Javascript must be enabled to continue!
Application of La Yubtilu Haqqul Ghoir Rules to Compensation in Minor Crimes
View through CrossRef
Abstract
Several years ago, the legal world in Indonesia experienced a stir. The reason is that cases occur that ensnare ordinary people in order to survive. These cases are minor crimes with a small nominal amount and are categorized as light theft. In fact, most of these cases involve elderly people. Unfortunately, these cases were reported to law enforcers and some were even investigated and decided by the court. This article wants to examine what is meant by the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair and how this rule is applied to cases of minor criminal acts committed by the elderly to survive which are linked to compensation. This paper uses research of the type normative legal research or doctrinal research. The approaches used in this paper are the statute and the case approach. The results of this research show that the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair is a situation where if someone is in an emergency situation and inevitably has to use other people's belongings to deal with the emergency situation, then he still has the responsibility to replace other people's belongings that have been taken advantage of it. The application of the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair in cases of light theft crimes such as people who in an emergency are still allowed to take or use other people's goods provided that they still have the obligation to replace the other person's goods with similar goods or value.
Keywords: Darurat, petty theft, haqqul ghair
Abstrak
Beberapa tahun yang lalu, dunia hukum di Indonesia pernah mengalami kehebohan sekaligus menggelitik. Pasalnya terjadi kasus-kasus yyang menjerat rakyat jelata guna menyambung hidupnya. Kasus-kasus tersebut merupakan tindak piidana ringan dengan jumlah nnominal yang tidak terlalu besar dan dikategorikan pencurian ringan. Bahkan kasus-kasuss tersebut sebagian besar melibatkan orang-orang yang sudah lanjut usia (lansia). Sangat disayangkan kasus-kasus tersebut sampai diadukan kepada para penegak hukum bahkan ada yang sampai diperiksa dan diputus pengadilan. Tulisan ini ingin mengupas apakah yang dimaksud dengan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair dan bagaimana penerapan dari kaidah tersebut terhadapp kasus-kasus tindak pidana ringan yang dilakukan para lansia untuk menyambung hidupnya yang dikaitkan dengan ganti rugi. Tulisann ini menggunakannpenelitian yang berjenis penelitian hukum normatif atau penelitian doktrinal. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan perundang-undangann(statute approach) dan pendekatan kasuss(case approach). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair merupakan keadaan apabila seseorang dalam kondisi darurat dan mau tidak mau harus mengambil dan memanfaatkan barang milik orang lain untuk menanggulangi kondisi daruratnya maka ia masih memiliki tanggungan untuk mengganti barang milik orang lain yang telah ia manfaatkan. Penerapan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair pada kasus-kasus tindak pidana pencurian ringan seperti orang yang dalam keadaan darurat masih diperbolehkan mengambil atau memanfaatkan barang orang lain dengan catatan ia masih memiliki kewajiban untuk mengganti barang orang lain tersebut dengan barang atau nilai yang serupa.
Kata kunci: Darurat, pencurian ringan, haqqul ghair
Yayasan Pendidikan Al-Amin
Title: Application of La Yubtilu Haqqul Ghoir Rules to Compensation in Minor Crimes
Description:
Abstract
Several years ago, the legal world in Indonesia experienced a stir.
The reason is that cases occur that ensnare ordinary people in order to survive.
These cases are minor crimes with a small nominal amount and are categorized as light theft.
In fact, most of these cases involve elderly people.
Unfortunately, these cases were reported to law enforcers and some were even investigated and decided by the court.
This article wants to examine what is meant by the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair and how this rule is applied to cases of minor criminal acts committed by the elderly to survive which are linked to compensation.
This paper uses research of the type normative legal research or doctrinal research.
The approaches used in this paper are the statute and the case approach.
The results of this research show that the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair is a situation where if someone is in an emergency situation and inevitably has to use other people's belongings to deal with the emergency situation, then he still has the responsibility to replace other people's belongings that have been taken advantage of it.
The application of the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair in cases of light theft crimes such as people who in an emergency are still allowed to take or use other people's goods provided that they still have the obligation to replace the other person's goods with similar goods or value.
