Javascript must be enabled to continue!
Bencana, Kelembagaan, dan Masyarakat
View through CrossRef
AbstractThis paper describes the relationship of disasters with institutional aspects, social networks and cultural communities. In various reports, Indonesia is often stated as one of the countries that experienced the most natural disasters and even in the last thirty years has experienced more than twenty major disasters with more than 10,000 lives - outside the Aceh Tsunami which claimed more than 200,000 victims. However, this study shows that the disasters experienced are caused by human neglect. On the other side, the study of Toya Hideki (2014) criticizes that natural disasters have an impact on building social solidarity. The natural disasters that hit Indonesia to date show a response that is not always the same from the communities. Furthermore, it turns out that the amount caused by human discord also has a fairly high number. Some foreign scientists say that Indonesia has a Malay culture that tends to be lazy and easily rages (amok), has been denied by Syed Hussein Alatas (1988). However, Mochtar Lubis in his selfcriticism (1977) and Adnan (2006) showed that Indonesia has a weak culture. Using literature studies as a basic of this research then accompanied by quantitative surveys via Google-form found the data that people tend to conduct undetail or sometimes careless. Then, those data had been strenghten supported by observations and documentation in the form of a photo shows that the Indonesian people have some uniqueness in behavior: in designing activities, in understanding what is meant completely, what is meant by perfection, and what kind in holding principles. These things become interesting when juxtaposed with concern for disaster.
Makalah ini memaparkan keterkaitan bencana yang terjadi di tanah air dengan aspek kelembagaan, jaringan sosial dan budaya masyarakat. Dalam berbagai pemberitaan, Indonesia seringkali dinyatakan sebagai salah satu negara yang paling banyak mengalami bencana alam dan bahkan dalam tiga puluh tahun terakhir telah mengalami lebih dari dua puluh kali bencana besar dengan korban jiwa lebih dari 10.000 jiwa -- di luar Tsunami Aceh yang merenggut lebih dari 200.000 orang korban jiwa. Namun, kajian ini memperlihatkan bahwa musibah yang dialami tidak sedikit disebabkan oleh faktor kelalaian manusia. Pada sisi lain, kajian dari Toya Hideki (2014) mengkritisi bahwa bencana alam membawa pengaruh terbangunnya solidaritas sosial. Bencanabencanaalam yang melanda Indonesia hingga saat ini memperlihatkan respons yang tidak selalu sama dari komunitasnya. Lebih lanjut, ternyata jumlah bencana yang disebabkan oleh ketelodaran manusia pun memiliki angka yang cukup tinggi. Beberapa ilmuwan asing mengatakan bahwa Indonesia memiliki budaya Melayu yang cenderung pemalas dan mudah mengamuk (amok) yang dibantah oleh Syed Hussein Alatas (1988). Namun Mochtar Lubis dalam otokritiknya (1977) dan Adnan (2006) memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki budaya lemah. Dengan menggunakan studi kepustakaan sebagai basis penelitian dan dilanjutkan dengan disertai survey secara kuantitatif memanfaatkan Google-form diperoleh data mengenai perilaku masyarakat yang kurang detail dan cenderung ceroboh. Lebih lanjut, analisis diperkuat dengan hasil pengamatan dan dokumentasi berupa foto yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keunikan dalam berperilaku: dalam merancang kegiatan, dalam memahami apa yang dimaksudkan dengan tuntas, apa yang dimaksudkan dengan kesempurnaan, dan seperti apa dalam memegang prinsip. Hal-hal tersebut menjadi menarik ketika disandingkan dengan kepedulian terhadap bencana
Universitas Sumatera Utara
Title: Bencana, Kelembagaan, dan Masyarakat
Description:
AbstractThis paper describes the relationship of disasters with institutional aspects, social networks and cultural communities.
In various reports, Indonesia is often stated as one of the countries that experienced the most natural disasters and even in the last thirty years has experienced more than twenty major disasters with more than 10,000 lives - outside the Aceh Tsunami which claimed more than 200,000 victims.
However, this study shows that the disasters experienced are caused by human neglect.
On the other side, the study of Toya Hideki (2014) criticizes that natural disasters have an impact on building social solidarity.
The natural disasters that hit Indonesia to date show a response that is not always the same from the communities.
Furthermore, it turns out that the amount caused by human discord also has a fairly high number.
Some foreign scientists say that Indonesia has a Malay culture that tends to be lazy and easily rages (amok), has been denied by Syed Hussein Alatas (1988).
However, Mochtar Lubis in his selfcriticism (1977) and Adnan (2006) showed that Indonesia has a weak culture.
Using literature studies as a basic of this research then accompanied by quantitative surveys via Google-form found the data that people tend to conduct undetail or sometimes careless.
Then, those data had been strenghten supported by observations and documentation in the form of a photo shows that the Indonesian people have some uniqueness in behavior: in designing activities, in understanding what is meant completely, what is meant by perfection, and what kind in holding principles.
