Javascript must be enabled to continue!
Pemikiran Teologi Maturidiyyah (Pendekatan Sejarah)
View through CrossRef
AbstractThe birth of the major schools of classical theology cannot be separated from the political dynamics that occurred in the early days of the history of Muslims. At specific points, these dynamics then give rise to problems that are at the same time central issues in the realm of theology. Māturīdiyyah emerged as a response to Mu'tazilah thought but on the other hand, it is also closer to the Mu'tazilah school because it gives greater authority to reason. Therefore, this study aims to determine the theological thinking of Maturidiyah. This literature research uses a historical approach with the assumption that the behavior and theological thoughts of an individual and a religious community cannot be explained and understood apart from the ties of influence or the social, political, and cultural factors surrounding them. The results of this study indicate that the emergence of the Māturīdiyyah school was motivated by al-Māturīdī's dissatisfaction with the rationalist (Mu'tazilah) and traditionalist (Hanbaliyyah)methods of kalam, as well as concerns over the widespread understanding of the Qarāmiṭah Shi'ism which was heavily influenced by the Mazdakism and Manichaeism schools. The Māturīdiyyah school was heavily influenced by the thoughts of Ab anīfah and the heterogeneous conditions of its society so that its theological thinking was close to the Mu'tazilah. For Al-Māturīdī, there is only one knowledge, namely religious knowledge which is based on two sources, namely as-sam' (tradition) and al-'aql (reason). As for the theory of action, according to al-Māturīdī, the servant's actions (af'āl al-'ibād) if attributed to Allah then mean creation (khalqan wa jādan). However, if the servant's actions (af'āl al-'ibād) are attributed to humans, it means effort (fi'lan wa kasban).Keywords: Thought, Theology, Māturīdiyyah.AbstrakLahirnya mazhab-mazhab besar teologi klasik tidak terlepas dari dinamika politik yang terjadi padamasa-masa awal perjalanan sejarah umat Islam. Pada titik-titik tertentu dinamika ini kemudian melahirkan persoalan-persoalan yang sekaligus merupakan isu-isu sentral dalam ranah teologi. Māturīdiyyah muncul sebagai respon terhadap pemikiran Mu’tazilah namun di sisi lain juga lebih dekat pada mazhab Mu'tazilah karena lebih memberikan otoritas yang besar pada akal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran teologi Maturidiyah. Penelitian kepustakaan ini menggunakan pendekatan sejarah dengan asumsi tingkah laku dan alam pikiran teologis seorang individu dan masyarakat beragama tidak bisa diterangkan dan dimengerti lepas dari ikatan pengaruh atau faktor-faktor sosial, politik dan kebudayaan yang mengitarinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahirnya aliran Māturīdiyyah dilatarbelakangi oleh rasa tidak puas al-Māturīdī terhadap metode kalam kaum rasionalis (Mu'tazilah) dan kaum tradisionalis (Hanbaliyyah), serta kekhawatiran atas meluasnya paham Syi’ah Qarāmiṭah yang banyak dipengaruhi oleh aliran Mazdakism dan Manichaenism. Aliran Māturīdiyyah banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abū Ḥanīfah serta kondisi masyarakatnya yang heterogen sehingga pemikiran teologisnya dekat dengan Mu'tazilah. Bagi Al-Māturīdī, hanya ada satu pengetahuanyaitu pengetahuan keagamaan yang didasarkan atas dua sumber yaitu as-sam' (tradisi) dan al-’aql (akal). Adapun tentang teori perbuatan, menurut al-Māturīdī, perbuatan hamba (af'āl al-'ibād) jika dinisbatkan kepada Allah maka bermakna peciptaan (khalqan waījādan). Namun jika perbuatan hamba (af'āl al-'ibād) dinisbatkan pada manusia maka bermakna usaha (fi’lan wa kasban).Kata kunci: Pemikiran, Teologi, Māturīdiyyah.
Centre for Research and Community Development - Islamic University of Nahdlatul Ulama Jepara
Title: Pemikiran Teologi Maturidiyyah (Pendekatan Sejarah)
Description:
AbstractThe birth of the major schools of classical theology cannot be separated from the political dynamics that occurred in the early days of the history of Muslims.
At specific points, these dynamics then give rise to problems that are at the same time central issues in the realm of theology.
Māturīdiyyah emerged as a response to Mu'tazilah thought but on the other hand, it is also closer to the Mu'tazilah school because it gives greater authority to reason.
Therefore, this study aims to determine the theological thinking of Maturidiyah.
This literature research uses a historical approach with the assumption that the behavior and theological thoughts of an individual and a religious community cannot be explained and understood apart from the ties of influence or the social, political, and cultural factors surrounding them.
The results of this study indicate that the emergence of the Māturīdiyyah school was motivated by al-Māturīdī's dissatisfaction with the rationalist (Mu'tazilah) and traditionalist (Hanbaliyyah)methods of kalam, as well as concerns over the widespread understanding of the Qarāmiṭah Shi'ism which was heavily influenced by the Mazdakism and Manichaeism schools.
The Māturīdiyyah school was heavily influenced by the thoughts of Ab anīfah and the heterogeneous conditions of its society so that its theological thinking was close to the Mu'tazilah.
