Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG

View through CrossRef
ABSTRAK             Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura, sebagaimana yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Pelaga. Pada pelaksanaan upacara ngenteg liggih Tuhan yang bersifat abstrak dijadikan absolut melalui komunikasi transendental. Melalui upacara ngenteg linggih tersebut diharapkan agar kekuatan Tuhan membumi dan mengabadi pada bangunan suci yang telah dibangun. Salah satu rangakain dari upacara ngenteg linggih tersebut adalah prosesi nyenuk. Prosesi nyenuk dengan dialog sakral sebagai bentuk nyata dari komunikasi transendental menunjukan keunikan tersendiri. Dialog yang dilakukan oleh penari topeng sidhakarya dengan tamu suci yang kian sakral sangat menarik untuk dikaji dan diteliti. Adapun permasalahan yang akan dibahas antara lain : 1) Bagaimana bentuk komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang?, 2) Apa fungsi komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang ?, 3) Apa makna dari komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang ?             Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah adalah (1) teori religi 2) teori drama turgi 3) teori fungsional struktural. Subjek dari penelitian ini adalah berupa komunikasi transendental nyenuk sebagai rangakian dari upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang. Penelitian  ini terdapat langkah-langkah yang peneliti lakukan dalam proses pengumpulan data demi mendapatkan data yang benar. Langkah-langkahnya sebagai berikut: (1) teknik wawancara, (2) teknik observasi, (3) teknik studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Bentuk komunikasi transendental nyenuk Proses komunikasi yang terdapat pada prosesi nyenuk meliputi proses verbal dan proses noverbal. Proses non verbal meliputi semua simbol yang digunakan dalam pelaksnaan upacara nyenuk, seperti banten, uparengga, warna pakaian yang digunakan oleh para tamu panyenukan dan gerakan tari topeng sidhakarya. Sedangkan proses verbal yang meliputi semua proses yang menggunakan kata-kata dan bahasa baik secara lisan maupun tertulis, seperti sesapan panyenukan, puja stava dan nyanyian bibi rangda  (2) Fungsi dari komunikasi transendental neynuk meliputi fungsi religi, fungsi repetisi, fungsi substansi dan fungsi komplemen. Fungsi religi yakni untuk mempertemukan bhakti umat dengan kasih Tuhan, fungsi repetisi adalah untukmenegaskan kemabli pesan pada komunikasi transendental nyenuk yang bersifat verbal melalui pesan non verbal, sedangkan fungsi substansi komunikasi transendental nyenuk adalah untuk menggantikan komponen yang bersifat abstrak seperti bidadari dan bhagawan utusan para dewa, fungsi komplemen komunikasi transendental nyenuk adalah untuk melengkapi komunikasi yang terjadi. (3) Makna komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih meliputi makna teologis, makna sosiologis, makna ekologis dan makna edukatif. Makna teologis merupakan upaya untuk menjadikan bumi sebagai sorga tempatnya para dewa sehingga tersebentuk kedamaian dunia, makna sosiologisnya adalah untuk mebangun hubungan harmonis antar sesam masnusia, makna ekologisnya adalah untuk menjaga alam semesta berserta isinya dan makna edukatifnya adalah untuk mendewasakan manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik.  
Title: KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
Description:
ABSTRAK             Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura, sebagaimana yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Pelaga.
Pada pelaksanaan upacara ngenteg liggih Tuhan yang bersifat abstrak dijadikan absolut melalui komunikasi transendental.
Melalui upacara ngenteg linggih tersebut diharapkan agar kekuatan Tuhan membumi dan mengabadi pada bangunan suci yang telah dibangun.
Salah satu rangakain dari upacara ngenteg linggih tersebut adalah prosesi nyenuk.
Prosesi nyenuk dengan dialog sakral sebagai bentuk nyata dari komunikasi transendental menunjukan keunikan tersendiri.
Dialog yang dilakukan oleh penari topeng sidhakarya dengan tamu suci yang kian sakral sangat menarik untuk dikaji dan diteliti.
Adapun permasalahan yang akan dibahas antara lain : 1) Bagaimana bentuk komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang?, 2) Apa fungsi komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang ?, 3) Apa makna dari komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang ?             Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah adalah (1) teori religi 2) teori drama turgi 3) teori fungsional struktural.
Subjek dari penelitian ini adalah berupa komunikasi transendental nyenuk sebagai rangakian dari upacara ngenteg linggih di Pura Desa, Desa Adat Pelaga Kecamatan Petang.
Penelitian  ini terdapat langkah-langkah yang peneliti lakukan dalam proses pengumpulan data demi mendapatkan data yang benar.
Langkah-langkahnya sebagai berikut: (1) teknik wawancara, (2) teknik observasi, (3) teknik studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan (1) Bentuk komunikasi transendental nyenuk Proses komunikasi yang terdapat pada prosesi nyenuk meliputi proses verbal dan proses noverbal.
Proses non verbal meliputi semua simbol yang digunakan dalam pelaksnaan upacara nyenuk, seperti banten, uparengga, warna pakaian yang digunakan oleh para tamu panyenukan dan gerakan tari topeng sidhakarya.
Sedangkan proses verbal yang meliputi semua proses yang menggunakan kata-kata dan bahasa baik secara lisan maupun tertulis, seperti sesapan panyenukan, puja stava dan nyanyian bibi rangda  (2) Fungsi dari komunikasi transendental neynuk meliputi fungsi religi, fungsi repetisi, fungsi substansi dan fungsi komplemen.
Fungsi religi yakni untuk mempertemukan bhakti umat dengan kasih Tuhan, fungsi repetisi adalah untukmenegaskan kemabli pesan pada komunikasi transendental nyenuk yang bersifat verbal melalui pesan non verbal, sedangkan fungsi substansi komunikasi transendental nyenuk adalah untuk menggantikan komponen yang bersifat abstrak seperti bidadari dan bhagawan utusan para dewa, fungsi komplemen komunikasi transendental nyenuk adalah untuk melengkapi komunikasi yang terjadi.
(3) Makna komunikasi transendental nyenuk dalam upacara ngenteg linggih meliputi makna teologis, makna sosiologis, makna ekologis dan makna edukatif.
Makna teologis merupakan upaya untuk menjadikan bumi sebagai sorga tempatnya para dewa sehingga tersebentuk kedamaian dunia, makna sosiologisnya adalah untuk mebangun hubungan harmonis antar sesam masnusia, makna ekologisnya adalah untuk menjaga alam semesta berserta isinya dan makna edukatifnya adalah untuk mendewasakan manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik.
 .

