Javascript must be enabled to continue!
SEJARAH TARI LUMINDA PADA MASYARAKAT BUNGKU DI KABUPATEN MOROWALI: 1925-2020
View through CrossRef
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan (1) sejarah tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (2) proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (3) perubahan-perubahan tari Luminda, dan (4) nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Luminda merupakan tari tradisi masyarakat Bungku yang selalu ditarikan pada pesta rakyat atau kegiatan hiburan di lingkungan istana. Tari Luminda awalnya dibawa oleh Waode Mpety, seorang putri keturunan bangsawan Buton. Waode Mpety datang ke Bungku menggunakan perahu layar yang penuh dengan ukiran dan hiasan sehingga perahu layar tersebut diberi gelar oleh adat “Sopeno Bangka Binooti”. Waode Mpety membawa beberapa pengikutnya yang dikenal dengan istilah Puak Suku. Puak Suku inilah yang membawa sebuah tarian yang disebut Linda. Tarian tersebut kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Bungku sehingga lahirlah tari Mohasili. Tari ini lebih dikenal dengan nama Tumadeako Samba sebagai tarian kaum bangsawan dan kemudian menjadi tari Luminda yang kita kenal sekarang ini.Proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali ditampilkan pada acara resmi pemerintahan, acara pesta adat dan perayaan ulang tahun Kabupaten Morowali. Perubahan-perubahan tari Luminda pada masyarakat Bungku terjadi dari tahun 1925-2020. Tahun 1925 terjadi perubahan model pakaian, alat musik dan bentuk gerakan tari Luminda. Sedangkan tahun 2020 terjadi perubahan bentuk pakaiannya dan alat musik atau alat pengiring. Nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali yaitu; 1). Nilai religius, 2). Nilai seni, 3). Nilai sosial dan 4). Nilai budaya.
Title: SEJARAH TARI LUMINDA PADA MASYARAKAT BUNGKU DI KABUPATEN MOROWALI: 1925-2020
Description:
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan (1) sejarah tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (2) proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (3) perubahan-perubahan tari Luminda, dan (4) nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Luminda merupakan tari tradisi masyarakat Bungku yang selalu ditarikan pada pesta rakyat atau kegiatan hiburan di lingkungan istana.
Tari Luminda awalnya dibawa oleh Waode Mpety, seorang putri keturunan bangsawan Buton.
Waode Mpety datang ke Bungku menggunakan perahu layar yang penuh dengan ukiran dan hiasan sehingga perahu layar tersebut diberi gelar oleh adat “Sopeno Bangka Binooti”.
Waode Mpety membawa beberapa pengikutnya yang dikenal dengan istilah Puak Suku.
Puak Suku inilah yang membawa sebuah tarian yang disebut Linda.
Tarian tersebut kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Bungku sehingga lahirlah tari Mohasili.
Tari ini lebih dikenal dengan nama Tumadeako Samba sebagai tarian kaum bangsawan dan kemudian menjadi tari Luminda yang kita kenal sekarang ini.
Proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali ditampilkan pada acara resmi pemerintahan, acara pesta adat dan perayaan ulang tahun Kabupaten Morowali.
Perubahan-perubahan tari Luminda pada masyarakat Bungku terjadi dari tahun 1925-2020.
Tahun 1925 terjadi perubahan model pakaian, alat musik dan bentuk gerakan tari Luminda.
Sedangkan tahun 2020 terjadi perubahan bentuk pakaiannya dan alat musik atau alat pengiring.
Nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali yaitu; 1).
Nilai religius, 2).
Nilai seni, 3).
Nilai sosial dan 4).
Nilai budaya.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
RELASI GENETIS BAHASA-BAHASA DI KABUPATEN MOROWALI/THE GENETIC RELATIONSHIP OF LANGUAGES IN MOROWALI REGENCY
RELASI GENETIS BAHASA-BAHASA DI KABUPATEN MOROWALI/THE GENETIC RELATIONSHIP OF LANGUAGES IN MOROWALI REGENCY
AbstrakArtikel ini bertujuan memaparkan relasi genetis bahasa-bahasa di Kabupaten Morowali, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak mel...
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
Tari Bedhaya Medang Kamulan merupakan tari bedhaya peringatan kemenangan Mpu Sindok. Penelitian ini mengungkap masalah yang berkaitan dengan tari Bedhaya Medang Kamulan karya Wahyu...
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
INOVASI GERAK TARI JAIPONGAN DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKSI JAQUELINE SMITH
Proses Inovasi Gerak Tari Jaipongan yang terjadi dikalangan generasi muda lebih digemari dari pada bentuk tari Jaipongan bentuk ketuk tilu. Hal menjadi permasalahan penting bagi pa...
KONSEP GARAPAN TARI TURAK DEWA MUSIRAWAS
KONSEP GARAPAN TARI TURAK DEWA MUSIRAWAS
Terbentuknya sebuah karya tari tidak terlepas pada konsep-konsep yang melatarbelakanginya. Konsep garapan tari tidak serta merta hadir dan dapat terwujud dengan mudah. Ada banyak p...
KONSEP GARAP TARI SAMBUT KAPO ILIM
KONSEP GARAP TARI SAMBUT KAPO ILIM
Abstrak: Karya tari yang berjudul “ Tari Sambut Kapo Ilim” merupakan karya yang terinsprirasi dari Tari Setabik yang berasal dari Musi Banyuasin. Terbentuknya sebuah karya tari ini...
Pelatihan Tari Kreasi sebagai Bentuk Apresiasi Seni Tari
Pelatihan Tari Kreasi sebagai Bentuk Apresiasi Seni Tari
Pendidikan seni ialah pendidikan yang memberikan wadah bagi anak untuk mengapresiasi diri sendiri dan lingkungan. Apresiasi akan timbul apabila pembelajaran dilaksanakan dengan bai...

