Javascript must be enabled to continue!
Kualitas Cookies Berbahan Campuran Tepung Labu Kuning
View through CrossRef
Cookies adalah kue kering yang bertekstur renyah, berbentuk pipih dan biasanya berbentuk kecil. Pada umumnya cookies berbahan tepung terigu. Namun kalori yang terkandung dalam tepung terigu sangatlah tinggi. Dalam hal ini peneliti ingin mengurangi ketergantungan penggunaan tepung terigu dengan salah satu jenis buah yang dimana masyarakat masih awam dalam pengolahannya, yaitu buah labu kuning, yang dapat ditemukan dengan sangat mudah dipasaran. Peneliti ingin membuat inovasi baru yaitu produk cookies berbahan campuran tepung labu kuning. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas, daya tahan produk, serta biaya pembuatan produk. Eksperimen ini dilakukan dengan metode penelitian dan pengumpulan data. Percobaan ini menggunakan tiga formulasi dengan rasio: P1 = 25% tepung labu kuning dan 75% tepung terigu, P2 = 50% tepung labu kuning dan 50% tepung terigu, P3 = 75% tepung labu kuning dan 25% tepung terigu. Berdasarkan hasil uji organoleptik yang diujikan kepada 20 panelis ahli, cookies (P2) mendapatkan nilai terbaik dengan skor 316. Dalam kurun waktu 7 hari, produk cookies tidak mengalami penurunan kualitas. Total biaya yang diperlukan adalah Rp. 42.650,- sedangkan dengan per satu piece cookies dengan berat 25 gram sebesar Rp. 2000.-
Cookies are pastries that are crunchy in texture, flat in shape and usually small in shape. In general, cookies are made from wheat flour. However, the calories contained in wheat flour are very high. In this case the researcher wants to reduce the dependence on the use of wheat flour with one type of fruit that is still foreign in its processing, namely pumpkin which is very easy to find in the market. Researchers want to make a new innovation, namely a pastry product made from a mixture of pumpkin flour. The purpose of this research is to find out how the quality, durability of the product, and the cost of making the product are. This experiment was conducted using research methods and data collection. This experiment used three formulations with ratios: P1 = 25% pumpkin flour and 75% wheat flour, P2 = 50% pumpkin flour and 50% wheat flour, P3 = 75% pumpkin flour and 25% wheat flour. Based on the results of organoleptic tests tested on 20 expert panelists, cookies (P2) got the best score with a score of 316. Within 7 days, the cookie product did not experience any quality degradation. degradation. The total cost required is Rp. 42,650, - while one piece of pastries weighing 25 grams is Rp. 2000.-
JBHOST Journal of Business on Hospitality and Tourism
Title: Kualitas Cookies Berbahan Campuran Tepung Labu Kuning
Description:
Cookies adalah kue kering yang bertekstur renyah, berbentuk pipih dan biasanya berbentuk kecil.
Pada umumnya cookies berbahan tepung terigu.
Namun kalori yang terkandung dalam tepung terigu sangatlah tinggi.
Dalam hal ini peneliti ingin mengurangi ketergantungan penggunaan tepung terigu dengan salah satu jenis buah yang dimana masyarakat masih awam dalam pengolahannya, yaitu buah labu kuning, yang dapat ditemukan dengan sangat mudah dipasaran.
Peneliti ingin membuat inovasi baru yaitu produk cookies berbahan campuran tepung labu kuning.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas, daya tahan produk, serta biaya pembuatan produk.
Eksperimen ini dilakukan dengan metode penelitian dan pengumpulan data.
Percobaan ini menggunakan tiga formulasi dengan rasio: P1 = 25% tepung labu kuning dan 75% tepung terigu, P2 = 50% tepung labu kuning dan 50% tepung terigu, P3 = 75% tepung labu kuning dan 25% tepung terigu.
Berdasarkan hasil uji organoleptik yang diujikan kepada 20 panelis ahli, cookies (P2) mendapatkan nilai terbaik dengan skor 316.
Dalam kurun waktu 7 hari, produk cookies tidak mengalami penurunan kualitas.
Total biaya yang diperlukan adalah Rp.
42.
650,- sedangkan dengan per satu piece cookies dengan berat 25 gram sebesar Rp.
2000.
-
Cookies are pastries that are crunchy in texture, flat in shape and usually small in shape.
In general, cookies are made from wheat flour.
