Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Hipermetropia: Apa Itu Rabun Dekat?

View through CrossRef
Hipermetropia adalah suatu keadaan gangguan refraksi pada mata yang sering terjadi pada usia anak-anak dan dewasa.  Hipermetropia atau hiperopia atau juga dikenal dengan istilah rabun dekat adalah suatu kondisi terkait kekuatan refraksi mata yang terganggu. Pada hipermetropia, sinar cahaya sejajar tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokus jatuh di belakang retina.  Berdasarkan etiologinya, hipermetropia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis antara lain axial hypermetropia/simple hypermetropia, curvature hypermetropia, index hypermetropia, dan positional hypermetropia or absence of the lens (apakhia).Diagnosis dari hipermetropia ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang diamati ketika pemeriksaan fisik, seperti ketajaman penglihatan, observasi bagian eksternal dan internal mata. Berdasarkan tingkat keparahannya, hipermetropia dapat diklasifikasikan sebagai derajat rendah, sedang, dan tinggi. Tatalaksana pada hipermetropia adalah dengan koreksi lensa berupa kacamata, lensa kontak, atau bedah refraktif. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan buku, artikel, dan jurnal nasional maupun  internasional dengan kata kunci pencarian berikut: definisi, etiologi, klasifikasi, diagnosis,gejala klinis, dan tatalaksana.Kata Kunci:  Definisi, Diagnosis, Etiologi, Gejala Klinis, Klasifikasi, Tatalaksana
Title: Hipermetropia: Apa Itu Rabun Dekat?
Description:
Hipermetropia adalah suatu keadaan gangguan refraksi pada mata yang sering terjadi pada usia anak-anak dan dewasa.
  Hipermetropia atau hiperopia atau juga dikenal dengan istilah rabun dekat adalah suatu kondisi terkait kekuatan refraksi mata yang terganggu.
Pada hipermetropia, sinar cahaya sejajar tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokus jatuh di belakang retina.
  Berdasarkan etiologinya, hipermetropia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis antara lain axial hypermetropia/simple hypermetropia, curvature hypermetropia, index hypermetropia, dan positional hypermetropia or absence of the lens (apakhia).
Diagnosis dari hipermetropia ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang diamati ketika pemeriksaan fisik, seperti ketajaman penglihatan, observasi bagian eksternal dan internal mata.
Berdasarkan tingkat keparahannya, hipermetropia dapat diklasifikasikan sebagai derajat rendah, sedang, dan tinggi.
Tatalaksana pada hipermetropia adalah dengan koreksi lensa berupa kacamata, lensa kontak, atau bedah refraktif.
Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan buku, artikel, dan jurnal nasional maupun  internasional dengan kata kunci pencarian berikut: definisi, etiologi, klasifikasi, diagnosis,gejala klinis, dan tatalaksana.
Kata Kunci:  Definisi, Diagnosis, Etiologi, Gejala Klinis, Klasifikasi, Tatalaksana.

Related Results

PREVALÊNCIA DE AMETROPIA EM CRIANÇAS ATENDIDAS PELO PROJETO OLHAR BRASIL DO HOSPITAL UNIVERSITÁRIO DE FLORIANÓPOLIS
PREVALÊNCIA DE AMETROPIA EM CRIANÇAS ATENDIDAS PELO PROJETO OLHAR BRASIL DO HOSPITAL UNIVERSITÁRIO DE FLORIANÓPOLIS
As ametropias são a principal causa de baixa acuidade visual em crianças em idade escolar, prejudicando o seu desempenho acadêmico e acarretando risco de complicações oculares. Ent...
User Interface untuk Tampilan Website Berita Mobile bagi Penyandang Rabun Dekat
User Interface untuk Tampilan Website Berita Mobile bagi Penyandang Rabun Dekat
Saat ini banyak website yang disajikan dalam bentuk mobile , yang menyediakan berbagai informasi kepada pengguna, termasuk diantaranya website berita mobile . Namun, bagi pengguna ...
PENJANGKA KAMBANG DEKAT FRASE DETERMINER BUKAN PENJANGKA DEKAT FRASE NOMINA
PENJANGKA KAMBANG DEKAT FRASE DETERMINER BUKAN PENJANGKA DEKAT FRASE NOMINA
Tulisan ini bertujuan untuk merivisi penggunaan istilah Penjangka Dekat Frase Nomina (Penj Dekat FN) ( (Q adjacent NP) yang dipopulerkan oleh El-Sadaany dan Muhammed Shams (2012) m...
Longitudinal behavior of autoimmune GH deficiency: from childhood to transition age
Longitudinal behavior of autoimmune GH deficiency: from childhood to transition age
BackgroundSome cases of apparently idiopathic GH deficiency (GHD) may be caused by pituitary autoimmunity.ObjectiveTo study the variations in pituitary function and antipituitary a...
Global analysis of alternative polyadenylation regulation using high-throughput sequencing
Global analysis of alternative polyadenylation regulation using high-throughput sequencing
<p>Messenger RNAs (mRNAs) have to undergo a series of post-transcriptional processing steps before translation. One of the post-transcriptional steps - 3' end processing, whi...
Antipituitary antibodies after traumatic brain injury: is head trauma-induced pituitary dysfunction associated with autoimmunity?
Antipituitary antibodies after traumatic brain injury: is head trauma-induced pituitary dysfunction associated with autoimmunity?
ObjectiveTraumatic brain injury (TBI) is a devastating public health problem that may result in hypopituitarism. However, the mechanisms responsible for hypothalamic–pituitary dysf...

Back to Top