Javascript must be enabled to continue!
SUPLEMENTASI ZAT BESI TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN DEPRESI POSTPARTUM
View through CrossRef
Latar Belakang: Depresi postpartum (PPD) merupakan gangguan suasana hati yang dapat muncul setelah melahirkan dan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu serta tumbuh kembang anak. Defisiensi zat besi, yang sering terjadi akibat anemia postpartum, berperan dalam mekanisme biologis PPD melalui gangguan regulasi neurotransmiter dan kadar hemoglobin. Tujuan: Menganalisis efektivitas suplementasi zat besi dalam menurunkan gejala depresi postpartum di Kabupaten Kubu Raya. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimen semu dengan rancangan pre-posttest nonequivalent control group, dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2024 di Puskesmas Rasau Jaya dan Pal Sembilan. Sebanyak 52 ibu postpartum dipilih dengan teknik consecutive sampling dan dibagi secara merata menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapat suplementasi zat besi (Fe elemental 60 mg/hari selama 30 hari) serta edukasi gizi, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima edukasi. Kadar hemoglobin dan gejala PPD (diukur dengan kuesioner PHQ-9) dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Suplementasi zat besi secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin (p=0,000) dan menurunkan skor PHQ-9 (p=0,000) pada kelompok intervensi. Terdapat korelasi signifikan antara peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan skor depresi (p<0,001; R²=0,513). Kesimpulan: Suplementasi zat besi efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan menurunkan gejala depresi postpartum, sehingga penting untuk diterapkan dalam pelayanan kesehatan ibu masa nifas.
Poltekkes Kemenkes Pontianak
Title: SUPLEMENTASI ZAT BESI TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN DEPRESI POSTPARTUM
Description:
Latar Belakang: Depresi postpartum (PPD) merupakan gangguan suasana hati yang dapat muncul setelah melahirkan dan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu serta tumbuh kembang anak.
Defisiensi zat besi, yang sering terjadi akibat anemia postpartum, berperan dalam mekanisme biologis PPD melalui gangguan regulasi neurotransmiter dan kadar hemoglobin.
Tujuan: Menganalisis efektivitas suplementasi zat besi dalam menurunkan gejala depresi postpartum di Kabupaten Kubu Raya.
Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimen semu dengan rancangan pre-posttest nonequivalent control group, dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2024 di Puskesmas Rasau Jaya dan Pal Sembilan.
Sebanyak 52 ibu postpartum dipilih dengan teknik consecutive sampling dan dibagi secara merata menjadi kelompok intervensi dan kontrol.
Kelompok intervensi mendapat suplementasi zat besi (Fe elemental 60 mg/hari selama 30 hari) serta edukasi gizi, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima edukasi.
Kadar hemoglobin dan gejala PPD (diukur dengan kuesioner PHQ-9) dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Suplementasi zat besi secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin (p=0,000) dan menurunkan skor PHQ-9 (p=0,000) pada kelompok intervensi.
Terdapat korelasi signifikan antara peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan skor depresi (p<0,001; R²=0,513).
Kesimpulan: Suplementasi zat besi efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan menurunkan gejala depresi postpartum, sehingga penting untuk diterapkan dalam pelayanan kesehatan ibu masa nifas.
Related Results
HUBUNGAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH DAN BAHAN MAKANAN SUMBER ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DI SMA MUSLIMIN
HUBUNGAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH DAN BAHAN MAKANAN SUMBER ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DI SMA MUSLIMIN
Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah lebih rendah dari normal. Kekurangan oksigen dalam jaringan otak dan otot menyebabkan gejala anemia, seperti lemah...
GAMBARAN DEPRESI PADA LANSIA DI POSBINDU PUSKESMAS KOTA MANAGAISAKI KABUPATEN TOLITOLI
GAMBARAN DEPRESI PADA LANSIA DI POSBINDU PUSKESMAS KOTA MANAGAISAKI KABUPATEN TOLITOLI
Lansia di Indonesia setiap tahunya terus mengalami peningkatan. Seiring bertambahnya usia maka akan terjadi perubahan fisik, kognitif, dan psikososial yang merupakan dampak negatif...
Keseimbangan Nutrisi dan Anemia Defisiensi Besi
Keseimbangan Nutrisi dan Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling umum diderita oleh masyarakat di dunia terutama pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil dan menyusui, dan wani...
Pengaruh substitusi tepung talas (Colocasia esculenta) dan tepung beras merah (Oryza nivara) terhadap kadar proksimat dan kadar zat besi pada mochi
Pengaruh substitusi tepung talas (Colocasia esculenta) dan tepung beras merah (Oryza nivara) terhadap kadar proksimat dan kadar zat besi pada mochi
Latar Belakang: Prevalensi kejadian anemia pada semua kelompok usia masih cukup tinggi disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi. Salah satu sumber pangan nabati yang kaya akan zat...
Angka Kejadian Depresi pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Menggunakan Metode Pengukuran Geriatric Depression Scale
Angka Kejadian Depresi pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Menggunakan Metode Pengukuran Geriatric Depression Scale
Latar Belakang: Penyakit ginjal kronik mengakibatkan penurunan fungsi ginjal progresif dan irreversible sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplanta...
Gambaran Anemia, Defisiensi Zat Besi, dan Status Nutrisi pada Remaja Putri
Gambaran Anemia, Defisiensi Zat Besi, dan Status Nutrisi pada Remaja Putri
Latar Belakang: Anemia dan defisiensi zat besi merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada remaja, terutama di negara berkembang. Masa remaja merupakan periode kritis dalam si...
Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan
Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan
Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pa...

