Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TINGKAT PROTEIN DAN LISIN DALAM RANSUM TERHADAP EFISIENSI LISIN DAN PROTEIN NETTO PADA AYAM KAMPUNG UMUR 12 MINGGU

View through CrossRef
Penelitian yang dilakukan ini dalam mencari pengaruh tingkat protein dan lisin terhadap efisiensi lisin dan penggunaan protein netto pada ayam kampung yang diperlihara sampai umur 12 minggu. Penelitian yang dilakukan menggunakan 240 ekor ayam kampung (unsex). Model rancangan yang diganakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 menggunakan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 perlakuan dan setiap perlakuan unit percobaan berisi 10 ekor ayam. Perlakuannya meliputi P1L1 (protein 17% + lisin 0,6% ransum), P1L2 (protein 17% + lisin 0,7% ransum), P1L3 (protein 17% + lisin 0,8% ransum), P2L1 (protein 14% + lisin 0,6% ransum), P2L2 (protein 14% + lisin 0,7% ransum), P2L3 (protein 14% + lisin 0,7% ransum). Pengamatan parameternya meliputi efisiensi lisin dan penggunaan protein netto. Analisa data lanjutan menggunakan analisis uji F untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat probabilitas 5% jika ditemukan pengaruh nyata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya interaksi protein dan lisin ransum yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi lisin ayam kampung pada umur 12 minggu dengan memberikan hasil yang terbaik pada perlakuan ransum P2L1 (protein 14% dengan lisin 0,6%) dan tidak ada interaksi tingkat protein dan lisin ransum yang nyata (P>0,05) terhadap penggunaan protein netto (PPN) pada ayam kampung umur 12 minggu. Berdasarkan hasil penelitian  disimpulkan bahwa efisiensi lisin yang optimal dalam ransum pada Protein 14% dan Lisin 0,6% dan tidak memberikan pengaruh dari parameter penggunaan protein netto.  ABSTRACT  This study aimed to determine the effect of protein and lysine levels on lysine efficiency and netto protein utilization in native chickens raised up to 12 weeks of age. The research utilized 240 unsexed native chickens. A completely randomized design (CRD) with 2 × 3 factorial consisting of 4 replications and 24 experimental units, with each unit containing 10 chickens. The treatments included P1L1 (17% protein + 0.6% lysine in the diet), P1L2 (17% protein + 0.7% lysine in the diet), P1L3 (17% protein + 0.8% lysine in the diet), P2L1 (14% protein + 0.6% lysine in the diet), P2L2 (14% protein + 0.7% lysine in the diet), and P2L3 (14% protein + 0.8% lysine in the diet). Observed parameters included lysine efficiency and net protein utilization. Data analysis involved an F-test to identify treatment effects, with followed by Duncan's multiple range test at a 5% significance level for significant results. The results revealed a significant interaction (P<0,05) between protein and lysine in the diet on lysine efficiency in 12-week-old native chickens, with the best result observed in the P2L1 treatment (Protein 14% and lysine 0.6% in the diet). However, there was no significant interaction (P>0.05) between protein and lysine levels on net protein utilization at 12 weeeks of age. Based on the findings, it can be concluded that optimal lysine efficiency in the diet is achieved with 14% protein and 0.6% lysine, while netto protein utilization is not significantly affected by the treatments.
Title: TINGKAT PROTEIN DAN LISIN DALAM RANSUM TERHADAP EFISIENSI LISIN DAN PROTEIN NETTO PADA AYAM KAMPUNG UMUR 12 MINGGU
Description:
Penelitian yang dilakukan ini dalam mencari pengaruh tingkat protein dan lisin terhadap efisiensi lisin dan penggunaan protein netto pada ayam kampung yang diperlihara sampai umur 12 minggu.
Penelitian yang dilakukan menggunakan 240 ekor ayam kampung (unsex).
Model rancangan yang diganakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 menggunakan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 perlakuan dan setiap perlakuan unit percobaan berisi 10 ekor ayam.
Perlakuannya meliputi P1L1 (protein 17% + lisin 0,6% ransum), P1L2 (protein 17% + lisin 0,7% ransum), P1L3 (protein 17% + lisin 0,8% ransum), P2L1 (protein 14% + lisin 0,6% ransum), P2L2 (protein 14% + lisin 0,7% ransum), P2L3 (protein 14% + lisin 0,7% ransum).
Pengamatan parameternya meliputi efisiensi lisin dan penggunaan protein netto.
Analisa data lanjutan menggunakan analisis uji F untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat probabilitas 5% jika ditemukan pengaruh nyata.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya interaksi protein dan lisin ransum yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi lisin ayam kampung pada umur 12 minggu dengan memberikan hasil yang terbaik pada perlakuan ransum P2L1 (protein 14% dengan lisin 0,6%) dan tidak ada interaksi tingkat protein dan lisin ransum yang nyata (P>0,05) terhadap penggunaan protein netto (PPN) pada ayam kampung umur 12 minggu.
Berdasarkan hasil penelitian  disimpulkan bahwa efisiensi lisin yang optimal dalam ransum pada Protein 14% dan Lisin 0,6% dan tidak memberikan pengaruh dari parameter penggunaan protein netto.
  ABSTRACT  This study aimed to determine the effect of protein and lysine levels on lysine efficiency and netto protein utilization in native chickens raised up to 12 weeks of age.
The research utilized 240 unsexed native chickens.
A completely randomized design (CRD) with 2 × 3 factorial consisting of 4 replications and 24 experimental units, with each unit containing 10 chickens.
The treatments included P1L1 (17% protein + 0.
6% lysine in the diet), P1L2 (17% protein + 0.
7% lysine in the diet), P1L3 (17% protein + 0.
8% lysine in the diet), P2L1 (14% protein + 0.
6% lysine in the diet), P2L2 (14% protein + 0.
7% lysine in the diet), and P2L3 (14% protein + 0.
8% lysine in the diet).
Observed parameters included lysine efficiency and net protein utilization.
Data analysis involved an F-test to identify treatment effects, with followed by Duncan's multiple range test at a 5% significance level for significant results.
The results revealed a significant interaction (P<0,05) between protein and lysine in the diet on lysine efficiency in 12-week-old native chickens, with the best result observed in the P2L1 treatment (Protein 14% and lysine 0.
6% in the diet).
However, there was no significant interaction (P>0.
05) between protein and lysine levels on net protein utilization at 12 weeeks of age.
Based on the findings, it can be concluded that optimal lysine efficiency in the diet is achieved with 14% protein and 0.
6% lysine, while netto protein utilization is not significantly affected by the treatments.

