Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA PATIN HASIL HIBRIDISASI ANTARA BETINA IKAN PATIN SIAM ( Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878) DENGAN JANTAN IKAN PATIN JAMBAL ( Pangasius djambal Bleeker, 1846) DAN JANTAN PATIN NASUTUS ( Pangasius nasutus Bleeker

View through CrossRef
Pengembangan budidaya ikan patin jambal maupun ikan patin nasutus untuk memenuhi permintaan pasar ekspor patin daging putih sulit direalisasikan karena keterbatasan fekunditas dan pematangan gonad induk betinanya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas patin daging putih adalah melalui hibridisasi, yakni hibridisasi antara betina patin siam dengan jantan patin jambal maupun jantan patin nasutus. Hal ini dikarenakan patin siam memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi, sedangkan patin jambal maupun patin nasutus memiliki keunggulan daging yang putih. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik patin hibrida tersebut, termasuk pada tahap-tahap awal kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik embriogenesis dan perkembangan ontogeni morfologis larva patin hibrida tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa embriogenesis patin hibrida siam-jambal dan hibrida siam-nasutus serupa, tetapi perkembangan patin hibrida siam-nasutus sedikit lebih cepat. Pada suhu 28oC-29oC, larva patin hibrida siam-nasutus mulai menetas 20 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,34±0,14 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,71±0,28 mm3 yang terserap 50% pada umur 24 jam dan relatif habis terserap pada umur 54 jam. Larva patin hibrida siam-jambal mulai menetas 21 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,47±0,13 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,42±0,08 mm3 yang terserap 50% pada umur 30 jam dan habis terserap pada umur 60 jam. Perkembangan larva kedua patin hibrida tersebut hingga menyerupai morfologi ikan patin dewasa juga relatif serupa, tetapi patin hibrida siam-nasutus menunjukkan keragaan pertumbuhan yang lebih bagus, menghasilkan heterosis berdasarkan pertambahan panjang total selama 10 hari masa pemeliharaan sebesar 20,20%, sedangkan pada patin hibrida siam-jambal sebesar -4,15%.
Agency for Marine and Fisheries Research and Development
Title: EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA PATIN HASIL HIBRIDISASI ANTARA BETINA IKAN PATIN SIAM ( Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878) DENGAN JANTAN IKAN PATIN JAMBAL ( Pangasius djambal Bleeker, 1846) DAN JANTAN PATIN NASUTUS ( Pangasius nasutus Bleeker
Description:
Pengembangan budidaya ikan patin jambal maupun ikan patin nasutus untuk memenuhi permintaan pasar ekspor patin daging putih sulit direalisasikan karena keterbatasan fekunditas dan pematangan gonad induk betinanya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas patin daging putih adalah melalui hibridisasi, yakni hibridisasi antara betina patin siam dengan jantan patin jambal maupun jantan patin nasutus.
Hal ini dikarenakan patin siam memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi, sedangkan patin jambal maupun patin nasutus memiliki keunggulan daging yang putih.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik patin hibrida tersebut, termasuk pada tahap-tahap awal kehidupannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik embriogenesis dan perkembangan ontogeni morfologis larva patin hibrida tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa embriogenesis patin hibrida siam-jambal dan hibrida siam-nasutus serupa, tetapi perkembangan patin hibrida siam-nasutus sedikit lebih cepat.
Pada suhu 28oC-29oC, larva patin hibrida siam-nasutus mulai menetas 20 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,34±0,14 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,71±0,28 mm3 yang terserap 50% pada umur 24 jam dan relatif habis terserap pada umur 54 jam.
Larva patin hibrida siam-jambal mulai menetas 21 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,47±0,13 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,42±0,08 mm3 yang terserap 50% pada umur 30 jam dan habis terserap pada umur 60 jam.
Perkembangan larva kedua patin hibrida tersebut hingga menyerupai morfologi ikan patin dewasa juga relatif serupa, tetapi patin hibrida siam-nasutus menunjukkan keragaan pertumbuhan yang lebih bagus, menghasilkan heterosis berdasarkan pertambahan panjang total selama 10 hari masa pemeliharaan sebesar 20,20%, sedangkan pada patin hibrida siam-jambal sebesar -4,15%.

Related Results

Evaluasi Ciri Fenotipe Turunan F2 Hasil Persilangan Ayam Brahman Jantan dengan Ayam Lokal Betina dan Ayam Cochin Betina pada Fase Starter
Evaluasi Ciri Fenotipe Turunan F2 Hasil Persilangan Ayam Brahman Jantan dengan Ayam Lokal Betina dan Ayam Cochin Betina pada Fase Starter
Permasalahan utama dalam pengembangan ayam Lokal sebagai ternak komersial adalah masih kurangnya varian dari turunan perkawinan silang dan masih rendahnya produktivitas baik sebaga...
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN IKAN PATIN DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN PATIN TINGGI KALSIUM DI KAMPUNG PATIN XIII KOTO KAMPAR
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN IKAN PATIN DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN PATIN TINGGI KALSIUM DI KAMPUNG PATIN XIII KOTO KAMPAR
Tulang ikan merupakan salah satu limbah dari industri perikanan yang belum dimanfaatkan dengan baik. Salah satu pemanfaatan tulang ikan yaitu pengolahan menjadi tepung tulang. Prog...
HIBRIDISASI INTERSPESIFIK TIGA SPESIES IKAN TOR (Tor soro, Tor douronensis, DAN Tor tambroides) SECARA RESIPROKAL PADA FASE LARVA
HIBRIDISASI INTERSPESIFIK TIGA SPESIES IKAN TOR (Tor soro, Tor douronensis, DAN Tor tambroides) SECARA RESIPROKAL PADA FASE LARVA
Ikan Tor merupakan genus yang potensi dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Masalah yang ada adalah lambatnya pertumbuhan dan rendahnya tingkat sintasan benih ikan t...
ANALISIS SUBSEKTOR PERIKANAN DI KABUPATEN OKU TIMUR PROVINSI SUMATERA SELATAN
ANALISIS SUBSEKTOR PERIKANAN DI KABUPATEN OKU TIMUR PROVINSI SUMATERA SELATAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Untuk mengetahui jenis ikan unggul di OKU Timur. 2) Untuk mengetahui pertumbuhan komoditas subsektor perikanan di OKU Timur. Hasil penel...

Back to Top