Javascript must be enabled to continue!
KEMANDIRIAN PANGAN KELOMPOK NELAYAN MELALUI PENERAPAN IMTA (INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUAQULTURE) DI KARAMBA TANCAP DESA BOKORI, KONAWE SULAWESI TENGGARA
View through CrossRef
Kemandirian pangan masyarakat pesisir merupakan salah satu aspek penting dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan. Desa Bokori di Kabupaten Konawe memiliki potensi perikanan budidaya, namun praktik budidaya yang cenderung monokultur masih menimbulkan permasalahan, seperti penumpukan limbah organik, penurunan kualitas perairan, serta tingginya risiko serangan penyakit terhadap organisme yang dipelihara. Untuk mengatasi hal tersebut, diterapkan pendekatan multikultur dikenal dengan istilah ”Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)” dalam karamba tancap sebagai solusi inovatif dan ramah lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pangan kelompok nelayan melalui diversifikasi produksi hasil budidaya, sekaligus menjaga kualitas ekosistem perairan. Metode kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 2 kelompok nelayan yaitu kelompok Usaha Bersama dan kelompok Langkoe, dengan jenis usaha yaitu menangkap ikan, membedarkan dan mengolah hasil tangkapannya. Tahapan kegiatan pengabdian meliputi sosialisasi konsep IMTA, pembuatan karamba tancap berbasis IMTA, penebaran benih ikan dan organisme ekstraktif (rumput laut, abalon, dan teripang), serta pendampingan pemeliharaan. Evaluasi dilakukan melalui observasi kualitas perairan, tingkat kelangsungan hidup organisme, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan nelayan. Hasil menunjukkan bahwa penerapan sistem IMTA mampu memanfaatkan limbah organik budidaya ikan sebagai sumber nutrisi bagi organisme ekstraktif, sehingga kualitas perairan relatif lebih stabil. Produktivitas kelompok nelayan meningkat melalui diversifikasi panen yang tidak hanya bergantung pada ikan, tetapi juga rumput laut dan biota lainnya. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman nelayan tentang konsep budidaya berkelanjutan dan terintegrasi. Penerapan IMTA di karamba tancap di Desa Bokori terbukti mampu mendukung kemandirian pangan kelompok nelayan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sistem perikanan berkelanjutan di wilayah pesisir.
Universitas Mataram
Title: KEMANDIRIAN PANGAN KELOMPOK NELAYAN MELALUI PENERAPAN IMTA (INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUAQULTURE) DI KARAMBA TANCAP DESA BOKORI, KONAWE SULAWESI TENGGARA
Description:
Kemandirian pangan masyarakat pesisir merupakan salah satu aspek penting dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.
Desa Bokori di Kabupaten Konawe memiliki potensi perikanan budidaya, namun praktik budidaya yang cenderung monokultur masih menimbulkan permasalahan, seperti penumpukan limbah organik, penurunan kualitas perairan, serta tingginya risiko serangan penyakit terhadap organisme yang dipelihara.
Untuk mengatasi hal tersebut, diterapkan pendekatan multikultur dikenal dengan istilah ”Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)” dalam karamba tancap sebagai solusi inovatif dan ramah lingkungan.
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pangan kelompok nelayan melalui diversifikasi produksi hasil budidaya, sekaligus menjaga kualitas ekosistem perairan.
Metode kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 2 kelompok nelayan yaitu kelompok Usaha Bersama dan kelompok Langkoe, dengan jenis usaha yaitu menangkap ikan, membedarkan dan mengolah hasil tangkapannya.
Tahapan kegiatan pengabdian meliputi sosialisasi konsep IMTA, pembuatan karamba tancap berbasis IMTA, penebaran benih ikan dan organisme ekstraktif (rumput laut, abalon, dan teripang), serta pendampingan pemeliharaan.
Evaluasi dilakukan melalui observasi kualitas perairan, tingkat kelangsungan hidup organisme, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan nelayan.
