Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pelatihan Sulam Pita bagi Warga Rusunawa Jatinegara Kaum, Klender Jakarta Timur

View through CrossRef
Kelompok Kerja Menjahit (Pokja) di Rusunawa Jatinegara Kaum, Klender dengan ketuanya ibu Sri Winarti mengalami kesulitan dalam mengaktifkan kegiatan, karena minimnya ide-ide kreatif dalam melakukan aktivitas. Selama ini aktivitas Pokja Menjahit hanyalah sekedar kegiatan vermak baju dan celana. Peserta Pokja Menjahit sebelumnya sudah pernah diberikan pelatihan menjahit, berupa pengenalan mesin jahit, membuat pola dasar, memotong bahan sampai dengan praktek menjahit hingga mengerjakan satu set baju. Namun kenyataannya, jauh panggang dari api, apa yang telah diberikan; pelatihan menjahit, penyediaan unit mesin jahit, dan penyedian bahan dasar untuk membuat pakaian, semua tidak dapat mereka maksimalkan, sehingga kegiatan Pokja Menjahit saat ini kondisinya dalam keadaan mati suri. Kegiatan pelatihan sulam pita merupakan kegiatan untuk mentransfer pengetahuan dan ketrampilan agar mitra memiliki kemampuan dan ketrampilan berkreasi menggunakan bahan pita. Tujuan kegiatan adalah: (a) memberikan ketrampilan, (b) mendorong mereka untuk berusaha mandiri, produktif dan inovatif, (c) memberikan rangsangan kreatif.  Kegiatan pelatihan menggunakan metode eksperimen dimana instruktur memberikan penjelasan dan contoh, kemudian peserta mencoba mengerjakan sesuai contoh. Tahapan pelatihan sebagai berikut; penjelasan mengenai bahan dan alat, mengenalkan berbagai pola sulam pita, membuat desain pola, dan membuat komposisi. Hasil dari pelatihan adalah kemampuan peserta dalam membuat karya sulam pita berupa bros, taplak, dan jilbab. Tailoring Working Group (Pokja) in Jatinegara Kaum Rusunawa, Klender with its chairman Mrs. Sri Winarti had difficulty activating activities, due to the lack of creative ideas in carrying out activities. During this time the Pokja Tailoring activity was just a fix it activity of clothes and pants. Participants of the Working Group Sewing previously had been given sewing training, in the form of the introduction of sewing machines, making basic patterns, cutting materials until the practice of sewing to work on a set of clothes. But in reality, it is far from the fire, what has been given; sewing training, provision of sewing machine units, and provision of basic materials to make clothes, they cannot maximize everything, so that the current Tailoring Working Group activities are in a state of suspended animation. Ribbon embroidery training activities are activities to transfer knowledge and skills so that the Tailoring Working Group members have the ability and creative skills to use ribbon materials. The objectives of the activities are: (a) providing skills, (b) encouraging them to try to be independent, productive and innovative, (c) to provide creative stimulation. Training activities use an experimental method where the instructor provides explanations and examples, then participants try to work on the examples. The training stages are as follows; explanation of materials and tools, introducing various patterns of ribbon embroidery, designing patterns, and making compositions. The results of the training were the ability of participants to make ribbon embroidery works in the form of brooches, tablecloths and hijabs.
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Title: Pelatihan Sulam Pita bagi Warga Rusunawa Jatinegara Kaum, Klender Jakarta Timur
Description:
Kelompok Kerja Menjahit (Pokja) di Rusunawa Jatinegara Kaum, Klender dengan ketuanya ibu Sri Winarti mengalami kesulitan dalam mengaktifkan kegiatan, karena minimnya ide-ide kreatif dalam melakukan aktivitas.
Selama ini aktivitas Pokja Menjahit hanyalah sekedar kegiatan vermak baju dan celana.
Peserta Pokja Menjahit sebelumnya sudah pernah diberikan pelatihan menjahit, berupa pengenalan mesin jahit, membuat pola dasar, memotong bahan sampai dengan praktek menjahit hingga mengerjakan satu set baju.
Namun kenyataannya, jauh panggang dari api, apa yang telah diberikan; pelatihan menjahit, penyediaan unit mesin jahit, dan penyedian bahan dasar untuk membuat pakaian, semua tidak dapat mereka maksimalkan, sehingga kegiatan Pokja Menjahit saat ini kondisinya dalam keadaan mati suri.
Kegiatan pelatihan sulam pita merupakan kegiatan untuk mentransfer pengetahuan dan ketrampilan agar mitra memiliki kemampuan dan ketrampilan berkreasi menggunakan bahan pita.
Tujuan kegiatan adalah: (a) memberikan ketrampilan, (b) mendorong mereka untuk berusaha mandiri, produktif dan inovatif, (c) memberikan rangsangan kreatif.
  Kegiatan pelatihan menggunakan metode eksperimen dimana instruktur memberikan penjelasan dan contoh, kemudian peserta mencoba mengerjakan sesuai contoh.
Tahapan pelatihan sebagai berikut; penjelasan mengenai bahan dan alat, mengenalkan berbagai pola sulam pita, membuat desain pola, dan membuat komposisi.
Hasil dari pelatihan adalah kemampuan peserta dalam membuat karya sulam pita berupa bros, taplak, dan jilbab.
 Tailoring Working Group (Pokja) in Jatinegara Kaum Rusunawa, Klender with its chairman Mrs.
Sri Winarti had difficulty activating activities, due to the lack of creative ideas in carrying out activities.
During this time the Pokja Tailoring activity was just a fix it activity of clothes and pants.
Participants of the Working Group Sewing previously had been given sewing training, in the form of the introduction of sewing machines, making basic patterns, cutting materials until the practice of sewing to work on a set of clothes.
But in reality, it is far from the fire, what has been given; sewing training, provision of sewing machine units, and provision of basic materials to make clothes, they cannot maximize everything, so that the current Tailoring Working Group activities are in a state of suspended animation.
Ribbon embroidery training activities are activities to transfer knowledge and skills so that the Tailoring Working Group members have the ability and creative skills to use ribbon materials.
The objectives of the activities are: (a) providing skills, (b) encouraging them to try to be independent, productive and innovative, (c) to provide creative stimulation.
Training activities use an experimental method where the instructor provides explanations and examples, then participants try to work on the examples.
The training stages are as follows; explanation of materials and tools, introducing various patterns of ribbon embroidery, designing patterns, and making compositions.
The results of the training were the ability of participants to make ribbon embroidery works in the form of brooches, tablecloths and hijabs.