These things become interesting when juxtaposed with concern for disaster.
Makalah ini memaparkan keterkaitan bencana yang terjadi di tanah air dengan aspek kelembagaan, jaringan sosial dan budaya masyarakat.
Dalam berbagai pemberitaan, Indonesia seringkali dinyatakan sebagai salah satu negara yang paling banyak mengalami bencana alam dan bahkan dalam tiga puluh tahun terakhir telah mengalami lebih dari dua puluh kali bencana besar dengan korban jiwa lebih dari 10.
000 jiwa -- di luar Tsunami Aceh yang merenggut lebih dari 200.
000 orang korban jiwa.
Namun, kajian ini memperlihatkan bahwa musibah yang dialami tidak sedikit disebabkan oleh faktor kelalaian manusia.
Pada sisi lain, kajian dari Toya Hideki (2014) mengkritisi bahwa bencana alam membawa pengaruh terbangunnya solidaritas sosial.
Bencanabencanaalam yang melanda Indonesia hingga saat ini memperlihatkan respons yang tidak selalu sama dari komunitasnya.
Lebih lanjut, ternyata jumlah bencana yang disebabkan oleh ketelodaran manusia pun memiliki angka yang cukup tinggi.
Beberapa ilmuwan asing mengatakan bahwa Indonesia memiliki budaya Melayu yang cenderung pemalas dan mudah mengamuk (amok) yang dibantah oleh Syed Hussein Alatas (1988).
Namun Mochtar Lubis dalam otokritiknya (1977) dan Adnan (2006) memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki budaya lemah.
Dengan menggunakan studi kepustakaan sebagai basis penelitian dan dilanjutkan dengan disertai survey secara kuantitatif memanfaatkan Google-form diperoleh data mengenai perilaku masyarakat yang kurang detail dan cenderung ceroboh.
Lebih lanjut, analisis diperkuat dengan hasil pengamatan dan dokumentasi berupa foto yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki keunikan dalam berperilaku: dalam merancang kegiatan, dalam memahami apa yang dimaksudkan dengan tuntas, apa yang dimaksudkan dengan kesempurnaan, dan seperti apa dalam memegang prinsip.
Hal-hal tersebut menjadi menarik ketika disandingkan dengan kepedulian terhadap bencana.
Related Results
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan relawan kebencanaan sebagai salah satu program kerja KKN Desa Tanjung Luar sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terlaksana dengan baik berkat kerjasam...
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
<em><span lang="EN-US">Kabupaten </span><span>Karanganyar</span><span lang="EN-US">, Provinsi </span><span>Jawa Tengah</span>&...
Kajian Risiko Bencana Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Di Nusa Tenggara Timur
Kajian Risiko Bencana Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Di Nusa Tenggara Timur
Indonesia adalah negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi karena kondisi geografisnya. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi berbagai ancaman bencana, termasuk gemp...
SOSIALISASI STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR (SOP) TANGGAP DARURAT DALAM MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH
SOSIALISASI STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR (SOP) TANGGAP DARURAT DALAM MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH
Abstrak
Bencana tanah longsor dapat mengakibatkan ancaman serius bagi masyarakat yang dapat menjadi situasi darurat bencana. Situasi darurat bencana ialah suatu peristiwa ata...
Dialektika Masyarakat Dan Bencana di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie
Dialektika Masyarakat Dan Bencana di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie
AbstractTangse is one of the sub-districts that located in Pidie district. About 190 km from Banda Aceh the capital of Aceh province. Since 2011 until 2018, disasters have become a...
TANTANGAN MANAJEMEN RISIKO BENCANA DI RUMAH SAKIT AMAN BENCANA (RSAB)
TANTANGAN MANAJEMEN RISIKO BENCANA DI RUMAH SAKIT AMAN BENCANA (RSAB)
Studi ini bertujuan untuk mengetahui tantangan manajemen risiko bencana di Rumah Sakit Aman Bencana (RSAB). Hasil studi menyatakan bahwa Manajemen Risiko Bencana adalah rangkaian t...
Social Survival Skill Masyarakat Rentan Bencana (Pasca Gempa Bumi Sulawesi Tengah Tahun 2018)
Social Survival Skill Masyarakat Rentan Bencana (Pasca Gempa Bumi Sulawesi Tengah Tahun 2018)
AbstractIndonesian territory is vulnerable to disasters, especially earthquakes. This is due to its position in the meeting of the three main plates of the world. This disaster haz...
IMPLEMENTASI PENANGGULANGAN BENCANA STUDI KASUS NAGARI SIAGA BENCANA (NAGASINA) DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
IMPLEMENTASI PENANGGULANGAN BENCANA STUDI KASUS NAGARI SIAGA BENCANA (NAGASINA) DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membentuk Kelompok Nagari Siaga Bencana (Nagasita) agar pelaksanaan penanggulangan bencana lebih optimal. Penulis ingin melihat pelaksana...