However, the calories contained in wheat flour are very high.
In this case the researcher wants to reduce the dependence on the use of wheat flour with one type of fruit that is still foreign in its processing, namely pumpkin which is very easy to find in the market.
Researchers want to make a new innovation, namely a pastry product made from a mixture of pumpkin flour.
The purpose of this research is to find out how the quality, durability of the product, and the cost of making the product are.
This experiment was conducted using research methods and data collection.
This experiment used three formulations with ratios: P1 = 25% pumpkin flour and 75% wheat flour, P2 = 50% pumpkin flour and 50% wheat flour, P3 = 75% pumpkin flour and 25% wheat flour.
Based on the results of organoleptic tests tested on 20 expert panelists, cookies (P2) got the best score with a score of 316.
Within 7 days, the cookie product did not experience any quality degradation.
degradation.
The total cost required is Rp.
42,650, - while one piece of pastries weighing 25 grams is Rp.
2000.
-.
Related Results
substitusi tepung labu kuning(cucurbita moschata flour) pada pembuatan pie susu
substitusi tepung labu kuning(cucurbita moschata flour) pada pembuatan pie susu
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi dan tingkat kesukaan masyarakat pada pie susu tepung labu kuning dilihat dari segi rasa, tekstur, warna, aroma, bentuk, dan kema...
STUDI PENCAMPURAN LABU KUNING (Cucurbita Moschata) DENGAN TEPUNG BERAS TERHADAP KARAKTERISTIK BISKUIT YANG DIHASILKAN
STUDI PENCAMPURAN LABU KUNING (Cucurbita Moschata) DENGAN TEPUNG BERAS TERHADAP KARAKTERISTIK BISKUIT YANG DIHASILKAN
Tujuan dari penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui penambahan labu kuning tingkat pencampuran dan penambahan labu kuning terhadap perubahankomposisi kimia (kadar air, kad...
PEMANFAATAN LABU KUNING DALAM PEMBUATAN KUE BEBAS GLUTEN
PEMANFAATAN LABU KUNING DALAM PEMBUATAN KUE BEBAS GLUTEN
Kue (cake) merupakan kudapan yang berkarakteristik lembut dan halus, dengan rasa yang cenderung manis. Sebagai jajanan yang populer di kalangan masyarakat, umumnya bahan dasar yang...
CAMPURAN TEPUNG BIJI DURIAN DAN TEPUNG TERIGU MENJADI CAKE
CAMPURAN TEPUNG BIJI DURIAN DAN TEPUNG TERIGU MENJADI CAKE
Berlimpahnya limbah biji durian pada musim durian belum banyak dimanfaatkan, disisi lain biji durian berpotensi sebagai sumber bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengide...
Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Sebagai Bahan Pembuatan Pelet
Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Sebagai Bahan Pembuatan Pelet
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang Raja sebagai bahan pembuatan pellet dan mengetahui bagaimana cara pembuatan pellet kulit pisang raja dan untuk menge...
Pengaruh Penambahan Tepung Ubi Jalar Ungu dan Karagenan terhadap Kualitas Mi Basah Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas cv. Ayamurasaki)
Pengaruh Penambahan Tepung Ubi Jalar Ungu dan Karagenan terhadap Kualitas Mi Basah Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas cv. Ayamurasaki)
Abstrak. Mi merupakan salah satu makanan olahan tepung terigu yang terkenal di Indonesia dan Asia. Mi basah merupakan salah satu jenis mi paling banyak digunakan di masyarakat. Pad...
Kualitas Fisik Wafer dengan Penambahan Berbagai level Tepung Tapioka serta Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L) yang Diolah dengan Teknik Berbeda
Kualitas Fisik Wafer dengan Penambahan Berbagai level Tepung Tapioka serta Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L) yang Diolah dengan Teknik Berbeda
Penambahan level tepung tapioka dan tepung daun pepaya (Carica papaya. L) yang diolah mengunakan teknik yang berbeda dalam pembuatan wafer ransum komplit diharapkan mampu memperbai...
Labu Kuning: Pembuatan Kue Spesial Labu Bola-Bola
Labu Kuning: Pembuatan Kue Spesial Labu Bola-Bola
Penelitian ini merupakan hasil akhir dari produk makanan untuk pembelajaran Entrepreneurship. Bagian ini menarik karena bahan dasar kue bola-bola terbuat dari labu kuning sebagai b...

