Javascript must be enabled to continue!
LUANGAN: MANIFESTASI WARISAN BUDAYA DAN SIMBOL KEMERIAHAN DALAM PESTA BABULANG MASYARAKAT BISAYA DI LIMBANG, SARAWAK
View through CrossRef
Abstrak
Pesta Babulang Bisaya yang berlangsung di Limbang, Sarawak, adalah manifestasi budaya yang kaya dengan keindahan estetika serta warisan etnografi yang mencerminkan identiti masyarakat Bisaya. Kain rentang tradisional yang dikenali sebagai luangan menjadi salah satu elemen budaya yang terpenting, sarat dengan simbolisme dan nilai tradisi yang mendalam. Terdapat pelbagai jenis luangan, antaranya badal-badal, rawai-rawai, dan jaujadar, yang masing-masing membawa makna tersendiri dan digunakan dalam pelbagai acara seperti perkahwinan, makan doa salamat, upacara ritual tamarok belian, serta pesta kebudayaan Babulang. Kajian etnografi yang dilakukan di perkampungan Bisaya di Limbang menumpukan pada analisis motif dan ragam hias yang terkandung dalam kain luangan, di mana elemen-elemen ini dilihat sebagai simbol budaya dan menjadi penanda identiti kelompok etnik ini. Melalui kaedah kajian kualitatif yang melibatkan pemerhatian langsung, temu bual, dan rakaman audio-visual, penyelidik dapat merungkai simbolisme di sebalik motif-motif tersebut yang menghubungkan masyarakat Bisaya dengan persekitaran semula jadi mereka. Pengaruh alam sekitar jelas terpancar dalam pemilihan warna, bentuk, dan tekstur kain, menunjukkan hubungan simbiotik antara budaya dan alam. Kain rentang ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai alat untuk memperkukuhkan identiti etnik dan memperkasa kedudukan masyarakat Bisaya dalam peta budaya Malaysia yang lebih besar. Justeru, kajian mengenai luangan ini bukan sahaja memberikan sumbangan penting terhadap pemahaman kita mengenai estetika dan budaya masyarakat Bisaya, malah memperkaya wacana antropologi budaya, khususnya dalam konteks masyarakat pribumi di Malaysia.
Kata kunci: Bisaya Limbang, objek budaya, kain rentang, motif, ragam hias.
ABSTRACT
The Bisaya Babulang Festival held in Limbang, Sarawak, is a cultural manifestation rich in aesthetic beauty and ethnographic heritage that reflects the identity of the Bisaya community. The traditional banner known as luangan is one of the most important cultural elements, laden with deep symbolism and traditional values. There are various types of luangan, including badal-badal, rawai-rawai, and jaujadar, each of which carries its own meaning and is used in various events such as weddings, salamat prayers, tamarok belian rituals, and the Babulang cultural festival. The ethnographic study conducted in the Bisaya village in Limbang focused on analyzing the motifs and decorations contained in the luangan cloth, where these elements are seen as cultural symbols and markers of the identity of this ethnic group. Through qualitative research methods involving direct observation, interviews, and audio-visual recordings, the researchers were able to unravel the symbolism behind these motifs that connect the Bisaya community with their natural environment. The influence of the environment is clearly reflected in the choice of colors, shapes, and textures of the fabrics, demonstrating the symbiotic relationship between culture and nature. These banners not only function as decorations, but also as a tool to reinforce ethnic identity and empower the Bisaya community's position in the larger cultural map of Malaysia. Therefore, the study of this leisure not only makes an important contribution to our understanding of the aesthetics and culture of the Bisaya community, but also enriches the discourse of cultural anthropology, especially in the context of indigenous communities in Malaysia.
Keywords: Bisaya Limbang, cultural objects, banners, motifs, decorative patterns.
Universiti Malaysia Sabah (UMS)
Title: LUANGAN: MANIFESTASI WARISAN BUDAYA DAN SIMBOL KEMERIAHAN DALAM PESTA BABULANG MASYARAKAT BISAYA DI LIMBANG, SARAWAK
Description:
Abstrak
Pesta Babulang Bisaya yang berlangsung di Limbang, Sarawak, adalah manifestasi budaya yang kaya dengan keindahan estetika serta warisan etnografi yang mencerminkan identiti masyarakat Bisaya.
Kain rentang tradisional yang dikenali sebagai luangan menjadi salah satu elemen budaya yang terpenting, sarat dengan simbolisme dan nilai tradisi yang mendalam.
Terdapat pelbagai jenis luangan, antaranya badal-badal, rawai-rawai, dan jaujadar, yang masing-masing membawa makna tersendiri dan digunakan dalam pelbagai acara seperti perkahwinan, makan doa salamat, upacara ritual tamarok belian, serta pesta kebudayaan Babulang.
Kajian etnografi yang dilakukan di perkampungan Bisaya di Limbang menumpukan pada analisis motif dan ragam hias yang terkandung dalam kain luangan, di mana elemen-elemen ini dilihat sebagai simbol budaya dan menjadi penanda identiti kelompok etnik ini.
