Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Modal Sosial Masyarakat Dusun Melayang dalam Pemanfaatan Buah Tengkawang di Hutan Adat Pikul

View through CrossRef
AbstrakModal sosial adalah kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai suatu tujuan bersama didalam suatu kelompok. Hutan Adat Pikul memiliki potensi tengkawang yang sangat melimpah yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui modal sosial masyarakat yang terdiri dari modal sosial kognitif dan struktural dan hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul. Penelitian ini menggunakan konsep uphoff, dengan metode survei, teknik pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam kepada responden kunci. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat Dusun Melayang yang memanfaatkan buah tengkawang yang dipilih secara sengaja (purposive sampling) yang terdiri dari 30 orang. Besarnya tingkat modal sosial masyarakat analisis menggunakan persamaan selang nilai dan hubungan modal sosial dianalisis menggunakan uji koefisien Peringkat Sperman. Hasil penelitian menunjukan bahwa modal sosial dalam pemanfaatan buah tengkawang pada masyarakat Dusun Melayang tergolong tinggi. Modal sosial kognitif yang terdiri dari kepercayaan, kerjasama dan solidaritas serta Modal sosial struktural yang terdiri dari aturan, peranan, dan jaringan keduanya tergolong tinggi. Hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan tengkawang memiliki hubungan yang searah dan kuat, kedua unsur modal sosial Kognitif dan struktural berhubungan sangat nyata terhadap pemanfaatan tengkawang. Korelasi nyata yang terjadi berupa korelasi positif yang menunjukkan semakin tinggi tingkat modal sosial struktural dan modal sosial kognitif yang terbentuk, semakin baik pula pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul.Kata kunci: Modal Sosial, Buah Tengkawang, Hutan Adat PikulAbstractThe Social capital is the ability of the community which work together to achieve a common goal within group. Pikul costomary forest has the potential of tengkawang that was abundant and utilized by the community around the forest to fulfill their daily needs. This study aimed to determine community social capital consists of cognitive and structural social capital and the relationship of social capital how to use of tengkawang fruit in the Pikul indigenous forest. This study used the concept of upoff, with survey methods, data collection techniques with interviews used questionnaires and in-depth interviews with key respondents. Respondents in this study were Melayang Hamlet community who used tengkawang fruit intentionally (purposive sampling) which consist of 30 people. The magnitude level of social capital used the value interval equation and the relationship of social capital was analyzed of Sperman rating coefficient test. The results showed the social capital in used tengkawang fruit in Melayang sub-village was classified as "high". The cognitive social capital consists of trust, cooperation and solidarity. The structural social capital consists of rules, roles, and networks were both classified as "high". The relationship of social capital which used of tengkawang has a direct and strong relationship, the two elements of Cognitive and structural social capital were very significan and relate with the way how to use tengkawang. The real correlation was occurred in the form of positive correlation that showed the higher level of structural social capital and cognitive social capital formed, which better used of tengkawang fruit in the Pikul costomary forest.Keywords: social capital, tengkawang fruit, Pikul costomary forest
Title: Modal Sosial Masyarakat Dusun Melayang dalam Pemanfaatan Buah Tengkawang di Hutan Adat Pikul
Description:
AbstrakModal sosial adalah kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai suatu tujuan bersama didalam suatu kelompok.
Hutan Adat Pikul memiliki potensi tengkawang yang sangat melimpah yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Penelitian ini bertujuan mengetahui modal sosial masyarakat yang terdiri dari modal sosial kognitif dan struktural dan hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul.
Penelitian ini menggunakan konsep uphoff, dengan metode survei, teknik pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam kepada responden kunci.
Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat Dusun Melayang yang memanfaatkan buah tengkawang yang dipilih secara sengaja (purposive sampling) yang terdiri dari 30 orang.
Besarnya tingkat modal sosial masyarakat analisis menggunakan persamaan selang nilai dan hubungan modal sosial dianalisis menggunakan uji koefisien Peringkat Sperman.
Hasil penelitian menunjukan bahwa modal sosial dalam pemanfaatan buah tengkawang pada masyarakat Dusun Melayang tergolong tinggi.
Modal sosial kognitif yang terdiri dari kepercayaan, kerjasama dan solidaritas serta Modal sosial struktural yang terdiri dari aturan, peranan, dan jaringan keduanya tergolong tinggi.
Hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan tengkawang memiliki hubungan yang searah dan kuat, kedua unsur modal sosial Kognitif dan struktural berhubungan sangat nyata terhadap pemanfaatan tengkawang.
Korelasi nyata yang terjadi berupa korelasi positif yang menunjukkan semakin tinggi tingkat modal sosial struktural dan modal sosial kognitif yang terbentuk, semakin baik pula pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul.
Kata kunci: Modal Sosial, Buah Tengkawang, Hutan Adat PikulAbstractThe Social capital is the ability of the community which work together to achieve a common goal within group.
Pikul costomary forest has the potential of tengkawang that was abundant and utilized by the community around the forest to fulfill their daily needs.
This study aimed to determine community social capital consists of cognitive and structural social capital and the relationship of social capital how to use of tengkawang fruit in the Pikul indigenous forest.
This study used the concept of upoff, with survey methods, data collection techniques with interviews used questionnaires and in-depth interviews with key respondents.
Respondents in this study were Melayang Hamlet community who used tengkawang fruit intentionally (purposive sampling) which consist of 30 people.
The magnitude level of social capital used the value interval equation and the relationship of social capital was analyzed of Sperman rating coefficient test.
The results showed the social capital in used tengkawang fruit in Melayang sub-village was classified as "high".
The cognitive social capital consists of trust, cooperation and solidarity.
The structural social capital consists of rules, roles, and networks were both classified as "high".
The relationship of social capital which used of tengkawang has a direct and strong relationship, the two elements of Cognitive and structural social capital were very significan and relate with the way how to use tengkawang.
The real correlation was occurred in the form of positive correlation that showed the higher level of structural social capital and cognitive social capital formed, which better used of tengkawang fruit in the Pikul costomary forest.
Keywords: social capital, tengkawang fruit, Pikul costomary forest.

