Javascript must be enabled to continue!
Metode Tarjih Ibnu Jarir Al-Thabari dalam Tafsir: Analisis Metodologis
View through CrossRef
Penelitian ini mengkaji metodologi tarjih yang dikembangkan oleh Ibnu Jarir Al-Thabari (224-310 H/839-923 M) dalam karya tafsirnya, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten, penelitian ini mengungkap bahwa metode tarjih Al-Thabari bersifat komprehensif dan sistematis, yang mencakup tiga dimensi utama: linguistik, historis-transmisional, dan rasional-kontekstual. Dalam dimensi linguistik, Al-Thabari menerapkan analisis mendalam terhadap aspek gramatikal, morfologis, stilistika, dan semantik. Pada dimensi historis-transmisional, ia mengembangkan sistem kriteria ketat dalam menilai kualitas sanad dan matan riwayat. Sementara dalam dimensi rasional-kontekstual, Al-Thabari memberikan ruang bagi pertimbangan akal dan konteks dalam mengevaluasi berbagai interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metodologi Al-Thabari tidak hanya relevan untuk kajian tafsir klasik, tetapi juga menawarkan kerangka acuan yang berharga dalam menghadapi tantangan penafsiran kontemporer, terutama dalam menyikapi pluralitas interpretasi Al-Qur'an secara akademis dan bertanggung jawab.
This research examines the tarjih (preference) methodology developed by Ibn Jarir Al-Tabari (224-310 H/839-923 CE) in his exegetical work, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Using a qualitative approach and content analysis, this research reveals that Al-Tabari's tarjih method is comprehensive and systematic, encompassing three main dimensions: linguistic, historical-transmissional, and rational-contextual. In the linguistic dimension, Al-Tabari applies an in-depth analysis of grammatical, morphological, stylistic, and semantic aspects. In the historical-transmissional dimension, he developed strict criteria for evaluating the quality of chain of transmission (sanad) and content (matn) of narrations. While in the rational-contextual dimension, Al-Tabari provides space for rational consideration and context in evaluating various interpretations. The findings show that Al-Tabari's methodology is not only relevant for classical exegetical studies but also offers a valuable frame of reference in addressing contemporary interpretative challenges, particularly in dealing with the plurality of Qur'anic interpretations in an academic and responsible manner
Title: Metode Tarjih Ibnu Jarir Al-Thabari dalam Tafsir: Analisis Metodologis
Description:
Penelitian ini mengkaji metodologi tarjih yang dikembangkan oleh Ibnu Jarir Al-Thabari (224-310 H/839-923 M) dalam karya tafsirnya, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten, penelitian ini mengungkap bahwa metode tarjih Al-Thabari bersifat komprehensif dan sistematis, yang mencakup tiga dimensi utama: linguistik, historis-transmisional, dan rasional-kontekstual.
Dalam dimensi linguistik, Al-Thabari menerapkan analisis mendalam terhadap aspek gramatikal, morfologis, stilistika, dan semantik.
Pada dimensi historis-transmisional, ia mengembangkan sistem kriteria ketat dalam menilai kualitas sanad dan matan riwayat.
Sementara dalam dimensi rasional-kontekstual, Al-Thabari memberikan ruang bagi pertimbangan akal dan konteks dalam mengevaluasi berbagai interpretasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metodologi Al-Thabari tidak hanya relevan untuk kajian tafsir klasik, tetapi juga menawarkan kerangka acuan yang berharga dalam menghadapi tantangan penafsiran kontemporer, terutama dalam menyikapi pluralitas interpretasi Al-Qur'an secara akademis dan bertanggung jawab.
This research examines the tarjih (preference) methodology developed by Ibn Jarir Al-Tabari (224-310 H/839-923 CE) in his exegetical work, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an.
Using a qualitative approach and content analysis, this research reveals that Al-Tabari's tarjih method is comprehensive and systematic, encompassing three main dimensions: linguistic, historical-transmissional, and rational-contextual.
In the linguistic dimension, Al-Tabari applies an in-depth analysis of grammatical, morphological, stylistic, and semantic aspects.
In the historical-transmissional dimension, he developed strict criteria for evaluating the quality of chain of transmission (sanad) and content (matn) of narrations.
While in the rational-contextual dimension, Al-Tabari provides space for rational consideration and context in evaluating various interpretations.
The findings show that Al-Tabari's methodology is not only relevant for classical exegetical studies but also offers a valuable frame of reference in addressing contemporary interpretative challenges, particularly in dealing with the plurality of Qur'anic interpretations in an academic and responsible manner.
Related Results
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...
Metode Tarjih Ibnu Jarir Ath Thabari Dalam Tafsir
Metode Tarjih Ibnu Jarir Ath Thabari Dalam Tafsir
Salah satu cendikiawan muslim yang dikenal luas melalui karyanya yang monumental dibidang tafsir adalah Ibnu Jarir Ath-Thobari. Lahir pada abad 9 Masehi di Amol. Thobari menempuh p...
CONSTRUCTION OF TAFSIR JAMI' AL-BAYAN 'AN TA'WIL AY AL-QUR'AN; ABU JA'FAR MUHAMMAD IBN JARIR ATH-THABARI
CONSTRUCTION OF TAFSIR JAMI' AL-BAYAN 'AN TA'WIL AY AL-QUR'AN; ABU JA'FAR MUHAMMAD IBN JARIR ATH-THABARI
Abstract
Mastery of classical and medieval interpretive material is very necessary for the construction of new ideas in order to maintain the continuity of an interpretive traditi...
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh S...
Israi’liyat Materials in Tafsir al-Thabari
Israi’liyat Materials in Tafsir al-Thabari
Israi’liyat is a story that comes from Jews and Christians or interpretations that have no basis at all, either in the form of dhaif and maudu’ traditions, false ta’wil, or fantas...
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
AbstrakKegiatan tafsir Al-Qu’ran telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad Saw dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, yaitu periode Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya, peri...
Pembelajaran Tafsir Di Dayah Ummul Ayman Samalanga
Pembelajaran Tafsir Di Dayah Ummul Ayman Samalanga
Dayah Ummul Ayman is one of the largest dayah in Aceh. The teaching of tafsir in this dayah is carried out through dayah curriculum and adapted to the abilities of students. Standa...
Tafsir Method of Tartib Nuzuli: An Analytical Study of Muhammad Darwazah's Kitab al-Tafsir al-Hadith and Muhammad al-Jabiri's Kitab Fahm al-Qur`an al-Hakim
Tafsir Method of Tartib Nuzuli: An Analytical Study of Muhammad Darwazah's Kitab al-Tafsir al-Hadith and Muhammad al-Jabiri's Kitab Fahm al-Qur`an al-Hakim
The study of tafsir tartib nuzuli is still quite rare. This study seeks to complete the study. Tafsir tartib nuzuli is still considered “strange” by the majority of Muslims. This s...