For Al-Māturīdī, there is only one knowledge, namely religious knowledge which is based on two sources, namely as-sam' (tradition) and al-'aql (reason).
As for the theory of action, according to al-Māturīdī, the servant's actions (af'āl al-'ibād) if attributed to Allah then mean creation (khalqan wa jādan).
However, if the servant's actions (af'āl al-'ibād) are attributed to humans, it means effort (fi'lan wa kasban).
Keywords: Thought, Theology, Māturīdiyyah.
AbstrakLahirnya mazhab-mazhab besar teologi klasik tidak terlepas dari dinamika politik yang terjadi padamasa-masa awal perjalanan sejarah umat Islam.
Pada titik-titik tertentu dinamika ini kemudian melahirkan persoalan-persoalan yang sekaligus merupakan isu-isu sentral dalam ranah teologi.
Māturīdiyyah muncul sebagai respon terhadap pemikiran Mu’tazilah namun di sisi lain juga lebih dekat pada mazhab Mu'tazilah karena lebih memberikan otoritas yang besar pada akal.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran teologi Maturidiyah.
Penelitian kepustakaan ini menggunakan pendekatan sejarah dengan asumsi tingkah laku dan alam pikiran teologis seorang individu dan masyarakat beragama tidak bisa diterangkan dan dimengerti lepas dari ikatan pengaruh atau faktor-faktor sosial, politik dan kebudayaan yang mengitarinya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahirnya aliran Māturīdiyyah dilatarbelakangi oleh rasa tidak puas al-Māturīdī terhadap metode kalam kaum rasionalis (Mu'tazilah) dan kaum tradisionalis (Hanbaliyyah), serta kekhawatiran atas meluasnya paham Syi’ah Qarāmiṭah yang banyak dipengaruhi oleh aliran Mazdakism dan Manichaenism.
Aliran Māturīdiyyah banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abū Ḥanīfah serta kondisi masyarakatnya yang heterogen sehingga pemikiran teologisnya dekat dengan Mu'tazilah.
Bagi Al-Māturīdī, hanya ada satu pengetahuanyaitu pengetahuan keagamaan yang didasarkan atas dua sumber yaitu as-sam' (tradisi) dan al-’aql (akal).
Adapun tentang teori perbuatan, menurut al-Māturīdī, perbuatan hamba (af'āl al-'ibād) jika dinisbatkan kepada Allah maka bermakna peciptaan (khalqan waījādan).
Namun jika perbuatan hamba (af'āl al-'ibād) dinisbatkan pada manusia maka bermakna usaha (fi’lan wa kasban).
Kata kunci: Pemikiran, Teologi, Māturīdiyyah.
Related Results
HUBUNGAN TEOLOGI BIBLIKA DENGAN DIVISI-DIVISI LAIN DALAM DISIPLIN ILMU TEOLOGI
HUBUNGAN TEOLOGI BIBLIKA DENGAN DIVISI-DIVISI LAIN DALAM DISIPLIN ILMU TEOLOGI
Abstract: The Bible is the holy book of Christians. In the academic field of theology, the Bible is the main capital of the book which is the subject that must be learned. Learn th...
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
Perkembangan disiplin ilmu sejarah buat sekian lama memusatkan perbahasannya kepada falsafah “tiada dokumen, tiada sejarah” sebagai wadah merealisasikan matlamat sejarawan untuk me...
TELAAH KONSEPTUAL PENDEKATAN KUANTITATIF DALAM SEJARAH
TELAAH KONSEPTUAL PENDEKATAN KUANTITATIF DALAM SEJARAH
Pendekatan sejarah menjelaskan dari segi mana kajian sejarah hendak dilakukan, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkapkannya, dan lain sebagainya. Deskripsi ...
Produk Pemikiran Hukum Islam di Indonesia
Produk Pemikiran Hukum Islam di Indonesia
Produk pemikiran hukum Islam di Indonesia terdiri dari produk pemikiran fikih, produk pemikiran fatwa ulama, produk pemikiran keputusan pengadilan (yurisprudensi), produk pemikiran...
Evaluasi Kristis Pandangan Teologi Kemakmuran Tentang Pemahaman Makna Penderitaan
Evaluasi Kristis Pandangan Teologi Kemakmuran Tentang Pemahaman Makna Penderitaan
Teologi kemakmuran merupakan salah satu gerakan yang muncul dan menjadi satu fenomena tersendiri yang sangat mempengaruhi kehidupan keKristenan sejak abad ke-20. Bagi teologi kema...
Telaah Kritis Teologi Islam Klasik Menuju Pemikiran Teologi Membumi
Telaah Kritis Teologi Islam Klasik Menuju Pemikiran Teologi Membumi
Tulisan ini bersifat konstruksi paradigmatik pemikiran teologi Islam kritis. Untuk memahami konstruksi pemikiran tersebut, penulis mengemukakan berbagai pergeseran pemikiran teolog...
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN HASAN HANAFI DALAM BIDANG TEOLOGI ISLAM
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN HASAN HANAFI DALAM BIDANG TEOLOGI ISLAM
Secara teoritis Teologi Islam yang bersifat dialektis menurut Hasan Hanafi lebih mengarah pada mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya. Teologi tidah hanya merupakan ide...

