Javascript must be enabled to continue!
Penatalaksanaan Hipertensi Emergensi
View through CrossRef
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik >180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >120 mmHg disertai bukti kerusakan organ target (target organ damage). Target penurunan tekanan darah pada hipertensi emergensi adalah segera dalam hitungan menit hingga 1-2 jam, sehingga diperlukan obat antihipertensi intravena dengan onset kerja cepat dan durasi kerja pendek (short acting). Prinsip pemilihan obat antihipertensi injeksi adalah berdasarkan presentasi klinis, obat pilihan pertama atau kedua, faktor komorbid, kontraindikasi, dan ketersediaan obat. Labetalol dan nicardipine adalah dua obat antihipertensi yang paling banyak direkomendasikan dalam berbagai guideline sebagai terapi lini pertama berbagai bentuk klinis hipertensi emergensi. Tujuan pengobatan hipertensi emergensi adalah mencegah atau membatasi kerusakan organ target lebih lanjut. Penurunan tekanan darah dilakukan secara gradual untuk mengembalikan autoregulasi organ, sehingga perfusi organ yang normal dapat dipertahankan.
Hypertensive emergency is defined as systolic blood pressure >180 mmHg and/or diastolic blood pressure >120 mmHg with evidence of target organ damage. The target of lowering blood pressure in hypertensive emergency is immediately within minutes to 1-2 hours, so intravenous antihypertensive drugs with a rapid onset of action and short acting duration are needed. The principle of drug selection is based on the clinical presentation with consideration of the target organ damage, the first or second drug of choice, comorbid factors, contraindications, and availability. Labetalol and nicardipine are the two most widely recommended antihypertensive drugs in various guidelines as first-line therapy in various forms of clinical presentation of hypertensive emergency. The goal of treatment is to prevent or limit further target organ damage. Blood pressure reduction is conducted gradually to restore organ autoregulation, to maintain normal organ perfusion
Title: Penatalaksanaan Hipertensi Emergensi
Description:
Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik >180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >120 mmHg disertai bukti kerusakan organ target (target organ damage).
Target penurunan tekanan darah pada hipertensi emergensi adalah segera dalam hitungan menit hingga 1-2 jam, sehingga diperlukan obat antihipertensi intravena dengan onset kerja cepat dan durasi kerja pendek (short acting).
Prinsip pemilihan obat antihipertensi injeksi adalah berdasarkan presentasi klinis, obat pilihan pertama atau kedua, faktor komorbid, kontraindikasi, dan ketersediaan obat.
Labetalol dan nicardipine adalah dua obat antihipertensi yang paling banyak direkomendasikan dalam berbagai guideline sebagai terapi lini pertama berbagai bentuk klinis hipertensi emergensi.
Tujuan pengobatan hipertensi emergensi adalah mencegah atau membatasi kerusakan organ target lebih lanjut.
Penurunan tekanan darah dilakukan secara gradual untuk mengembalikan autoregulasi organ, sehingga perfusi organ yang normal dapat dipertahankan.
Hypertensive emergency is defined as systolic blood pressure >180 mmHg and/or diastolic blood pressure >120 mmHg with evidence of target organ damage.
The target of lowering blood pressure in hypertensive emergency is immediately within minutes to 1-2 hours, so intravenous antihypertensive drugs with a rapid onset of action and short acting duration are needed.
The principle of drug selection is based on the clinical presentation with consideration of the target organ damage, the first or second drug of choice, comorbid factors, contraindications, and availability.
Labetalol and nicardipine are the two most widely recommended antihypertensive drugs in various guidelines as first-line therapy in various forms of clinical presentation of hypertensive emergency.
The goal of treatment is to prevent or limit further target organ damage.
Blood pressure reduction is conducted gradually to restore organ autoregulation, to maintain normal organ perfusion.
Related Results
Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Penatalaksanaan Hipertensi
Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Penatalaksanaan Hipertensi
Prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2023 sebesar 30,8% mengalami penurunan dari tahun 2018 yaitu 34,1% akan tetapi masih terdapat kesenjangan antara penderita yang terdiagnosi...
KRISIS HIPERTENSI
KRISIS HIPERTENSI
KRISIS HIPERTENSIHypertensive CrisesRisa HerlianitaProgram Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah MalangJl. Bendungan Sutami 188A Malang 651...
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN HIPERTENSI TERHADAP TATALAKSANA HIPERTENSI DI KLINIK DOKTER 24 JAM MELATI TASIKMALAYA
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PASIEN HIPERTENSI TERHADAP TATALAKSANA HIPERTENSI DI KLINIK DOKTER 24 JAM MELATI TASIKMALAYA
Prevalensi penyakit hipertensi di kota Tasikmalaya masih tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kesadaran penderita terhadap kesehatan masih rendah. Masih banyak p...
Pemberdayaan Masyarakat sebagai Upaya Deteksi Dini Faktor Risiko Hipertensi
Pemberdayaan Masyarakat sebagai Upaya Deteksi Dini Faktor Risiko Hipertensi
Hipertensi masih merupakan masalah kesehatan yang penting. Prevalensi hipertensi nasional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebesar 35,8% dengan proporsi kasus hipertensi yang te...
Profil Hipertensi pada Anak di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Profil Hipertensi pada Anak di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Latar belakang. Hipertensi pada anak masih mendapat perhatian yang serius karena dapat menimbulkan cacat menetap dan berakibat kematian. Prevalensi hipertensi anak tidak diketahui ...
Edukasi Penatalaksanaan Hipertensi dan Pola Hidup Sehat Pada Pasien Hipertensi
Edukasi Penatalaksanaan Hipertensi dan Pola Hidup Sehat Pada Pasien Hipertensi
Salah satu penyakit degenerative yang menjadi prioritas kesehatan secara global adalah hipertensi. Hipertensi adalah salah satu masalah penyebab kematian di dunia. Prevalensi hiper...
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Deteksi Dini dan Upaya Pencegahan Hipertensi Melalui Peer Group Support
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Deteksi Dini dan Upaya Pencegahan Hipertensi Melalui Peer Group Support
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan setiap tahun dan dikenal dengan penyakit silent killer. Penyakit ini menyerang semua tingkat usia namun yang ...
Implementasi Pemanfaatan Buah-Buahan Lokal Tinggi Kalium dan Antioksidan sebagai Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular Hipertensi di Desa Wonojati Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember
Implementasi Pemanfaatan Buah-Buahan Lokal Tinggi Kalium dan Antioksidan sebagai Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular Hipertensi di Desa Wonojati Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Studi pendahuluan tentang permasalahan yang ada di Desa Wonojati yaitu belum optimaln...