Keywords: Darurat, petty theft, haqqul ghair
Abstrak
Beberapa tahun yang lalu, dunia hukum di Indonesia pernah mengalami kehebohan sekaligus menggelitik.
Pasalnya terjadi kasus-kasus yyang menjerat rakyat jelata guna menyambung hidupnya.
Kasus-kasus tersebut merupakan tindak piidana ringan dengan jumlah nnominal yang tidak terlalu besar dan dikategorikan pencurian ringan.
Bahkan kasus-kasuss tersebut sebagian besar melibatkan orang-orang yang sudah lanjut usia (lansia).
Sangat disayangkan kasus-kasus tersebut sampai diadukan kepada para penegak hukum bahkan ada yang sampai diperiksa dan diputus pengadilan.
Tulisan ini ingin mengupas apakah yang dimaksud dengan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair dan bagaimana penerapan dari kaidah tersebut terhadapp kasus-kasus tindak pidana ringan yang dilakukan para lansia untuk menyambung hidupnya yang dikaitkan dengan ganti rugi.
Tulisann ini menggunakannpenelitian yang berjenis penelitian hukum normatif atau penelitian doktrinal.
Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan perundang-undangann(statute approach) dan pendekatan kasuss(case approach).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair merupakan keadaan apabila seseorang dalam kondisi darurat dan mau tidak mau harus mengambil dan memanfaatkan barang milik orang lain untuk menanggulangi kondisi daruratnya maka ia masih memiliki tanggungan untuk mengganti barang milik orang lain yang telah ia manfaatkan.
Penerapan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair pada kasus-kasus tindak pidana pencurian ringan seperti orang yang dalam keadaan darurat masih diperbolehkan mengambil atau memanfaatkan barang orang lain dengan catatan ia masih memiliki kewajiban untuk mengganti barang orang lain tersebut dengan barang atau nilai yang serupa.
Kata kunci: Darurat, pencurian ringan, haqqul ghair.
Related Results
Increased life expectancy of heart failure patients in a rural center by a multidisciplinary program
Increased life expectancy of heart failure patients in a rural center by a multidisciplinary program
Abstract
Funding Acknowledgements
Type of funding sources: None.
INTRODUCTION Patients with heart failure (HF)...
Primary PCI: a reasonable treatment for STEMI care during the COVID-19 pandemic
Primary PCI: a reasonable treatment for STEMI care during the COVID-19 pandemic
Abstract
Funding Acknowledgements
Type of funding sources: None.
Introduction
...
An Empirical Study on Cyber Crimes Against Women and Children in India
An Empirical Study on Cyber Crimes Against Women and Children in India
The aim of the study is to understand the Cyber-crimes against women and Children in India for a period of five years from 2017 to 2021. The study is based on Secondary data collec...
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF SYEKH HASAN DIMEJO DALAM MANUSKRIP HAQQUL ISLAM
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF SYEKH HASAN DIMEJO DALAM MANUSKRIP HAQQUL ISLAM
Kemerosotan moral generasi muda akibat perkembangan teknologi dan arus globalisasi menjadi tantangan bagi pendidikan Islam. Pendidikan yang menanamkan nilai akidah, ibadah, dan akh...
Individual Criminal Responsibility
Individual Criminal Responsibility
The recognition of individual criminal responsibility under international law is relatively recent. The commission of mass atrocities during the 20th century prompted the internati...
Designing of Watershed Ecological Compensation Mechanism Based on the Key Ecological Function Zone: A Case Study in the Source Area of Dongjiang River
Designing of Watershed Ecological Compensation Mechanism Based on the Key Ecological Function Zone: A Case Study in the Source Area of Dongjiang River
At present, China is establishing eco-compensation mechanism on the basis of key ecological function zones and ecological factors, but trans-provincial eco-compensation mechanism (...
Crimes Against Humanity and Other International Crimes
Crimes Against Humanity and Other International Crimes
Abstract
This concluding chapter provides an overview of crimes against humanity. Crimes against humanity are characterized by several core features. First, they are...

