are the two most famous madhhabs of nahwu scholars until now. In this study, researcher...
Hayy ibn Yaqzan: Ibn Tufayl's Masterpiece
Hayy ibn Yaqzan: Ibn Tufayl's Masterpiece
Ibn Tufayl, the great Andalusian thinker of the 12th century, is important in the history of Islamic philosophical thought because of his masterpiece Hayy ibn Yaqzan. Ibn Tufayl's ...
Mâtürîdî'nin İbn Abbas Rivayetlerine Yaklaşımı
Mâtürîdî'nin İbn Abbas Rivayetlerine Yaklaşımı
Çalışmada İslam tefsir geleneğinin erken dönem müfessirlerinden biri olan Mâtürîdî’nin (ö.333/944) İbn Abbas (ö. 68/687-688) rivayetlerine yaklaşımı incelenmektedir. Bilindiği üzer...
ILMU PENGETAHUAN DAN PEMBAGIANNYA MENURUT IBN KHALDUN
ILMU PENGETAHUAN DAN PEMBAGIANNYA MENURUT IBN KHALDUN
Although he also discussed science with various branches and scope, so that he was known as an expert in the discourse of science in Islam, Ibn Khaldun was still often positioned a...

