Javascript must be enabled to continue!
SEJARAH KECAMATAN MAWASANGKA TENGAH KABUPATEN BUTON TENGAH (2005-2017)
View through CrossRef
ABSTRAK: Permasalahan dalam penelitian mengkajian bagaimana kronologi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan mawasangka Tengah dan bagaimana perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah (2005-2017). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1). Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2). Verifikasi (Kritik Sumber), 3). Histiografi (Penulisan Sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Kronologi pembentukan Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Awal mula rencana pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah, yang ditandai dengan upaya masyarakat setempat untuk bersama-sama berjuang untuk pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah sejak tahun 2000. (b) Terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, yang resmi terbentuk pada tanggal 27 Agustus 2005, setelah melalui konsolidasi dan koordinasi seluruh elemen masyarakat. 2). Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Faktor geografis/wilayah yang menekankan kepada kondisi wilayah yang luas, jumlah penduduk yang cukup memungkinkan untuk mekar, (b) Faktor demografi/kependudukan dimana jumlah penduduk yang sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan menjadi daerah baru, (c) Faktor lingkungan lebih kepada pembelajaran kepada daerah lain yang telah mekar sehingga dijadikan contoh, (d) Faktor dukungan masyarakat yang membuat semua elemen masysrakat semangat untuk bahu membahu memperjuangkan pemekaran, dan (e) Faktor pembangunan yakni karena pembangunan di segala aspek yang sudah memadai. 3) Perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah 2005-2017 sudah cukup baik dapat dilihat dari (a) Bidang administrasi yakni dengan terbentuknya 2 desa baru serta dinaikkannya status Desa Lakorua menjadi Kelurahan Lakorua sebagai ibu kota kecamatan, sehingga keseluruhan berjumlah 9 desa dan 1 kelurahan, (b) Bidang sosial mencakup pendidikan dan kesehatan. Terdapat 9 gedung SD, 3 gedung SMP dan 3 gedung SMA. Sedangkan dari aspek kesehatan terdapat 1 gedung puskesmas dan 1 klinik kesehatan, (c) Bidang infrastruktur yang sangat berbeda dibandingkan sebelum pemekaran yakni terdapat Kantor Camat dan Kantor Polsek, (d) Bidang ekonomi, yang sebagian besar masyarakatnya lebih mengandalkan sector pertanian/perkebunan dan perdagangan. Kata Kunci: Krimonologi, faktor, perkembangan ABSTRACT: The problem in research studies how the chronology of the formation of Central Mawasangka District, what factors influence the formation of Central Mawasangka District and how the development of Central Mawasangka District (2005-2017). The method used in this study is the historical method according to Helius Sjamsuddin with the following stages: 1). Heuristics (Collection of Sources), 2). Verification (Source Criticism), 3). Histiography (Writing History). The results of this study indicate that: 1) Chronology of the formation of Central Mawasangka District includes: (a) The origin of the planned expansion of Central Mawasangka District, which was marked by the efforts of the local community to jointly fight for the expansion of Central Mawasangka District since 2000. (b) Central Mawasangka District, which was officially formed on August 27, 2005, after going through consolidation and coordination of all elements of society. 2). Factors influencing the formation of Central Mawasangka Subdistrict include: (a) Geographical / regional factors that emphasize the condition of a wide area, sufficient population size that is possible to bloom, (b) Demographic / population factors where the number of residents who have fulfilled the requirements for expansion become a new area, (c) Environmental factors are more towards learning to other regions that have bloomed so that they are used as an example, (d) Community support factors that make all elements of the community enthusiastic to work together to fight for pemekaran, and (e) Development factors which are due to development in all aspects are sufficient. 3) The development of Central Mawasangka Subdistrict 2005-2017 is good enough, it can be seen from (a) Administration sector, namely the formation of 2 new villages and the improvement of the status of Lakorua Village to become Lakorua Village as the capital of the sub-district, so that in total there are 9 villages and 1 kelurahan, (b ) The social sector includes education and health. There are 9 elementary buildings, 3 junior high buildings and 3 high school buildings. Whereas from the health aspect there are 1 puskesmas building and 1 health clinic, (c) Infrastructure sector which is very different compared to before the division namely there is the Camat Office and Polsek Office, (d) The economic sector, most of the people rely more on the agriculture / plantation and trade sectors . Keywords: Crimonology, factors, development
FKIP Universitas Halu Oleo
Title: SEJARAH KECAMATAN MAWASANGKA TENGAH KABUPATEN BUTON TENGAH (2005-2017)
Description:
ABSTRAK: Permasalahan dalam penelitian mengkajian bagaimana kronologi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan mawasangka Tengah dan bagaimana perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah (2005-2017).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1).
Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2).
Verifikasi (Kritik Sumber), 3).
Histiografi (Penulisan Sejarah).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Kronologi pembentukan Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Awal mula rencana pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah, yang ditandai dengan upaya masyarakat setempat untuk bersama-sama berjuang untuk pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah sejak tahun 2000.
(b) Terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, yang resmi terbentuk pada tanggal 27 Agustus 2005, setelah melalui konsolidasi dan koordinasi seluruh elemen masyarakat.
