Javascript must be enabled to continue!
VARIASI GENETIK BEBERAPA SPESIES KAPAS (Gossypium sp.) BERDASARKAN KERAGAMAN POLA PITA ISOZIM
View through CrossRef
<p>ABSTRAK</p><p>Deskripsi aksesi-aksesi kapas berdasarkan karakter morfologinyatelah disusun berdasarkan descriptor list yang disusun oleh IBPGR, akantetapi marka genetik dari aksesi-aksesi tersebut belum diketahui. Penelitianini bertujuan untuk mempelajari keragaman pola-pita isozim Peroksidase(PER), Esterase (EST), dan Aspartate amino transferase (AAT) pada 19aksesi kapas dan kemiripan ke-19 aksesi kapas berdasarkan ketiga isozimtersebut. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2008 di RumahKaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta dan analisisisozim dilakukan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, PAU Ilmu HayatIPB. Metode analisis yang digunakan adalah elektroforesis gel pati tipehorisontal dengan tiga sistem enzim, yaitu enzim peroksidase (PER),esterase (EST), dan aspartate amino transferase (AAT). Penelitianmenghasilkan data berupa pola pita isozim yang selanjutnya dibuat dalamdata biner. Data biner yang dihasilkan dibuat dalam persamaan matrik dandilanjutkan analisis gerombol dengan metode ‘UPGMA’ (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) menggunakan fungsi SHAN padaProgram NTSYSpc versi 2.02. Hasil penelitian menunjukkan bahwaIsozim esterase dapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 1 (terbentuksatu pita spesifik) dan Kanesia 6 (satu pita spesifik); isozim peroksidasedapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 3 (dua pita pada kutub positif),aksesi-aksesi G. barbadense (dalam hal ini CTX-3 dan Giza-90 dua pitapada kutub positif) dan G. arboreum (empat pita pada kutub positif dansatu pita pada kutub negatif). Sedangkan isozim aspartat amino tranferasedapat dijadikan marka genetik bagi spesies G. herbaceum (dua pitaspesifik). Selain itu, terdapat kemiripan genetik antar aksesi kapasberdasarkan ketiga isozim (EST, PER, dan AAT). Pengelompokanberdasarkan ketiga isozim dari ke-19 aksesi kapas diketahui bahwa padajarak kemiripan 0,59 atau kemiripan 59% semua aksesi kapas menyatu,yang terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama hanya terdiri aksesiKanesia 1 saja. Sedangkan Kelompok kedua terdiri atas aksesi-aksesiKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90 dan Kanesia 5.</p><p>Kata kunci: Gossypium sp., keragaman genetik, pola pita isozim</p><p>ABSTRACT</p><p>Genetic Diversity of Cotton Species (Gossypium sp.)Based on Variation of Isozyme Banding Pattern</p><p>Morphological characters of cotton accessions have been describedbased on the descriptor list produced by IBPGR, but the genetic markersfor those accessions have not yet been known. This research aimed atstudying the diversity and similarity among 19 cotton accessions based onisozyme banding patterns of peroxidase (PER), esterase (EST), andaspartate amino transferase (AAT). Research was carried out in February2008 at the green house of Faculty of Agriculture, Sebelas MaretUniversity, Surakarta and the isozyme was analyzed in Plant BiologicalLaboratory, Biological Science PAU IPB. Samples were electrophoresedon horizontal type of potato extract gel and stained with three enzymesystems, i.e. peroxidase (PER), esterase (EST), and aspartate aminotransferase ( AAT). The isozyme bandings were scored and translated intobinary data, which was then used to deduce the similarity amongaccessions and to draw dendrogram by using 'UPGMA' (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) method from the NTSYSPC softwareversion 2.02. Experimental results showed that isozyme esterase can beused as genetic marker for Kanesia 1 (one specific band) and Kanesia 6(one specific band). Isozyme peroxidase can be used as genetic marker forKanesia 3 (two bands at positive end), accessions G. barbadense i.e. CTX-3 and Giza-90 (two bands at positive end) and G. arboreum (four bands atpositive end and one band at negative). Isozyme aspartate aminotransferase can be used as genetic marker for spesies G. herbaceum (twospecific bands). Moreover, the similarity analysis among 19 cottonaccessions based on the three isozymes showed that at the similarity levelof 59%, all accessions are divided in two groups. The first group consistedof Kanesia 1 only. Whereas the second group consisted of accessionsKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90, and Kanesia 5.</p><p>Key words: Gossypium sp., genetic diversity, isozyme banding pattern</p>
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Title: VARIASI GENETIK BEBERAPA SPESIES KAPAS (Gossypium sp.) BERDASARKAN KERAGAMAN POLA PITA ISOZIM
Description:
<p>ABSTRAK</p><p>Deskripsi aksesi-aksesi kapas berdasarkan karakter morfologinyatelah disusun berdasarkan descriptor list yang disusun oleh IBPGR, akantetapi marka genetik dari aksesi-aksesi tersebut belum diketahui.