Related Results

Performans Keturunan Ayam Arras dengan Ayam Arab (Ayam Ketarras) Umur 2-12 Minggu
Performans Keturunan Ayam Arras dengan Ayam Arab (Ayam Ketarras) Umur 2-12 Minggu
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performans keturunan ayam Arab dengan ayam Arras (Ayam Ketarras) umur 2-12 minggu. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan, dim...
Performa Fase Awal Produksi pada Ayam Ketarras dan Ayam Arab Betina
Performa Fase Awal Produksi pada Ayam Ketarras dan Ayam Arab Betina
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa fase awal produksi pada ayam Ketarras dan ayam Arab betina. Penelitian terdiri 2 perlakuan dan 25 ulangan. Faktor jenis ayam di...
Evaluasi Ciri Fenotipe Turunan F2 Hasil Persilangan Ayam Brahman Jantan dengan Ayam Lokal Betina dan Ayam Cochin Betina pada Fase Starter
Evaluasi Ciri Fenotipe Turunan F2 Hasil Persilangan Ayam Brahman Jantan dengan Ayam Lokal Betina dan Ayam Cochin Betina pada Fase Starter
Permasalahan utama dalam pengembangan ayam Lokal sebagai ternak komersial adalah masih kurangnya varian dari turunan perkawinan silang dan masih rendahnya produktivitas baik sebaga...
Tingkat Penerimaan Konsumen terhadap Ukuran Telur Ayam Ketarras yang dianggap sebagai Telur Ayam Kampng serta Uji Rasa dan Bau
Tingkat Penerimaan Konsumen terhadap Ukuran Telur Ayam Ketarras yang dianggap sebagai Telur Ayam Kampng serta Uji Rasa dan Bau
Ayam Ketarras merupakan ayam dengan komposisi genetik 75% ayam Arab dan 25% ayam Ras petelur. Warna kerabang telur ayam Ketarras mirip dengan warna kerabang telur ayam Kampung. Nam...
PENGARUH PENGGUNAAN POLLARD TERFERMENTASI DENGAN RAGI TAPE DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM LOHMANN BROWN
PENGARUH PENGGUNAAN POLLARD TERFERMENTASI DENGAN RAGI TAPE DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM LOHMANN BROWN
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan pollard terfermentasi oleh ragi tape terhadap produksi telur ayam Lohmann Brown umur 42-50 minggu. Rancangan yang dig...
Penambahan Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L) pada Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Super
Penambahan Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L) pada Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Super
ABSTRAK               Pengaruh positif dari pemberian daun pepaya adalah ternak lebih sehat terutama ternak ayam kampung. Pemberian daun pepaya mulai dari fase starter dapat ...
Perbandingan Penggunaan Dua Jenis Ransum terhadap Berat Potong Berat Karkas dan Berat Lemak Abdominal Broiler
Perbandingan Penggunaan Dua Jenis Ransum terhadap Berat Potong Berat Karkas dan Berat Lemak Abdominal Broiler
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas ransum buatan dengan ransum komersial terhadap berat pemotongan, berat karkas dan berat lemak abdominal ayam broiler. Pene...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...

Back to Top