Javascript must be enabled to continue!
Makna Semiotika Lingga Yoni pada Candi Sukuh
View through CrossRef
Penelitian ini adalah interprestasi pada makna Lingga Yoni dengan pendekatan Semiotika Candi Sukuh Jawa Tengah. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode Nalanda, interprestasi makna kontemplatif meditatif untuk menghasilkan makna baru sebagau Buku teks Sukuh kemudian ditafisr ulang secara hermenutika dan semiotika memperoleh makna apa yang disabdakan pada Candi Sukuh tersebut. Hasil penelitian pada Candi Sukuh ditranformasikan menjadi teks Buku atau Kitab Sukuh, selanjutnya adalah (1) Interprestasi makna Semotika Lingga Yoni. Lingga Yoni sebagai Genealogi pada alat reproduksi manusia pada “Kitab Teks Sukuh” paling dekat dengan teori feminisme yang melihat relasi-relasi antar manusia. Dalam hal relasi antara laki-laki dan perempuan, laki-laki mengobyekkan perempuan dan membuatnya sebagai “yang lain” (Other). Jadi laki-laki adalah subyek dan perempuan adalah obyek. Laki-laki dinamai sang Diri (Lingga), sedangkan “perempuan” sang Liyan (Yoni). Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki. Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya. (2) Tragedi pada Candi Sukuh pada makna metafora alat reproduksi Yoni milik Bathari Durga adalah representasi terhadap buruknya kondisi perempuan di refleksikan sesuai fakta yang ada dalam tradisi masyarakat. Maka makna Lingga Yoni pada Candi Sukuh menggambarkan fenomena kekuasaan adalah satu dimensi dari relasi. (3) Teks Sukuh sebagai “Buana Tresa Asih” atau teks welas asih pada Buana (bhuvana= dunia) dengan segala isinya memiliki logika, hukum, dan siklus yang memiliki hasil (cokro manggilingan). Buana atau jagat Gumulung Jagat Gumelar saling berhubungan bersifat dialektis selalu berputar sebagai siklis bersifat ada dan menjadi. Tresna Buana Asih adalah nama lain semacam “Amor Fati” adalah sikap mental tidak berusaha menghapus apa pun dari masa lalu mereka, melainkan menerima apa yang telah terjadi, yang baik dan yang buruk, yang salah dan bijak, dengan kekuatan dan rasa terima kasih yang mencakup semua hal dengan sikap antusiasme kasih sayang. “Buana Tresa Asih (“Amor Fati”) adalah sikap mencintai takdir tanpa mau mengubahnya tetapi, tetap mencintai dan menerimanya secara utuh. Implikasi Buana Tresa Asih” adalah terjadinya Aliensi. Alienasi adalah penyerahan diri kepada “the other” atau pemotongan hastrat, hak kepada yang lain atau kemampuan menyerahkan hak pada “the other”.
Yayasan Dharma Indonesia Tercinta (Dinasti)
Title: Makna Semiotika Lingga Yoni pada Candi Sukuh
Description:
Penelitian ini adalah interprestasi pada makna Lingga Yoni dengan pendekatan Semiotika Candi Sukuh Jawa Tengah.
Penelitian kualitatif ini menggunakan metode Nalanda, interprestasi makna kontemplatif meditatif untuk menghasilkan makna baru sebagau Buku teks Sukuh kemudian ditafisr ulang secara hermenutika dan semiotika memperoleh makna apa yang disabdakan pada Candi Sukuh tersebut.
Hasil penelitian pada Candi Sukuh ditranformasikan menjadi teks Buku atau Kitab Sukuh, selanjutnya adalah (1) Interprestasi makna Semotika Lingga Yoni.
Lingga Yoni sebagai Genealogi pada alat reproduksi manusia pada “Kitab Teks Sukuh” paling dekat dengan teori feminisme yang melihat relasi-relasi antar manusia.
Dalam hal relasi antara laki-laki dan perempuan, laki-laki mengobyekkan perempuan dan membuatnya sebagai “yang lain” (Other).
Jadi laki-laki adalah subyek dan perempuan adalah obyek.
Laki-laki dinamai sang Diri (Lingga), sedangkan “perempuan” sang Liyan (Yoni).
Jika Liyan adalah ancaman bagi Diri, maka perempuan adalah ancaman bagi laki-laki.
Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya.
(2) Tragedi pada Candi Sukuh pada makna metafora alat reproduksi Yoni milik Bathari Durga adalah representasi terhadap buruknya kondisi perempuan di refleksikan sesuai fakta yang ada dalam tradisi masyarakat.
Maka makna Lingga Yoni pada Candi Sukuh menggambarkan fenomena kekuasaan adalah satu dimensi dari relasi.
(3) Teks Sukuh sebagai “Buana Tresa Asih” atau teks welas asih pada Buana (bhuvana= dunia) dengan segala isinya memiliki logika, hukum, dan siklus yang memiliki hasil (cokro manggilingan).
Buana atau jagat Gumulung Jagat Gumelar saling berhubungan bersifat dialektis selalu berputar sebagai siklis bersifat ada dan menjadi.