Melalui kaedah kajian kualitatif yang melibatkan pemerhatian langsung, temu bual, dan rakaman audio-visual, penyelidik dapat merungkai simbolisme di sebalik motif-motif tersebut yang menghubungkan masyarakat Bisaya dengan persekitaran semula jadi mereka.
Pengaruh alam sekitar jelas terpancar dalam pemilihan warna, bentuk, dan tekstur kain, menunjukkan hubungan simbiotik antara budaya dan alam.
Kain rentang ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai alat untuk memperkukuhkan identiti etnik dan memperkasa kedudukan masyarakat Bisaya dalam peta budaya Malaysia yang lebih besar.
Justeru, kajian mengenai luangan ini bukan sahaja memberikan sumbangan penting terhadap pemahaman kita mengenai estetika dan budaya masyarakat Bisaya, malah memperkaya wacana antropologi budaya, khususnya dalam konteks masyarakat pribumi di Malaysia.
Kata kunci: Bisaya Limbang, objek budaya, kain rentang, motif, ragam hias.
ABSTRACT
The Bisaya Babulang Festival held in Limbang, Sarawak, is a cultural manifestation rich in aesthetic beauty and ethnographic heritage that reflects the identity of the Bisaya community.
The traditional banner known as luangan is one of the most important cultural elements, laden with deep symbolism and traditional values.
There are various types of luangan, including badal-badal, rawai-rawai, and jaujadar, each of which carries its own meaning and is used in various events such as weddings, salamat prayers, tamarok belian rituals, and the Babulang cultural festival.
The ethnographic study conducted in the Bisaya village in Limbang focused on analyzing the motifs and decorations contained in the luangan cloth, where these elements are seen as cultural symbols and markers of the identity of this ethnic group.
Through qualitative research methods involving direct observation, interviews, and audio-visual recordings, the researchers were able to unravel the symbolism behind these motifs that connect the Bisaya community with their natural environment.
The influence of the environment is clearly reflected in the choice of colors, shapes, and textures of the fabrics, demonstrating the symbiotic relationship between culture and nature.
These banners not only function as decorations, but also as a tool to reinforce ethnic identity and empower the Bisaya community's position in the larger cultural map of Malaysia.
Therefore, the study of this leisure not only makes an important contribution to our understanding of the aesthetics and culture of the Bisaya community, but also enriches the discourse of cultural anthropology, especially in the context of indigenous communities in Malaysia.
Keywords: Bisaya Limbang, cultural objects, banners, motifs, decorative patterns.
Related Results
BUDAYA TARI BUBU MENGALAI – MEDIA KONVENSIONAL DAN PEMBENTUKAN TARI MASYARAKAT BISAYA DI BEAUFORT, SABAH
BUDAYA TARI BUBU MENGALAI – MEDIA KONVENSIONAL DAN PEMBENTUKAN TARI MASYARAKAT BISAYA DI BEAUFORT, SABAH
Artikel ini menjelaskan tentang latar belakang masyarakat Bisaya. Ia memperkenalkan budaya tradisi mereka menerusi tarian tradisi Bubu Mengalai yang diamalkan sejak zaman dahulu hi...
Pengaruh Warisan Budaya Lokal dalam Karya Seni Visual Kontemporari Seniman Generasi Muda di Malaysia
Pengaruh Warisan Budaya Lokal dalam Karya Seni Visual Kontemporari Seniman Generasi Muda di Malaysia
Kajian ini bertujuan untuk mendekati, memahami dan menjelaskan pengaruh warisan budaya local dalam karya seni visual kontemporari di Malaysia yang telah diciptakan oleh para senima...
SIMBOL DALAM SUKU DAYAK KAYAN KALIMANTAN UTARA
SIMBOL DALAM SUKU DAYAK KAYAN KALIMANTAN UTARA
Simbol dalam Suku Dayak Kayan. Simbol adalah tanda atau suatu isyarat dalam masyarakat Dayak Kayan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat lainnya. Selain daripada itu simbo...
Globalisasi, Warisan Budaya, dan Pariwisata:
Globalisasi, Warisan Budaya, dan Pariwisata:
Penelitian ini menjelaskan tentang pengaruh globalisasi terhadap warisan budaya di Kepulauan Riau, yaitu Teater Bangsawan, sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Kepulauan Ria...
Penggunaan Simbol pada Dongeng Ande-Ande Lumut Karya Tira Ikranegara
Penggunaan Simbol pada Dongeng Ande-Ande Lumut Karya Tira Ikranegara
Latar Belakang: Dalam dongeng Ande-Ande Lumut karya Tira Ikranegara ini terdapat beberapa simbol yang harus ditafsirkan atau dimaknai oleh pembaca. Simbol-simbol tersebut perlu dit...
VALUATION OF CULTURAL HERITAGE ASSET: ISSUES AND CHALLENGES
VALUATION OF CULTURAL HERITAGE ASSET: ISSUES AND CHALLENGES
AbstrakPenilaian hartanah warisan budaya adalah berbeza bila dibandingkan dengan aset atau hartanah lainkerana warisan budaya tidak dapat dijualbeli secara aktif dalam pasaran. Keb...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...