Related Results

ATRIBUT KEPUASAN RUSUNAWA DI JAKARTA TIMUR
ATRIBUT KEPUASAN RUSUNAWA DI JAKARTA TIMUR
Kepuasan atas rusunawa menggambarkan jarak antara harapan dengan realitas yang dirasakan oleh penghuni. Atribut kepuasan atas rusunawa merupakan ukuran atas kepuasan yang dirasakan...
Perbandingan Hasil Pita Satin dengan Pita Katun Ukuran 2cm Pada Pembuatan Sulam Pita Sarung Bantal Kursi di Surabaya
Perbandingan Hasil Pita Satin dengan Pita Katun Ukuran 2cm Pada Pembuatan Sulam Pita Sarung Bantal Kursi di Surabaya
Seiring perkembangan jaman menghias rumah adalah merupakan hal yang penting, Menghias ruang tamu sangatlah diperhatikan terutama pada kursi dengan bantal kursinya, sering menjadi h...
DESAIN MOTIF TEKSTIL DENGAN INSPIRASI SULAM USUS
DESAIN MOTIF TEKSTIL DENGAN INSPIRASI SULAM USUS
Seiring berkembangnya jaman, kain tradisional Indonesia mulai banyak dikembangkan dengan harga yang lebih terjangkau sehingga dapat dikenakan masyarakat luas. Salah satu teknik kai...
RUSUNAWA SOMBO REDESIGN CONCEPT BASED ON RESIDENTS’ PERCEPTION KONSEP REDESAIN RUSUNAWA SOMBO BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI
RUSUNAWA SOMBO REDESIGN CONCEPT BASED ON RESIDENTS’ PERCEPTION KONSEP REDESAIN RUSUNAWA SOMBO BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI
Rusunawa merupakan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang di berlakukan pembayaran tiap bulan bagi penghuninya dengan digunakan bersama serta fasiltias bersama dan di b...
PEMILIHAN LOKASI RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA: STUDI KASUS RUSUNAWA PUTRI CEMPO, SURAKARTA
PEMILIHAN LOKASI RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA: STUDI KASUS RUSUNAWA PUTRI CEMPO, SURAKARTA
<p><em>Kota Surakarta memiliki luas wilayah sebesar 44,04 km<sup>2</sup> dengan kepadatan penduduk lebih dari 11.340,84 jiwa/km<sup>2</sup>. Seb...
Stasiun Jatinegara Era Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-1949
Stasiun Jatinegara Era Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-1949
Jatinegara, in this case Jatinegara Station, is one of the locations that has historical traces of a series of events defending the independence of the Republic of Indonesia from t...
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUSUNAWA UNIKI BERBASIS WEB
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUSUNAWA UNIKI BERBASIS WEB
In this day and age technology is needed along with meeting the needs itself. Information technology is one of the technologies that is currently developing rapidly. With advances ...
OPTIMALISASI PENGELOLAAN RUSUNAWA DI KOTA SEMARANG
OPTIMALISASI PENGELOLAAN RUSUNAWA DI KOTA SEMARANG
Rusunawa merupakah salah satu program untuk mengatasi permasalahan keterbatasan lahan dan ketidakmampuan MBR untuk menjangkau fasilitas hunian. Seiring dengan pembangunan rusunawa ...

Back to Top