Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kabut Sebuah Imajinasi Penciptaan Film

View through CrossRef
Intuisi dan imajinasi adalah sesuatu yang tidak bisa dirancang, kedatanganya secara tiba-tiba diterima oleh seorang seniman. Kabut sebagai objek  dirasa memiliki kencenderungan meyakini „sesuatu? adalah penyebab ataupun hakikat. Faktor intuitif pada konteks film dijadikan landasan ide. Proses ide berawal respon individu pada kabut, intuisi terkait sejalan dengan imajinasi. Kabut didefinisikan sebagai anggapan dasar yang mengarahkan individu dalam menentukan kerangka ontologis. Paradigma muncul sesudah terjadi anomali pada fenomena kabut. Kabut dilihat sebagai objek, memiliki kejanggalan. Kejanggalan pada fenomena kabut yang hilang menandakan bahwa sebenarnya kabut itu masih tetap ada. Hakikat dari pembuatan film yang tidak konvensial mendorong terciptanya metode tersendiri yang berbeda dengan metode umum penciptaan film. Intuisi  dan  imajinasi sebagai bahan utama lahirnya karya film “Kabut” melebur menjadi karya utuh yang sebelumnya terurai dari tahapan-tahapan. Subjektivitas pada menginventarisir ide penciptaan karya berdasarkan imajinasi dan intuisi mendorong individu untuk melakukan observasi atau pengamatan langsung objek yang berkaitan dengan perubahan kehidupan sosial saat setiap orang mempunyai handphone sebagai perpanjangan panca indera. Esensi dari film eksperimental mengacu pada individu mengolah gagasan dengan capaian tertentu. Ciri khas dari individu pada penciptaan dalam mengekspresikan dirinya melalui film “Kabut” mengacu pada pemakaian handphone.  Cara kerja eksperimental dihadirkan melalui handphone sebagai simbol-simbol pribadi.
Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo
Title: Kabut Sebuah Imajinasi Penciptaan Film
Description:
Intuisi dan imajinasi adalah sesuatu yang tidak bisa dirancang, kedatanganya secara tiba-tiba diterima oleh seorang seniman.
Kabut sebagai objek  dirasa memiliki kencenderungan meyakini „sesuatu? adalah penyebab ataupun hakikat.
Faktor intuitif pada konteks film dijadikan landasan ide.
Proses ide berawal respon individu pada kabut, intuisi terkait sejalan dengan imajinasi.
Kabut didefinisikan sebagai anggapan dasar yang mengarahkan individu dalam menentukan kerangka ontologis.
Paradigma muncul sesudah terjadi anomali pada fenomena kabut.
Kabut dilihat sebagai objek, memiliki kejanggalan.
Kejanggalan pada fenomena kabut yang hilang menandakan bahwa sebenarnya kabut itu masih tetap ada.
Hakikat dari pembuatan film yang tidak konvensial mendorong terciptanya metode tersendiri yang berbeda dengan metode umum penciptaan film.
Intuisi  dan  imajinasi sebagai bahan utama lahirnya karya film “Kabut” melebur menjadi karya utuh yang sebelumnya terurai dari tahapan-tahapan.
Subjektivitas pada menginventarisir ide penciptaan karya berdasarkan imajinasi dan intuisi mendorong individu untuk melakukan observasi atau pengamatan langsung objek yang berkaitan dengan perubahan kehidupan sosial saat setiap orang mempunyai handphone sebagai perpanjangan panca indera.
Esensi dari film eksperimental mengacu pada individu mengolah gagasan dengan capaian tertentu.
Ciri khas dari individu pada penciptaan dalam mengekspresikan dirinya melalui film “Kabut” mengacu pada pemakaian handphone.
  Cara kerja eksperimental dihadirkan melalui handphone sebagai simbol-simbol pribadi.

Related Results

Reclaiming the Wasteland: Samson and Delilah and the Historical Perception and Construction of Indigenous Knowledges in Australian Cinema
Reclaiming the Wasteland: Samson and Delilah and the Historical Perception and Construction of Indigenous Knowledges in Australian Cinema
It was always based on a teenage love story between the two kids. One is a sniffer and one is not. It was designed for Central Australia because we do write these kids off there. N...
Alternative Entrances: Phillip Noyce and Sydney’s Counterculture
Alternative Entrances: Phillip Noyce and Sydney’s Counterculture
Phillip Noyce is one of Australia’s most prominent film makers—a successful feature film director with both iconic Australian narratives and many a Hollywood blockbuster under his ...
REFLEKSI PENCIPTAAN TEATRIKAL TARI GOOD ANRONG
REFLEKSI PENCIPTAAN TEATRIKAL TARI GOOD ANRONG
REFLEKSI PENCIPTAAN TEATRIKAL TARI GOOD ANRONG (Muhammad Ibnu Sholihin,2022) Skripsi Program Studi S-1 Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakart...
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Pengelolaan Air Berbasis Masyarakat (CBFiWM)
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Pengelolaan Air Berbasis Masyarakat (CBFiWM)
Informasi yang menyesatkan tentang kebakaran hutan dan masalah kabut asap disebabkan oleh kurangnya upaya penelitian berbasis sains dan studi tentang kebakaran hutan/pembakaran ter...
Kajian Awal : Prediksi Kabut Berdasarkan Data Observasi di Wilayah Bandara Zainuddin Abdul Madjid
Kajian Awal : Prediksi Kabut Berdasarkan Data Observasi di Wilayah Bandara Zainuddin Abdul Madjid
Penurunan jarak pandang akibat partikel basah (halimun dan kabut) merupakan fenomena yang dapat terjadi di wilayah bandara Zainuddin Abdul Madjid (ZAM). Peristiwa ini cukup sulit u...
Harry Potter, Inc.
Harry Potter, Inc.
Engagement in any capacity with mainstream media since mid-2001 has meant immersion in the cross-platform, multimedia phenomenon of Harry Potter: Muggle outcast; boy wizard; corpor...
Spray Coated Nanocellulose Films Productions, Characterization and Application
Spray Coated Nanocellulose Films Productions, Characterization and Application
Nanocellulose (NC) is a biodegradable, renewable and sustainable material. It has strong potential to use as a functional material in various applications such as barriers, coating...
Boja kao izlagački aspekt narativnoga filma
Boja kao izlagački aspekt narativnoga filma
The dissertation, titled Colour as an Expository Aspect of the Narrative Film, explores how color shapes the narrative, aesthetic, and emotional dimensions of film. Analyzing the h...

Back to Top