Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Gerak Sejarah Integratif-Multidimensional: Warisan Sartono Kartodirdjo Bagi Filosofi Pendidikan Sejarah Menuju Society 5.0

View through CrossRef
Tulisan ini berupaya mengumandangkan kembali warisan pemikiran Sartono Kartodirdjo sebagai kerangka filosofi pendidikan sejarah (philosophical  framework of history education) dan historigrafi sekolah (school historiography). Metode peninjauan dilakukan dengan pembacaan terhadap tulisan dan karya Sartono Kartodirdjo untuk mengungkap logika narasi (narrative logic) yang dikembangkannya untuk menarasikan sejarah Indonesia. Berdasarkan pembacaan karya Sartono Kartodirdjo, peneliti menggaris bawahi pendekatan gerak sejarah integratif berperspektif multidimensional sebagai jalan tengah bagi kontestasi filosofi Pendidikan sejarah di Indonesia. Melalui pendekatan ini setidaknya dua arah landasan filosofis Pendidikan sejarah yaitu penguatan kebangsaan dan tuntutan pengembangan pengetahuan kesejarahan bagi masyarakat Indonesia dapat disejajarkan secara proporsional dalam ruang Pendidikan Sejarah. Dalam konteks pendidikan sejarah di era Society 5.0, gagasan gerak sejarah integratif dan perspektif multidimensional tersebut dapat menjadi landasan filosofis dan arah pembelajaran sejarah yang memberikan ruang seimbang bagi penguatan identitas nasional dan kemampuan berfikir ilmiah peserta didik.Kata kunci: Pendidikan Sejarah, Sartono Kartodirdjo, filosofi pendidikanThis paper seeks to reiterate the legacy of Sartono Kartodirdjo's thought as a philosophical framework of historical education (philosophical framework of history education) and school history (school historiography). The review method was carried out by reading the writings and works of Sartono Kartodirdjo to reveal the narrative logic he developed to narrate the history of Indonesia. Based on the reading of Sartono Kartodirdjo's work, the researcher underlined the multidimensional perspective of integrative historical motion approaches as a middle ground for the contestation of the philosophy of historical education in Indonesia. Through this approach, at least two directions of the philosophical foundation of historical education, namely the strengthening of nationality and the demand for thedevelopment of historical knowledge for the Indonesian people, can be aligned proportionally in the Historical Education space. In the context of history education for Society 5.0, the concept of integrative historical movement can be a philosophical foundation that lead future direction of history learning to give an equal opportunity to strengten the national identity as well as the scientific thinking skills of the students.Keywords: Historical Education, Sartono Kartodirdjo, Philosophy of Education
Universitas Sriwijaya - Pusat Inovasi Pembelajaran Unsri
Title: Gerak Sejarah Integratif-Multidimensional: Warisan Sartono Kartodirdjo Bagi Filosofi Pendidikan Sejarah Menuju Society 5.0
Description:
Tulisan ini berupaya mengumandangkan kembali warisan pemikiran Sartono Kartodirdjo sebagai kerangka filosofi pendidikan sejarah (philosophical  framework of history education) dan historigrafi sekolah (school historiography).
Metode peninjauan dilakukan dengan pembacaan terhadap tulisan dan karya Sartono Kartodirdjo untuk mengungkap logika narasi (narrative logic) yang dikembangkannya untuk menarasikan sejarah Indonesia.
Berdasarkan pembacaan karya Sartono Kartodirdjo, peneliti menggaris bawahi pendekatan gerak sejarah integratif berperspektif multidimensional sebagai jalan tengah bagi kontestasi filosofi Pendidikan sejarah di Indonesia.
Melalui pendekatan ini setidaknya dua arah landasan filosofis Pendidikan sejarah yaitu penguatan kebangsaan dan tuntutan pengembangan pengetahuan kesejarahan bagi masyarakat Indonesia dapat disejajarkan secara proporsional dalam ruang Pendidikan Sejarah.