Penelitianini bertujuan untuk mempelajari keragaman pola-pita isozim Peroksidase(PER), Esterase (EST), dan Aspartate amino transferase (AAT) pada 19aksesi kapas dan kemiripan ke-19 aksesi kapas berdasarkan ketiga isozimtersebut.
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2008 di RumahKaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta dan analisisisozim dilakukan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, PAU Ilmu HayatIPB.
Metode analisis yang digunakan adalah elektroforesis gel pati tipehorisontal dengan tiga sistem enzim, yaitu enzim peroksidase (PER),esterase (EST), dan aspartate amino transferase (AAT).
Penelitianmenghasilkan data berupa pola pita isozim yang selanjutnya dibuat dalamdata biner.
Data biner yang dihasilkan dibuat dalam persamaan matrik dandilanjutkan analisis gerombol dengan metode ‘UPGMA’ (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) menggunakan fungsi SHAN padaProgram NTSYSpc versi 2.
02.
Hasil penelitian menunjukkan bahwaIsozim esterase dapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 1 (terbentuksatu pita spesifik) dan Kanesia 6 (satu pita spesifik); isozim peroksidasedapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 3 (dua pita pada kutub positif),aksesi-aksesi G.
barbadense (dalam hal ini CTX-3 dan Giza-90 dua pitapada kutub positif) dan G.
arboreum (empat pita pada kutub positif dansatu pita pada kutub negatif).
Sedangkan isozim aspartat amino tranferasedapat dijadikan marka genetik bagi spesies G.
herbaceum (dua pitaspesifik).
Selain itu, terdapat kemiripan genetik antar aksesi kapasberdasarkan ketiga isozim (EST, PER, dan AAT).
Pengelompokanberdasarkan ketiga isozim dari ke-19 aksesi kapas diketahui bahwa padajarak kemiripan 0,59 atau kemiripan 59% semua aksesi kapas menyatu,yang terbagi menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama hanya terdiri aksesiKanesia 1 saja.
Sedangkan Kelompok kedua terdiri atas aksesi-aksesiKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90 dan Kanesia 5.
</p><p>Kata kunci: Gossypium sp.
, keragaman genetik, pola pita isozim</p><p>ABSTRACT</p><p>Genetic Diversity of Cotton Species (Gossypium sp.
)Based on Variation of Isozyme Banding Pattern</p><p>Morphological characters of cotton accessions have been describedbased on the descriptor list produced by IBPGR, but the genetic markersfor those accessions have not yet been known.
This research aimed atstudying the diversity and similarity among 19 cotton accessions based onisozyme banding patterns of peroxidase (PER), esterase (EST), andaspartate amino transferase (AAT).
Research was carried out in February2008 at the green house of Faculty of Agriculture, Sebelas MaretUniversity, Surakarta and the isozyme was analyzed in Plant BiologicalLaboratory, Biological Science PAU IPB.
Samples were electrophoresedon horizontal type of potato extract gel and stained with three enzymesystems, i.
e.
peroxidase (PER), esterase (EST), and aspartate aminotransferase ( AAT).
