Javascript must be enabled to continue!
Membangun Jemaat yang Kontekstual menurut Teori Pembangunan Jemaat Jan Hendriks
View through CrossRef
Artikel ini membahas tentang membangun jemaat yang kontekstual menurut teori pembangunan jemaat dengan pendekatan lima faktor. Pendekatan ini dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan jemaat, oleh karena konsep ini menawarkan upaya menghadirkan jemaat yang kontekstual dari perspektif sosiologis-empiris. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat BNKP Hilisoromi Resort 6; menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data (partisipan) penelitian terdiri dari para pelayan dan warga jemaat; ditentukan dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan angket; dianalisis dengan thematic analysis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hampir dalam semua aspek: iklim, kepemimpinan, struktur, tujuan dan tugas, serta identitas jemaat berada dalam kondisi yang kurang baik dan kondusif. Membangun jemaat dengan pendekatan lima faktor menjadikan jemaat sebagai gereja yang hidup dan berdaya karena berangkat dari persoalan-persoalan konkret jemaat; serta memiliki sasaran yang cukup jelas, yakni membangun jemaat yang kontekstual dengan pelayanan yang berkualitas. Mewujudnyatakan pelayanan yang berkualitas menurut teori pembangunan jemaat ialah dengan (1) suasana kehidupan yang baik antar jemaat, (2) kepemimpinan yang melayani dan menggairahkan, (3) struktur yang baik – keseluruhan relasi diatur sedemikian rupa baik relasi formal maupun informal, individu maupun kelompok, (4) tujuan dan tugas yang jelas, serta (5) identitas/jati diri yang baik.
Title: Membangun Jemaat yang Kontekstual menurut Teori Pembangunan Jemaat Jan Hendriks
Description:
Artikel ini membahas tentang membangun jemaat yang kontekstual menurut teori pembangunan jemaat dengan pendekatan lima faktor.
Pendekatan ini dapat dipertimbangkan dalam mengembangkan jemaat, oleh karena konsep ini menawarkan upaya menghadirkan jemaat yang kontekstual dari perspektif sosiologis-empiris.
Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat BNKP Hilisoromi Resort 6; menggunakan metode penelitian kualitatif.
Sumber data (partisipan) penelitian terdiri dari para pelayan dan warga jemaat; ditentukan dengan teknik purposive sampling.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan angket; dianalisis dengan thematic analysis.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa hampir dalam semua aspek: iklim, kepemimpinan, struktur, tujuan dan tugas, serta identitas jemaat berada dalam kondisi yang kurang baik dan kondusif.
Membangun jemaat dengan pendekatan lima faktor menjadikan jemaat sebagai gereja yang hidup dan berdaya karena berangkat dari persoalan-persoalan konkret jemaat; serta memiliki sasaran yang cukup jelas, yakni membangun jemaat yang kontekstual dengan pelayanan yang berkualitas.
Mewujudnyatakan pelayanan yang berkualitas menurut teori pembangunan jemaat ialah dengan (1) suasana kehidupan yang baik antar jemaat, (2) kepemimpinan yang melayani dan menggairahkan, (3) struktur yang baik – keseluruhan relasi diatur sedemikian rupa baik relasi formal maupun informal, individu maupun kelompok, (4) tujuan dan tugas yang jelas, serta (5) identitas/jati diri yang baik.
Related Results
KAJIAN TEOLOGIS: KETELADANAN RASUL PAULUS TERKAIT DENGAN PENYELESAIAN KONFLIK DI JEMAAT KORINTUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 3:1-9:18 - 21 SERTA IMPLEMENTASINYA TERHADAP PERANAN GEREJA TERHADAP PENYELESAIAN KONFLIK DALAM JEMAAT
KAJIAN TEOLOGIS: KETELADANAN RASUL PAULUS TERKAIT DENGAN PENYELESAIAN KONFLIK DI JEMAAT KORINTUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 3:1-9:18 - 21 SERTA IMPLEMENTASINYA TERHADAP PERANAN GEREJA TERHADAP PENYELESAIAN KONFLIK DALAM JEMAAT
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk melihat bagaimana seharusnya menyelesaikan dan menghadapi konflik yang terjadi di tengah – tengah jemaat berdasarkan keteladanan rasul Pa...
Gaya Komunikasi Pemimpin Jemaat Gereja Every Nation Jakarta dalam Membangun Loyalitas Jemaat
Gaya Komunikasi Pemimpin Jemaat Gereja Every Nation Jakarta dalam Membangun Loyalitas Jemaat
The leader of church congregation, has the role that is vital both in a church and a Christian community. This role is considered to be important due to the influence it has in man...
Efektivitas Program Partisipatif Kelompok Perempuan dalam Meningkatkan Swadaya Masyarakat
Efektivitas Program Partisipatif Kelompok Perempuan dalam Meningkatkan Swadaya Masyarakat
Di era otonomi daerah, yang diawali dengan UU RI No. 22 Tahun 1999, yang diamandemen dengan UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah lokal, telah memberikan kesempatan bagi otono...
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PB...
Teori Belajar dalam Perspektif Barat dan Islam
Teori Belajar dalam Perspektif Barat dan Islam
Teori belajar yang ditawarkan Barat mempunyai world view sekuler-positifistik-materialistik membatasi teori belajar pada gejala-gejala yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang ...
Hasan Basri: Perjalanan Birokrat Sejati
Hasan Basri: Perjalanan Birokrat Sejati
Kehadiran tokoh sangat berarti dalam pembangunan bangsa dan negara. Menurut Carlyle, tanpa tokoh tidak akan terjadi perubahan. Ada beraneka ragam tokoh mulai dari pelopor di bidang...
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
Pemuridan Kontekstual Terhadap Pertumbuhan Iman Warga Jemaat Efrata Minanga
Pemuridan Kontekstual Terhadap Pertumbuhan Iman Warga Jemaat Efrata Minanga
Iman berati kita harus meyakini bahwa Allah adalah kuat untuk menolong kita. Iman berarti kepercayaan kepada Allah. Beriman Kepada Allah berarti mengamini bahwa Allah adalah sumbe...