2).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Faktor geografis/wilayah yang menekankan kepada kondisi wilayah yang luas, jumlah penduduk yang cukup memungkinkan untuk mekar, (b) Faktor demografi/kependudukan dimana jumlah penduduk yang sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan menjadi daerah baru, (c) Faktor lingkungan lebih kepada pembelajaran kepada daerah lain yang telah mekar sehingga dijadikan contoh, (d) Faktor dukungan masyarakat yang membuat semua elemen masysrakat semangat untuk bahu membahu memperjuangkan pemekaran, dan (e) Faktor pembangunan yakni karena pembangunan di segala aspek yang sudah memadai.
3) Perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah 2005-2017 sudah cukup baik dapat dilihat dari (a) Bidang administrasi yakni dengan terbentuknya 2 desa baru serta dinaikkannya status Desa Lakorua menjadi Kelurahan Lakorua sebagai ibu kota kecamatan, sehingga keseluruhan berjumlah 9 desa dan 1 kelurahan, (b) Bidang sosial mencakup pendidikan dan kesehatan.
Terdapat 9 gedung SD, 3 gedung SMP dan 3 gedung SMA.
Sedangkan dari aspek kesehatan terdapat 1 gedung puskesmas dan 1 klinik kesehatan, (c) Bidang infrastruktur yang sangat berbeda dibandingkan sebelum pemekaran yakni terdapat Kantor Camat dan Kantor Polsek, (d) Bidang ekonomi, yang sebagian besar masyarakatnya lebih mengandalkan sector pertanian/perkebunan dan perdagangan.
Kata Kunci: Krimonologi, faktor, perkembangan ABSTRACT: The problem in research studies how the chronology of the formation of Central Mawasangka District, what factors influence the formation of Central Mawasangka District and how the development of Central Mawasangka District (2005-2017).
The method used in this study is the historical method according to Helius Sjamsuddin with the following stages: 1).
Heuristics (Collection of Sources), 2).
Verification (Source Criticism), 3).
Histiography (Writing History).
The results of this study indicate that: 1) Chronology of the formation of Central Mawasangka District includes: (a) The origin of the planned expansion of Central Mawasangka District, which was marked by the efforts of the local community to jointly fight for the expansion of Central Mawasangka District since 2000.
(b) Central Mawasangka District, which was officially formed on August 27, 2005, after going through consolidation and coordination of all elements of society.
2).
Factors influencing the formation of Central Mawasangka Subdistrict include: (a) Geographical / regional factors that emphasize the condition of a wide area, sufficient population size that is possible to bloom, (b) Demographic / population factors where the number of residents who have fulfilled the requirements for expansion become a new area, (c) Environmental factors are more towards learning to other regions that have bloomed so that they are used as an example, (d) Community support factors that make all elements of the community enthusiastic to work together to fight for pemekaran, and (e) Development factors which are due to development in all aspects are sufficient.
3) The development of Central Mawasangka Subdistrict 2005-2017 is good enough, it can be seen from (a) Administration sector, namely the formation of 2 new villages and the improvement of the status of Lakorua Village to become Lakorua Village as the capital of the sub-district, so that in total there are 9 villages and 1 kelurahan, (b ) The social sector includes education and health.
There are 9 elementary buildings, 3 junior high buildings and 3 high school buildings.
Whereas from the health aspect there are 1 puskesmas building and 1 health clinic, (c) Infrastructure sector which is very different compared to before the division namely there is the Camat Office and Polsek Office, (d) The economic sector, most of the people rely more on the agriculture / plantation and trade sectors .
Keywords: Crimonology, factors, development.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
SEJARAH KELURAHAN TAKIMPO KECAMATAN PASARWAJO KABUPATEN BUTON (1981-2017)
SEJARAH KELURAHAN TAKIMPO KECAMATAN PASARWAJO KABUPATEN BUTON (1981-2017)
ABSTRAK: Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Apa yang melatarbelakangi terbentuknya Kelurahan Takimpo Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton? 2) Bagaimana proses...
SEJARAH DESA TERAPUNG DI KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH (1970-2017)
SEJARAH DESA TERAPUNG DI KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH (1970-2017)
ABSTRAK: Fokus dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana asal mula orang Bajo di Desa Terapung Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah? 2) Bagaimana pola pemukiman orang Bajo di...
TATA KELOLA DESA WISATA BERBASIS POLITIK LOKAL DI DESA GUMANANO, KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH
TATA KELOLA DESA WISATA BERBASIS POLITIK LOKAL DI DESA GUMANANO, KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH
Penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan tata kelola desa wisata berbasis politik lokal di Desa Gumanano, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah. Penelitian ini me...
SEJARAH DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH (1977-2017)
SEJARAH DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH (1977-2017)
ABSTRAK: Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apa latar belakang terbentuknya Desa Talaga Besar Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah? (2) Bagaimana berkemban...
PREPOSISI BAHASA CIACIA DI DESA WABULA KECAMATAN WABULA KABUPATEN BUTON
PREPOSISI BAHASA CIACIA DI DESA WABULA KECAMATAN WABULA KABUPATEN BUTON
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk preposisi bahasa Ciacia di Desa Wabula, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah me...
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
SEJARAH LISAN DALAM DISIPLIN ILMU SEJARAH: ANTARA REALITI DAN REPRESENTASI
Perkembangan disiplin ilmu sejarah buat sekian lama memusatkan perbahasannya kepada falsafah “tiada dokumen, tiada sejarah” sebagai wadah merealisasikan matlamat sejarawan untuk me...