Related Results

Pendekatan Positivistik dalam Studi Hukum Adat
Pendekatan Positivistik dalam Studi Hukum Adat
AbstractAdat Positive Legal Science was initiated to simplify Western People (officer, legal enforcer, scholar) to understand adat or adat law. There are two important process to p...
KONSISTENSI MASYARAKAT ADAT TERHADAP TATANAN FISIK SPASIAL KAMPUNG ADAT CIREUNDEU, CIMAHI SELATAN
KONSISTENSI MASYARAKAT ADAT TERHADAP TATANAN FISIK SPASIAL KAMPUNG ADAT CIREUNDEU, CIMAHI SELATAN
Abstrak - Kampung Adat Cireundeu merupakan salah satu Kampung Adat yang masih eksis hingga saat ini. Kampung Adat Cireundeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selat...
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
Pemimpin desa adat dalam hal ini kelian desa merupakan pemegang otoritas utama dalam kepemerintahan desa adat di desa adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten ...
MODEL PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM)
MODEL PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM)
<h4>Abstract</h4> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><em>Forest management must consider the cultural values of socie...
Studi Pemanfaatan Bambu di kawasan Hutan Adat Penyanggar Desa Cipta Karya Kabupaten Bengkayang
Studi Pemanfaatan Bambu di kawasan Hutan Adat Penyanggar Desa Cipta Karya Kabupaten Bengkayang
Kawasan Hutan Adat Penyanggar banyak ditumbuhi bambu dan dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Ketiat A yang wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan adat tersebut. Tujuan peneliti...
Posisi Hukum Adat dalam Hukum Kontrak Nasional Indonesia
Posisi Hukum Adat dalam Hukum Kontrak Nasional Indonesia
<p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em>Sooner or later Indonesia will have its own law of contract. Reasons ...
Peningkatan Pendapatan Masyarakat dan Pelestarian Hutan melalui Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
Peningkatan Pendapatan Masyarakat dan Pelestarian Hutan melalui Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
Paper ini merupakan hasil penelitian terhadap Program Perhutanan Sosial berbasis masyarakat sekitar hutan sebagai pengelola hutan bersama Perum Perhutani. Program tersebut bernama ...
Juridical Review of the Indigenous Peoples Bill and the Recognition of Indigenous Peoples
Juridical Review of the Indigenous Peoples Bill and the Recognition of Indigenous Peoples
This study aims to find out how the regulation regarding the recognition of indigenous peoples in the draft law on indigenous peoples. This research uses normative juridical resear...

Back to Top