Hasil menunjukkan bahwa penerapan sistem IMTA mampu memanfaatkan limbah organik budidaya ikan sebagai sumber nutrisi bagi organisme ekstraktif, sehingga kualitas perairan relatif lebih stabil.
Produktivitas kelompok nelayan meningkat melalui diversifikasi panen yang tidak hanya bergantung pada ikan, tetapi juga rumput laut dan biota lainnya.
Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman nelayan tentang konsep budidaya berkelanjutan dan terintegrasi.
Penerapan IMTA di karamba tancap di Desa Bokori terbukti mampu mendukung kemandirian pangan kelompok nelayan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sistem perikanan berkelanjutan di wilayah pesisir.
Related Results
PKM INOVASI PEMBUATAN KARAMBA JARING DASAR UNTUK BUDIDAYA LOBSTER DI PERAIRAN DESA TAMANGAPA KEC. MA’RANG KABUPATEN PANGKEP
PKM INOVASI PEMBUATAN KARAMBA JARING DASAR UNTUK BUDIDAYA LOBSTER DI PERAIRAN DESA TAMANGAPA KEC. MA’RANG KABUPATEN PANGKEP
PKM Inovasi Pembuatan Karamba Jaring Dasar Untuk Budidaya Lobster di Perairan Desa Tamangapa Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep. Setiap hari nelayan menangkap lobster, tetapi terk...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Bio-economic evolution of snakeheads and Indian major carps culture in IMTA system
Bio-economic evolution of snakeheads and Indian major carps culture in IMTA system
An experimental study was carried out for a period of six months to assess the commercial culture potentiality of striped snakehead (Channa striatus) over Indian Major Carps (IMCs)...
Antisipasi Pemuda Nelayan dalam Menghadapi Konflik
Antisipasi Pemuda Nelayan dalam Menghadapi Konflik
Nelayan sering menghadapi kendala-kendala ketika melaut. Berdasarkan observasi ditemukan konflik antar nelayan payang Desa Weru, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan dan nelayan t...
SEJARAH MASYARAKAT NELAYAN SUKU BUGIS DI DESA POLEWALI, KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1950-2017)
SEJARAH MASYARAKAT NELAYAN SUKU BUGIS DI DESA POLEWALI, KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1950-2017)
ABSTRAK: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah kedatangan orang Bugis di Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan? (2) Bagaimana kond...
PKM KELOMPOK NELAYAN “WIA” MELALUI PEMANFAATAN HASIL LAUT DI DESA MALAKOSA
PKM KELOMPOK NELAYAN “WIA” MELALUI PEMANFAATAN HASIL LAUT DI DESA MALAKOSA
PKM Kelompok nelayan WIA merupakan upaya untuk memberikan penguatan kepada kelompok nelayan WIA dengan melibatkan berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ke...
KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN RUMAHTANGGA PETANI DI LAHAN MARGINAL DESA SEMANGAT DALAM KECAMATAN ALALAK KABUPATEN BARITO KUALA
KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN RUMAHTANGGA PETANI DI LAHAN MARGINAL DESA SEMANGAT DALAM KECAMATAN ALALAK KABUPATEN BARITO KUALA
Ketahanan dan kemandirian pangan rumahtangga petani pasti sangat dipengaruhi oleh pangan yang mereka hasilkan di pertanian. Jika lahan pertanian tergolong lahan marginal, maka kegi...
PEMBERDAYAAN GENERASI MILENIAL DALAM KELOMPOK NELAYAN MELALUI MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TANGKAP MENJADI PRODUK EKONOMI KREATIF
PEMBERDAYAAN GENERASI MILENIAL DALAM KELOMPOK NELAYAN MELALUI MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TANGKAP MENJADI PRODUK EKONOMI KREATIF
Kehidupan nelayan selalu identik dengan kesan kumuh dan kemiskinan. Kekumuhan itu disebabkan belum adanya manajemen pengolahan limbah yang baik. Limbah hasil tangkap nelayan sering...