Tresna Buana Asih adalah nama lain semacam “Amor Fati” adalah sikap mental tidak berusaha menghapus apa pun dari masa lalu mereka, melainkan menerima apa yang telah terjadi, yang baik dan yang buruk, yang salah dan bijak, dengan kekuatan dan rasa terima kasih yang mencakup semua hal dengan sikap antusiasme kasih sayang.
“Buana Tresa Asih (“Amor Fati”) adalah sikap mencintai takdir tanpa mau mengubahnya tetapi, tetap mencintai dan menerimanya secara utuh.
Implikasi Buana Tresa Asih” adalah terjadinya Aliensi.
Alienasi adalah penyerahan diri kepada “the other” atau pemotongan hastrat, hak kepada yang lain atau kemampuan menyerahkan hak pada “the other”.
Related Results
INTERELASI PERBANDINGANANTARA VISUAL BIMA RELIEF CANDI SUKUHDENGAN FIGUR BIMA WAYANG KULIT GAYA YOGYAKARTATWEEN VISUAL BIMA AT SUKUH TEMPLE RELIEF WITH BIMA FIGURES IN WAYANG KULIT OF YOGYAKARTA STYLEENGAN FIGUR BIMA WAYANG KULIT GAYA YOGYAKARTA
INTERELASI PERBANDINGANANTARA VISUAL BIMA RELIEF CANDI SUKUHDENGAN FIGUR BIMA WAYANG KULIT GAYA YOGYAKARTATWEEN VISUAL BIMA AT SUKUH TEMPLE RELIEF WITH BIMA FIGURES IN WAYANG KULIT OF YOGYAKARTA STYLEENGAN FIGUR BIMA WAYANG KULIT GAYA YOGYAKARTA
Penelitian ini dilatarbelakangi dari asumsi bahwa Bima relief Candi Sukuh dan Bima wayang kulit gaya Yogyakarta memiliki kemiripan perwujudan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ia...
Stabilitas Struktur Candi Mendut
Stabilitas Struktur Candi Mendut
Kajian Stabilitas Struktur Candi Mendut ini sangat penting guna mengevaluasi kondisi stabilitas struktur bangunan Candi Mendut sehingga kelestariannya akan terjaga. Berbagai kegiat...
FUNGSI DAN NILAI CANDI BOROBUDUR DI ERA GLOBALISASI
FUNGSI DAN NILAI CANDI BOROBUDUR DI ERA GLOBALISASI
Candi Borobudur merupakan bangunan warisan budaya bangsa Indonesia yang memiliki fungsi dan nilai, masyarakat Indonesia sebagai pewaris budaya memiliki tanggung jawab dalam pelesta...
CANDI BOROBUDUR SEBAGAI FENOMENA SAKRAL PROFAN Agama dan Pariwisata Perspektif Strukturalisme Levi Strauss
CANDI BOROBUDUR SEBAGAI FENOMENA SAKRAL PROFAN Agama dan Pariwisata Perspektif Strukturalisme Levi Strauss
Dualisme fungsi Candi Borobudur sebagai salah satu dampak modernitas. Candi Borobudur sebagai tempat praktik keagamaan sekaligus pariwisata. Hal ini menjadi fenomena sosial budaya...
Lingga Bergema: Reinterpretasi simbolisme lingga
Lingga Bergema: Reinterpretasi simbolisme lingga
Penelitian berbasis praktik ini mengkaji simbolisme lingga, yang merupakan representasi ikonik Dewa Siwa dalam agama Hindu, melalui penciptaan seni instalasi "Lingga Bergema". Ling...
PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGEMBANGAN OBJEK WISATA AIR TERJUN RESUN KECAMATAN LINGGA UTARA KABUPATEN LINGGA 2022
PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGEMBANGAN OBJEK WISATA AIR TERJUN RESUN KECAMATAN LINGGA UTARA KABUPATEN LINGGA 2022
PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGEMBANGAN OBJEK WISATA AIR TERJUN RESUN KECAMATAN LINGGA UTARA KABUPATEN LINGGA 2022
Oleh
Maysarah
NIM. 190565201110
Abstrak
Kepulauan Riau m...
PERKEMBANGAN MUSEUM KARO LINGGA DI DESA LINGGA KABUPATEN KARO
PERKEMBANGAN MUSEUM KARO LINGGA DI DESA LINGGA KABUPATEN KARO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Perkembangan Museum Karo Lingga di Desa Lingga Kabupaten Karo”. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui latar belakang s...
CANDI PRAMBANAN: KEJAYAAN, KERUNTUHAN, DAN KEBANGKITANNYA KEMBALI
CANDI PRAMBANAN: KEJAYAAN, KERUNTUHAN, DAN KEBANGKITANNYA KEMBALI
Pada 8 April 2021 Menteri Agama RI memberikan pernyataan bahwa Candi Prambanan perlu disiapkan untuk menjadi pusat ibadah umat Hindu Nusantara maupun dunia. Untuk itu, diperlukan k...