Related Results

DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
IMPLIKASI PERKAWINAN USIA DINI DI BANJAR AUMAN BUKIT MUNDUK TIYING DESA PELAGA KECAMATAN PETANG KABUPATEN BADUNG
IMPLIKASI PERKAWINAN USIA DINI DI BANJAR AUMAN BUKIT MUNDUK TIYING DESA PELAGA KECAMATAN PETANG KABUPATEN BADUNG
Perkawinan usia dini merupakan suatu hubungan lahir batin antara laki-laki dan perempuan dalam berumah tangga pada usia yang masih muda. Perkawinan usia dini yang terjadinya di Ban...
Model Komunikasi Dakwah di Desa Larangan Badung Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan
Model Komunikasi Dakwah di Desa Larangan Badung Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan
Masyarakat Madura dikenal dengan keakraban antar sesama manusia, selalu mengedepankan perilaku yang baik terhadap semua orang dan tidak pandang bulu, sopan santun yang dibudayakan ...
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Fenomena Arsitektur Candi Prambanan adalah unik karena memenuhi kriterium dimensi makna transendental sejak awal mula pembangunannya, masa kehidupan, masa kegelapan, penemuan kemba...
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
Pemimpin desa adat dalam hal ini kelian desa merupakan pemegang otoritas utama dalam kepemerintahan desa adat di desa adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten ...
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
Dalam mewujudkan rasa bhakti  memuja  kebesaran Tuhan, masyarakat di Desa  Adat Kulub Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, melakukan upacara pitra yadnya yang dimana di dalam...
PERENCANAAN PENATAAN PURA PENATARAN MANIK GENI SEBAGAI PETANDA AREAL SUCI DI KAWASAN PURA SAD KAHYANGAN LUHUR ANDAKASA, KARANGASEM
PERENCANAAN PENATAAN PURA PENATARAN MANIK GENI SEBAGAI PETANDA AREAL SUCI DI KAWASAN PURA SAD KAHYANGAN LUHUR ANDAKASA, KARANGASEM
Pura Luhur Andakasa adalah salah satu pura bagian dari Sad Khayangan yang ada di Bali. Pura ini terletak di Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini terletak di d...
Media Pengenalan Pura Tambang Badung Berbasis Multimedia
Media Pengenalan Pura Tambang Badung Berbasis Multimedia
Pura Tambang Badung berlokasi di Kota Denpasar. Adapun Pura Tambang Badung sebagai jajaran pura tua, pura ibu atau pura kerajaan yang dipergunakan sebagai penobatan Raja Pemecutan ...

Back to Top