Javascript must be enabled to continue!
Produksi Karya Teater Pakeliran "BIBI ANU"
View through CrossRef
Teater Pakeliran "Bibi Anu" mengeksplorasi tema ketidakpastian lahan di Bali yang disebabkan oleh konversi lahan yang berkelanjutan, menyoroti konflik antara tradisi dan modernisasi yang mempengaruhi identitas budaya masyarakat Bali. Judul "Bibi Anu" memiliki makna filosofis yang mendalam, dengan "Bibi" melambangkan ibu sebagai penjaga kehidupan, dan "Anu" mencerminkan ketidakjelasan perubahan sosial. Karya ini menggabungkan seni pewayangan dan seni teater, dengan proses kreatif yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Setiap tahap mencerminkan hubungan yang berkembang antara manusia dan lahan, dari harmoni dengan alam hingga krisis yang dipicu oleh perubahan sosial yang cepat. Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga babak, masing-masing dengan makna yang signifikan. Babak pertama menggambarkan harmoni antara manusia dan alam berdasarkan prinsip Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Babak kedua mengeksamin pergeseran nilai-nilai tradisional akibat pariwisata, yang mengubah cara hidup di Bali. Babak ketiga berfokus pada krisis emosional yang diakibatkan oleh diskoneksi antara manusia dan lahan, menyebabkan perasaan kehilangan dan kecemasan. Karya ini mengajak refleksi kritis tentang tantangan melestarikan tradisi di tengah modernisasi. "Bibi Anu" memfasilitasi dialog tentang perubahan sosial dan lingkungan di Bali, mengeksplorasi hubungan kompleks antara manusia, budaya, dan alam dalam dunia yang berubah dengan cepat.
Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Title: Produksi Karya Teater Pakeliran "BIBI ANU"
Description:
Teater Pakeliran "Bibi Anu" mengeksplorasi tema ketidakpastian lahan di Bali yang disebabkan oleh konversi lahan yang berkelanjutan, menyoroti konflik antara tradisi dan modernisasi yang mempengaruhi identitas budaya masyarakat Bali.
Judul "Bibi Anu" memiliki makna filosofis yang mendalam, dengan "Bibi" melambangkan ibu sebagai penjaga kehidupan, dan "Anu" mencerminkan ketidakjelasan perubahan sosial.
Karya ini menggabungkan seni pewayangan dan seni teater, dengan proses kreatif yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan.
Setiap tahap mencerminkan hubungan yang berkembang antara manusia dan lahan, dari harmoni dengan alam hingga krisis yang dipicu oleh perubahan sosial yang cepat.
Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga babak, masing-masing dengan makna yang signifikan.
Babak pertama menggambarkan harmoni antara manusia dan alam berdasarkan prinsip Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam.
Babak kedua mengeksamin pergeseran nilai-nilai tradisional akibat pariwisata, yang mengubah cara hidup di Bali.
Babak ketiga berfokus pada krisis emosional yang diakibatkan oleh diskoneksi antara manusia dan lahan, menyebabkan perasaan kehilangan dan kecemasan.
Karya ini mengajak refleksi kritis tentang tantangan melestarikan tradisi di tengah modernisasi.
"Bibi Anu" memfasilitasi dialog tentang perubahan sosial dan lingkungan di Bali, mengeksplorasi hubungan kompleks antara manusia, budaya, dan alam dalam dunia yang berubah dengan cepat.
Related Results
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
ABSTRAK
Pada dasarnya nilai pendidikan karakter mempunyai tiga bagian yang saling bekaitan, yaitu pengetahuan moral, penghayatan moral dan perilaku moral. Oleh karena...
Teater Pakeliran “Arya Pengalasan”
Teater Pakeliran “Arya Pengalasan”
Wayang merupakan media pertunjukan dengan tujuan memberikan kontribusi di dunia Pedalangan dan manfaat untuk memberikan inspirasi bahwa dunia Pewayangan akan semakin berkembang. Sa...
Keterpaduan Garap Pakeliran dalam Adegan Sekel Galih Wayang Jekdong Lakon Rabine Srigati
Keterpaduan Garap Pakeliran dalam Adegan Sekel Galih Wayang Jekdong Lakon Rabine Srigati
Wayang jekdong merupakan bentuk idiom yang merujuk pada praktik pedalangan dengan nuansa budaya Jawa Timur. Komunitas penikmat wayang kulit Jawa Timuran, beranggapan jika jekdong a...
Pertunjukan Musik Teatrikal “IBU” Produksi Teater Koma
Pertunjukan Musik Teatrikal “IBU” Produksi Teater Koma
Penelitian ini membahas musik teatrikal bergaya opera dari pertunjukan musik teatrikal Ibu produksi Teater Koma. Teater Koma telah memilih berbagai komunikasi ekpresifnya, di anta...
IDEALOGI DALAM DRAMA TIANG SERI TEGAK BERLIMA KARYA NOORDIN HASSAN
IDEALOGI DALAM DRAMA TIANG SERI TEGAK BERLIMA KARYA NOORDIN HASSAN
Interpretasi karya Noordin Hassan lazimnya memperlihatkan unsur-unsur keagamaan dan kemasyarakatan dalam menentukan kerangka dalam fitrah manusia. Ironinya, karya Noordin Hassan be...
Peristiwa Teater Tu(M)Buh Sebagai Konstruksi Politik Tubuh
Peristiwa Teater Tu(M)Buh Sebagai Konstruksi Politik Tubuh
ABSTRACT Body politics is often stigmatized in the context of community and government institutions, such as the military, hospitals, prisons, etc. This study shows the body politi...
PROSES ADAPTASI PERTUNJUKAN PANGGUNG KE VIDEO: Studi Kasus Karya Tari COLOHOK Ciptaan Anter Asmorotedjo
PROSES ADAPTASI PERTUNJUKAN PANGGUNG KE VIDEO: Studi Kasus Karya Tari COLOHOK Ciptaan Anter Asmorotedjo
AbstrakPertunjukan panggung yang dialihmediakan menjadi video, merupakan contoh fenomena adaptasi dalam penciptaan karya seni. Begitupula yang terjadi dalam karya tari Colohok, cip...
Analisis Proses Produksi Program Halo Makassar di Celebes TV Makassar
Analisis Proses Produksi Program Halo Makassar di Celebes TV Makassar
Di era global ini, tentu kita tidak asing lagi dengan kata “teknologi informasi”. Salah satu jenis teknologi informasi itu adalah televisi, teknologi informasi yang satu ini umum d...

