Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

NERACA LAHAN INDONESIA

View through CrossRef
Dalam rangka mengukur sejauh mana capaian Indonesia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) tentu diperlukan suatu indikator. Komisi statistik di Perserikatan Bangsa-Bangsa merekomendasikan penerapan System of Environmental-Economic Accounting Central Framework (SEEA-CF) 2012 sebagai standar statistik internasional dalam penyusunan indikator terkait lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah penyusunan neraca lahan untuk mendukung terpenuhinya indikator dalam tujuan ke-15 SDGs, yaitu melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati. Neraca lahan menjadi penting untuk dihitung karena dapat melacak dinamika perubahan tutupan dan penggunaan lahan. Lahan perlu menjadi perhatian karena menjadi basis dilaksanakannya kegiatan dalam suatu ekosistem. Metode penyusunan neraca lahan yang dilakukan adalah dengan mendapatkan informasi mengenai luas masing-masing klasifikasi tutupan lahan dalam satuan hektar dari citra satelit KLHK yang masih berupa format shapefile, kemudian melakukan transformasi ke tabulasi dalam format Microsoft Excel untuk pengolahan lebih lanjut menjadi neraca lahan. Berdasarkan hasil penyusunan neraca lahan dapat diketahui bahwa luas tutupan hutan di Indonesia pada tahun 2017 adalah seluas 100.536.496 hektar atau 52,45 persen dari total luas lahan di Indonesia secara keseluruhan. Pulau yang memiliki tutupan hutan terluas adalah pulau Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Selama periode tahun 2013-2017, terjadi pengurangan luas tutupan hutan sebesar 3 juta hektar, di mana pengurangan terbesar adalah di pulau Sumatera dan Kalimantan. Penyusunan neraca lahan ini dapat mendukung indikator tujuan 15 SDGs, khususnya indikator 15.1.1 yaitu kawasan hutan sebagai persentase dari total luas lahan dan indikator 15.3.1 yaitu proporsi lahan yang terdegradasi terhadap luas lahan keseluruhan.
Title: NERACA LAHAN INDONESIA
Description:
Dalam rangka mengukur sejauh mana capaian Indonesia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) tentu diperlukan suatu indikator.
Komisi statistik di Perserikatan Bangsa-Bangsa merekomendasikan penerapan System of Environmental-Economic Accounting Central Framework (SEEA-CF) 2012 sebagai standar statistik internasional dalam penyusunan indikator terkait lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah penyusunan neraca lahan untuk mendukung terpenuhinya indikator dalam tujuan ke-15 SDGs, yaitu melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan, mengelola hutan secara lestari, menghentikan penggurunan, memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.
Neraca lahan menjadi penting untuk dihitung karena dapat melacak dinamika perubahan tutupan dan penggunaan lahan.
Lahan perlu menjadi perhatian karena menjadi basis dilaksanakannya kegiatan dalam suatu ekosistem.
Metode penyusunan neraca lahan yang dilakukan adalah dengan mendapatkan informasi mengenai luas masing-masing klasifikasi tutupan lahan dalam satuan hektar dari citra satelit KLHK yang masih berupa format shapefile, kemudian melakukan transformasi ke tabulasi dalam format Microsoft Excel untuk pengolahan lebih lanjut menjadi neraca lahan.
Berdasarkan hasil penyusunan neraca lahan dapat diketahui bahwa luas tutupan hutan di Indonesia pada tahun 2017 adalah seluas 100.
536.
496 hektar atau 52,45 persen dari total luas lahan di Indonesia secara keseluruhan.
Pulau yang memiliki tutupan hutan terluas adalah pulau Papua, Kalimantan, dan Sumatera.
Selama periode tahun 2013-2017, terjadi pengurangan luas tutupan hutan sebesar 3 juta hektar, di mana pengurangan terbesar adalah di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Penyusunan neraca lahan ini dapat mendukung indikator tujuan 15 SDGs, khususnya indikator 15.
1.
1 yaitu kawasan hutan sebagai persentase dari total luas lahan dan indikator 15.
3.
1 yaitu proporsi lahan yang terdegradasi terhadap luas lahan keseluruhan.

Related Results

ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS LAHAN DI KECAMATAN SUKADANA KABUPATEN KAYONG UTARA
ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS LAHAN DI KECAMATAN SUKADANA KABUPATEN KAYONG UTARA
Daya dukung lahan merupakan kapasitas atau kemampuan lahan yang berupa lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kemampuan lahan adalah mutu lahan yan...
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN POTENSI PERLUASAN LAHAN UNTUK SAWAH DI KABUPATEN CIANJUR
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN POTENSI PERLUASAN LAHAN UNTUK SAWAH DI KABUPATEN CIANJUR
<p>Pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan pesatnya pembangunan menjadikan permasalahan penggunaan lahan semakin kompleks. Lahan berperan sebagai penyedia pangan, n...
Model Penanaman Berbasis Kekritisan Lahan Di DAS Telake Kalimantan Timur
Model Penanaman Berbasis Kekritisan Lahan Di DAS Telake Kalimantan Timur
Daerah Aliran Sungai (DAS) Telake seluas sekitar 358.405,70 ha berada di wilayah Kalimantan Timur. Selain itu, juga terdapat aktivitas pemanfaatan sumber daya alam. Dalam penelitia...
Degradasi Lahan dan Ketahanan Pangan
Degradasi Lahan dan Ketahanan Pangan
Degradasi lahan adalah proses penurunan produktivitas lahan, baik yang sifatnya sementara maupun tetap. Lahan terdegradasi dalam definisi lain sering disebut lahan tidak produktif,...
ANALISIS DAYA DUKUNG SUMBER DAYA AIR UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN AIR DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
ANALISIS DAYA DUKUNG SUMBER DAYA AIR UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN AIR DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
DAS Cisangkuy merupakan sumber utama dalam memenuhi kebutuhan air baku di wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Kondisi hidrologisnya saat ini telah mengalami penurunan yang ...
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN DI DAS MAROS
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN DI DAS MAROS
Peningkatan jumlah penduduk selalu jalan beriringan dengan kemajuan pembangunan. Pesatnya pembangunan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia membutuhkan semakin banyak lah...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...

Back to Top