Dalam konteks pendidikan sejarah di era Society 5.
0, gagasan gerak sejarah integratif dan perspektif multidimensional tersebut dapat menjadi landasan filosofis dan arah pembelajaran sejarah yang memberikan ruang seimbang bagi penguatan identitas nasional dan kemampuan berfikir ilmiah peserta didik.
Kata kunci: Pendidikan Sejarah, Sartono Kartodirdjo, filosofi pendidikanThis paper seeks to reiterate the legacy of Sartono Kartodirdjo's thought as a philosophical framework of historical education (philosophical framework of history education) and school history (school historiography).
The review method was carried out by reading the writings and works of Sartono Kartodirdjo to reveal the narrative logic he developed to narrate the history of Indonesia.
Based on the reading of Sartono Kartodirdjo's work, the researcher underlined the multidimensional perspective of integrative historical motion approaches as a middle ground for the contestation of the philosophy of historical education in Indonesia.
Through this approach, at least two directions of the philosophical foundation of historical education, namely the strengthening of nationality and the demand for thedevelopment of historical knowledge for the Indonesian people, can be aligned proportionally in the Historical Education space.
In the context of history education for Society 5.
0, the concept of integrative historical movement can be a philosophical foundation that lead future direction of history learning to give an equal opportunity to strengten the national identity as well as the scientific thinking skills of the students.
Keywords: Historical Education, Sartono Kartodirdjo, Philosophy of Education.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Transformasi Bangunan Warisan Bersejarah: Suatu Tinjauan Menyeluruh
Transformasi Bangunan Warisan Bersejarah: Suatu Tinjauan Menyeluruh
Bangunan warisan bersejarah merupakan satu khazanah peninggalan warisan yang tidak ternilai harganya. Kewujudannya banyak memberikan manfaat kepada negara, baik dari aspek sosial m...
BAGAIMANA MENGAJARKAN GERAK LOKOMOTOR PADA ANAK USIA DINI?
BAGAIMANA MENGAJARKAN GERAK LOKOMOTOR PADA ANAK USIA DINI?
ABSTRACTNormally all people have fundamental movement. In the fact, there are people had not normally fundamental movement. This condition became when children play with his friend...
Bentuk Penyajian da Struktur Gerak Tari Pat Kupati di Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin
Bentuk Penyajian da Struktur Gerak Tari Pat Kupati di Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian pada tari Pat Kupati di Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin. Dan untuk mendeskripsikan Struktur Gerak Tari Pat Kupati. M...
Editorial
Editorial
Pada mulanya politik dianggap sebagai tulang punggung sejarah, demikian dinyatakan oleh Kuntowijoyo (2003: 174). Oleh karena itu pula, lanjutnya, teks-teks sejarah selalu berisi re...
Perbandingan Fondasi dan Filosofi Pendidikan Kristen dengan Metode Montessori dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Perbandingan Fondasi dan Filosofi Pendidikan Kristen dengan Metode Montessori dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan adalah pilar penting dalam pembentukan karakter anak, dan filosofi yang mendasari metode pendidikan sangat memengaruhi cara seorang pendidik dalam mengajar. Di tengah be...
PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF SYAIKH AHMAD SURKATI (PENELUSURAN IDE PENERAPAN PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF DI MADRASAH AL-IRSYAD)
PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF SYAIKH AHMAD SURKATI (PENELUSURAN IDE PENERAPAN PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF DI MADRASAH AL-IRSYAD)
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ide, gagasan dan penerapan pendidikan Islam integratif syaikh Ahmad Surkati pada madrasah Al-Irsyad.  Metode Penelitian...
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
Perkembangan disiplin ilmu sejarah buat sekian lama memusatkan perbahasannya kepada falsafah “tiada dokumen, tiada sejarah” sebagai wadah merealisasikan matlamat sejarawan untuk me...

Back to Top