The isozyme bandings were scored and translated intobinary data, which was then used to deduce the similarity amongaccessions and to draw dendrogram by using 'UPGMA' (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) method from the NTSYSPC softwareversion 2.
02.
Experimental results showed that isozyme esterase can beused as genetic marker for Kanesia 1 (one specific band) and Kanesia 6(one specific band).
Isozyme peroxidase can be used as genetic marker forKanesia 3 (two bands at positive end), accessions G.
barbadense i.
e.
CTX-3 and Giza-90 (two bands at positive end) and G.
arboreum (four bands atpositive end and one band at negative).
Isozyme aspartate aminotransferase can be used as genetic marker for spesies G.
herbaceum (twospecific bands).
Moreover, the similarity analysis among 19 cottonaccessions based on the three isozymes showed that at the similarity levelof 59%, all accessions are divided in two groups.
The first group consistedof Kanesia 1 only.
Whereas the second group consisted of accessionsKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90, and Kanesia 5.
</p><p>Key words: Gossypium sp.
, genetic diversity, isozyme banding pattern</p>.
Related Results
Status taksonomi iktiofauna endemik perairan tawar Sulawesi
Status taksonomi iktiofauna endemik perairan tawar Sulawesi
The freshwaters of Sulawesi are the habitat of numerous endemic Indonesian ichthyofauna that are not found anywhere else in the world. About 68 endemic fish species described from ...
Pemilihan Tetua Persilangan pada Kubis (Brassica oleracea var. capitata) melalui Analisis Keragaman Genetik [Parental Line Selection in Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) through Genetic Diversity Analysis]
Pemilihan Tetua Persilangan pada Kubis (Brassica oleracea var. capitata) melalui Analisis Keragaman Genetik [Parental Line Selection in Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) through Genetic Diversity Analysis]
<p>Kubis (<em>Brassica oleracea</em> var. <em>capitata</em>) merupakan salah satu jenis sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Untuk meningkatk...
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas
<p>Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, <em>Amrasca biguttulla&...
Pengembangan Kapas Rakyat di Sulawesi Selatan
Pengembangan Kapas Rakyat di Sulawesi Selatan
Program akselerasi pengembangan kapas sebagai upaya percepatan peningkatan luas areal dan produksi kapas dilakukan dalam rangka meningkatkan pemenuhan kebutuhan serat kapas sebaga...
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Galur S3 Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Kering
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Galur S3 Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Kering
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan heritabilitas arti luas karakter kuantitatif galur S3 tanaman jagung di lahan kering. Percobaan dilakukan pada bulan...
<b>IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN SERANGGA MENGGUNAKAN DUA JENIS PERANGKAP DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS SALI AL-AITAAM KABUPATEN BANDUNG</b>
<b>IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN SERANGGA MENGGUNAKAN DUA JENIS PERANGKAP DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS SALI AL-AITAAM KABUPATEN BANDUNG</b>
Serangga adalah salah satu organisme dengan tingkat keanekaragaman spesies tertinggi di dunia. Kampus Universitas Sali Al-Aitaam berada di Desa Cipagalo Kabupaten Bandung yang dike...
DISTRIBUSI DAN KEMELIMPAHAN PLANKTON DI WET DUNE SLACKS GUMUK PASIR PARANGTRITIS, BANTUL, DIY.
DISTRIBUSI DAN KEMELIMPAHAN PLANKTON DI WET DUNE SLACKS GUMUK PASIR PARANGTRITIS, BANTUL, DIY.
Komunitas plankton memiliki peran penting pada proses rantai makanan, siklus nutrien dan proses suksesi awal wet dune slacks. Kawasan wet dune slacks merupakan cekungan yang berada...
Keragaman Genotipik dan Fenotipik 48 Aksesi Kedelai Introduksi Asal Cina
Keragaman Genotipik dan Fenotipik 48 Aksesi Kedelai Introduksi Asal Cina
<p>Sebagai salah satu komoditas tanaman pangan penting di Indonesia setelah padi dan jagung, kedelai memerlukan upaya peningkatan keragaman genetik dengan cara introduksi aks...

