Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Diagnosis, patogenesitas dan pemeriksaan Campylobacter jejuni

View through CrossRef
Campylobacteriosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bergenus Campylobacter, terutama spesies Campylobacter jejuni (C. jejuni).  Bakteri ini bersifat Gram negatif, berukuran sangat kecil, berbentuk batang bergelombang, tipis, beberapa berbentuk spiral. C. jejuni tidak  membentuk spora, katalase positif, dapat mereduksi nitrat dan sangat motil dengan flagel yang terdapat pada satu atau dua ujung tubuhnya. Pertumbuhannya bersifat mikroaerofilik, dapat tumbuh optimal  dengan kadar oksigen rendah. Pada media pertumbuhan, semua Campylobacter sp tumbuh dengan baik pada pH 5,5-8,0. Koloni tampak bulat, halus dan cembung. Campylobacteriosis bersifat zoonosis yaitu dapat menular dari hewan ke manusia. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia memproduksi toksin, Cytolethal Distending Toxin (CDT) yang merupakan salah satu faktor patogenitas. Manifestasi klinik yang ditimbulkan berupa diare, kadang-kadang sampai berdarah, sakit pada bagian perut, demam, mual dan muntah. Pada manusia dan hewan banyak kasus tidak menunjukkan gejala. Pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis pasti infeksi oleh Campylobacteriosis sangat diperlukan. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penulisan artikel ini adalah mengaitkan diagnosis dan  patogenesis Campylobacteriosis dengan pemeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan mikrobiologi yang dapat dilakukan adalah mikroskopis, kultur dan  non kultur. Saat ini teknik non kultur yang dikembangkan antara lain, Polymerase Chain Reaction (PCR), Epidemiological typing system dan serologi.
Title: Diagnosis, patogenesitas dan pemeriksaan Campylobacter jejuni
Description:
Campylobacteriosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bergenus Campylobacter, terutama spesies Campylobacter jejuni (C.
jejuni).
  Bakteri ini bersifat Gram negatif, berukuran sangat kecil, berbentuk batang bergelombang, tipis, beberapa berbentuk spiral.
C.
jejuni tidak  membentuk spora, katalase positif, dapat mereduksi nitrat dan sangat motil dengan flagel yang terdapat pada satu atau dua ujung tubuhnya.
Pertumbuhannya bersifat mikroaerofilik, dapat tumbuh optimal  dengan kadar oksigen rendah.
Pada media pertumbuhan, semua Campylobacter sp tumbuh dengan baik pada pH 5,5-8,0.
Koloni tampak bulat, halus dan cembung.
Campylobacteriosis bersifat zoonosis yaitu dapat menular dari hewan ke manusia.
Bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia memproduksi toksin, Cytolethal Distending Toxin (CDT) yang merupakan salah satu faktor patogenitas.
Manifestasi klinik yang ditimbulkan berupa diare, kadang-kadang sampai berdarah, sakit pada bagian perut, demam, mual dan muntah.
Pada manusia dan hewan banyak kasus tidak menunjukkan gejala.
Pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis pasti infeksi oleh Campylobacteriosis sangat diperlukan.
Berdasarkan hal tersebut, tujuan penulisan artikel ini adalah mengaitkan diagnosis dan  patogenesis Campylobacteriosis dengan pemeriksaan mikrobiologi.
Pemeriksaan mikrobiologi yang dapat dilakukan adalah mikroskopis, kultur dan  non kultur.
Saat ini teknik non kultur yang dikembangkan antara lain, Polymerase Chain Reaction (PCR), Epidemiological typing system dan serologi.

Related Results

Circulation of thermophilic Campylobacter in pigeons, turkeys, and humans at live bird markets in Egypt
Circulation of thermophilic Campylobacter in pigeons, turkeys, and humans at live bird markets in Egypt
Live bird markets increase the risk of transmission of zoonotic diseases. Few studies have investigated the potential zoonotic transmission of Campylobacter in Egypt. Therefore, ou...
Clinico-bacteriological Study and Molecular Detection of Campylobacter in Childhood Diarrhoea: A Cross-sectional Study
Clinico-bacteriological Study and Molecular Detection of Campylobacter in Childhood Diarrhoea: A Cross-sectional Study
Introduction: Campylobacter infections cause diarrhoeal diseases as frequently as Salmonella and Shigella infections. The prevalence of Campylobacter infection among children with ...
Integration of Epidemiological Evidence in a Decision Support Model for the Control of Campylobacter in Poultry Production
Integration of Epidemiological Evidence in a Decision Support Model for the Control of Campylobacter in Poultry Production
The control of human Campylobacteriosis is a priority in public health agendas all over the world. Poultry is considered a significant risk factor for human infections with Campylo...
Review on the scenario of Campylobacter in Malaysia
Review on the scenario of Campylobacter in Malaysia
Campylobacter is a major zoonotic pathogen, primarily associated with foodborne illnesses worldwide and a leading cause of bacterial gastroenteritis in humans. Campylobacter jejuni...
Campylobacter and fluoroquinolones: a bias data set?
Campylobacter and fluoroquinolones: a bias data set?
Summary There is no universally accepted standard method for the isolation of Campylobacter spp. and ...

Back to Top