Javascript must be enabled to continue!
Aplikasi Biopestisida Fobio Terhadap Penyakit Moler (Fusarium oxysporum) Pada Tiga Varietas Bawang Merah Di Kota Probolinggo
View through CrossRef
Latar Belakang: Bawang merah (Allium Ascolonicum L). merupakan tanaman musiman yang banyak ditanam oleh para petani secara intensif. Meskipun permintaan hasil produktivitas tanaman ini terus meningkat, produksi dalam negeri masih belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena bawang merah adalah tanaman musiman. Rendahnya produktivitas tanaman bawang merah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya serangan Fusariumsp. yang jika tidak dikendalikan dapat menyebabkan gagal panen. Penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan Fusarium sp. sering menyebabkan ketergantungan dan pencemaran, sehingga diperlukan pengendalian alternatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi Biopestisida Fobio terhadap tiga varietas bawang merah dalam meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi intensitas serangan Fusarium sp. Metode: Metode yang digunakan adalah RAKF dengan faktor 1 terdiri dari tiga varietas bawang merah (Biru Lancor, Tajuk, dan Batu Ijo), faktor 2 berupa perlakuan petani dan tingkat konsentrasi Biopestisida Fobio 5 dan 10 ml/l. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan konsentrasi Biopestisida Fobio 5 ml/l dan varietas Biru Lancor mampu meningkatkan hasil terbaik dalam berbagai variabel seperti pada variabel tinggi tanaman, bobot basah, bobot kering, intensitas penyakit, dan masa inkubasi. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Biopestisida Fobio memiliki kapasitas dalam meningkatkan resistensi tanaman bawang merah terhadap serangan penyakit moler. Perlakuan dengan konsentrasi Biopestiisda Fobio 5 ml/l pada varietas bawang merah Biru Lancor menunjukkan hasil terbaik dalam berbagai variabel dibandingan dengan perlakuan lainnya, hal tersebut ditunjukan adanya peningkatan terhadap tinggi tanaman hingga 5 – 6 cm, bobot basah hingga 2,8 g/umbi, berat kering hingga 1,7 g/umbi, intensitas penyakit hingga 8% pada 42 HST, dan masa inkubasi terlama hingga 23 hari.
Kata kunci : Bawang Merah, Biopestisida Fobio, Fusarium sp.
University of Muhammadiyah Prof. Hamka (UHAMKA)
Title: Aplikasi Biopestisida Fobio Terhadap Penyakit Moler (Fusarium oxysporum) Pada Tiga Varietas Bawang Merah Di Kota Probolinggo
Description:
Latar Belakang: Bawang merah (Allium Ascolonicum L).
merupakan tanaman musiman yang banyak ditanam oleh para petani secara intensif.
Meskipun permintaan hasil produktivitas tanaman ini terus meningkat, produksi dalam negeri masih belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena bawang merah adalah tanaman musiman.
Rendahnya produktivitas tanaman bawang merah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya serangan Fusariumsp.
yang jika tidak dikendalikan dapat menyebabkan gagal panen.
Penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan Fusarium sp.
sering menyebabkan ketergantungan dan pencemaran, sehingga diperlukan pengendalian alternatif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi Biopestisida Fobio terhadap tiga varietas bawang merah dalam meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi intensitas serangan Fusarium sp.
Metode: Metode yang digunakan adalah RAKF dengan faktor 1 terdiri dari tiga varietas bawang merah (Biru Lancor, Tajuk, dan Batu Ijo), faktor 2 berupa perlakuan petani dan tingkat konsentrasi Biopestisida Fobio 5 dan 10 ml/l.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan konsentrasi Biopestisida Fobio 5 ml/l dan varietas Biru Lancor mampu meningkatkan hasil terbaik dalam berbagai variabel seperti pada variabel tinggi tanaman, bobot basah, bobot kering, intensitas penyakit, dan masa inkubasi.
Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Biopestisida Fobio memiliki kapasitas dalam meningkatkan resistensi tanaman bawang merah terhadap serangan penyakit moler.
Perlakuan dengan konsentrasi Biopestiisda Fobio 5 ml/l pada varietas bawang merah Biru Lancor menunjukkan hasil terbaik dalam berbagai variabel dibandingan dengan perlakuan lainnya, hal tersebut ditunjukan adanya peningkatan terhadap tinggi tanaman hingga 5 – 6 cm, bobot basah hingga 2,8 g/umbi, berat kering hingga 1,7 g/umbi, intensitas penyakit hingga 8% pada 42 HST, dan masa inkubasi terlama hingga 23 hari.
Kata kunci : Bawang Merah, Biopestisida Fobio, Fusarium sp.
Related Results
PENGOPTIMALAN PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DENGAN PEMANFAATAN PUPUK KANDANG AYAM
PENGOPTIMALAN PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DENGAN PEMANFAATAN PUPUK KANDANG AYAM
Bawang merah (Allium Ascalonicum L.) merupakan family dari Lilyceae yang berasal dari Asia Tengah, yaitu sekitar Bangladesh, India, dan Pakistan. Bawang merah merupakan salah satu ...
Pengaruh Pupuk Kandang Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Pada Lahan Gambut
Pengaruh Pupuk Kandang Dan Varietas Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Pada Lahan Gambut
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah bumbu masak yang populer digunakan dalam berbagai masakan. Untuk memenuhi kebutuhan produksi bawang...
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI BAWANG MERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI BAWANG MERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
<pre>Bawang merah memiliki peran strategis dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara. Bawang merah merupakan salah satu komoditas utama sebagai penyumbang inflasi. Namun dem...
PENGARUH AMELIORAN DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH GAMBUT
PENGARUH AMELIORAN DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH GAMBUT
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi, baik ditinjau dari sisi pemenuhan untuk konsumsi nasional, sebagai sumber peng...
Optimalisasi Petani Bawang Merah Melalui Alat Pengolah Bawang Merah 3 in 1
Optimalisasi Petani Bawang Merah Melalui Alat Pengolah Bawang Merah 3 in 1
Desa Tegalrejo merupakan salah satu desa penghasil bawang merah di daerah Tulungagung, dengan adanya kelompok tani maka pertanian di desa tersebut terbilang maju dan modern. Suko T...
Strategi Pengembangan Agribisnis Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Banyuwangi
Strategi Pengembangan Agribisnis Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Banyuwangi
Shallots are vegetable commodities that have long been superior and have been intensively cultivated by many farmers. They belong to the group of non-substituted spices that functi...
Hubungan antara Durasi Penyimpanan Umbi dan Kinerja Pertumbuhan serta Hasil Dua Varietas Bawang Merah
Hubungan antara Durasi Penyimpanan Umbi dan Kinerja Pertumbuhan serta Hasil Dua Varietas Bawang Merah
Bulb storage is a crucial post-harvest treatment in shallot (Allium ascalonicum L.) farming because suboptimal storage duration can reduce the quality of the bulbs, making them dif...
PENINGKATAN VIABILITAS BENIH PORANG MELALUI MOISTURIZING EKSTRAK BAWANG MERAH
PENINGKATAN VIABILITAS BENIH PORANG MELALUI MOISTURIZING EKSTRAK BAWANG MERAH
Perbanyakan tanaman porang dapat dilakukan dengan cara generatif menggunakan biji. Namun, kendala yang dihadapi perbanyakan secara generatif yaitu adanya masa dormansi pada benih p...

