Javascript must be enabled to continue!
PERLAWANAN DEMOKRASI ANIES BASWEDAN LEWAT SEMIOTIKA
View through CrossRef
Tesis ini mengulas pemaknaan dekontruksi semiotika sebuah foto yang diunggah Gubernur DKI Anies Bawesdan di akun Instagram dan Twiter pribadinya. Pembahasan dimulai dengan unggahan foto Anies Bawesdan yang terlihat duduk santai dengan berkain sarung mengenakan atasan putih lengan pendek, tampak sedang khusyuk membaca sebuah buku berjudul 'How Democracies Die' atau (Bagaimana Demokrasi Mati) dengan membubuhkan keterangan foto. "Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," kata Anies, Minggu (22/11/2020). Pilihan Buku berjudul 'How Democracies Die' atau (Bagaimana Demokrasi Mati) merupakan bentuk kritik dengan membuka makna baru, lebih luas, dalam memandang praksis otoriteriantisme terhadap kebijakan-kebikajan pemerintah dengan membuka makna baru lebih luas dalam memandang praktik politik yang ia anggap tidak demokratis dan otoriter. Dengan memanfaatkan foto tersebut penulis menyandingan pemikiran Roland Barthers lewat kajian semiotika dan pemikiran inti Jacques Derrida. Melalui dekonstruksi Derrida berharap dapat memperoleh teks dan makna baru melalui pembacaan ulang. Foto Anies Bawesdan memiliki penilaian bentuk (form) dan penilaian isi (content), penilaian dan penilaian yang tersembunyi dari fungsi sebuah foto, yang bersentuhan dengan emosi, afeksi dan apresiasi manusia yang terangkum dalam bingkai-bingkai (frame) sebuah karya Fotografi. Studi ini menghasilkan dekonstruksi informasi yang secara denotative mengarahkan beberapa pokok pkiran Steven Levitsky and Daniel Ziblatt menceritakan bagaimana demokrasi bisa mati? Siapa pembunuh demokrasi itu? Secara konotatif, dekonstrusi yang akan dibangun bila keempat indikator dalam buku 'How Democracies Die' itu terpenuhi dalam pratik dan kebijakan pemerintah berarti suatu negara demokrasi mengarah kepada lonceng kematiannya. Dalam dekonstruksi mitosnya Anies Bawesdan ingin memberikan panduan berdasarkan catatan sejarah (artefak) tentang cara mempertahankan norma norma demokrasi ketika berada di bawah ancaman, dan menunjukkan bahwa ancaman itu bisa dilawan. Dalam strategi media unggahan foto dapat dimaknai tidak saja sebagai perlawanan idologis tapi sebagai modal elektabilitas yang memperlihatkan posisi Anies Bawesdan dalam daftar lima teratas orang paling popular di negeri ini, dengan harapan memiliki partai pengusung menuju 2024 dan lolos ambang batas presiden.
Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis
Title: PERLAWANAN DEMOKRASI ANIES BASWEDAN LEWAT SEMIOTIKA
Description:
Tesis ini mengulas pemaknaan dekontruksi semiotika sebuah foto yang diunggah Gubernur DKI Anies Bawesdan di akun Instagram dan Twiter pribadinya.
Pembahasan dimulai dengan unggahan foto Anies Bawesdan yang terlihat duduk santai dengan berkain sarung mengenakan atasan putih lengan pendek, tampak sedang khusyuk membaca sebuah buku berjudul 'How Democracies Die' atau (Bagaimana Demokrasi Mati) dengan membubuhkan keterangan foto.
"Selamat pagi semua.
Selamat menikmati Minggu pagi," kata Anies, Minggu (22/11/2020).
Pilihan Buku berjudul 'How Democracies Die' atau (Bagaimana Demokrasi Mati) merupakan bentuk kritik dengan membuka makna baru, lebih luas, dalam memandang praksis otoriteriantisme terhadap kebijakan-kebikajan pemerintah dengan membuka makna baru lebih luas dalam memandang praktik politik yang ia anggap tidak demokratis dan otoriter.
Dengan memanfaatkan foto tersebut penulis menyandingan pemikiran Roland Barthers lewat kajian semiotika dan pemikiran inti Jacques Derrida.
Melalui dekonstruksi Derrida berharap dapat memperoleh teks dan makna baru melalui pembacaan ulang.
Foto Anies Bawesdan memiliki penilaian bentuk (form) dan penilaian isi (content), penilaian dan penilaian yang tersembunyi dari fungsi sebuah foto, yang bersentuhan dengan emosi, afeksi dan apresiasi manusia yang terangkum dalam bingkai-bingkai (frame) sebuah karya Fotografi.
Studi ini menghasilkan dekonstruksi informasi yang secara denotative mengarahkan beberapa pokok pkiran Steven Levitsky and Daniel Ziblatt menceritakan bagaimana demokrasi bisa mati? Siapa pembunuh demokrasi itu? Secara konotatif, dekonstrusi yang akan dibangun bila keempat indikator dalam buku 'How Democracies Die' itu terpenuhi dalam pratik dan kebijakan pemerintah berarti suatu negara demokrasi mengarah kepada lonceng kematiannya.
Dalam dekonstruksi mitosnya Anies Bawesdan ingin memberikan panduan berdasarkan catatan sejarah (artefak) tentang cara mempertahankan norma norma demokrasi ketika berada di bawah ancaman, dan menunjukkan bahwa ancaman itu bisa dilawan.
Dalam strategi media unggahan foto dapat dimaknai tidak saja sebagai perlawanan idologis tapi sebagai modal elektabilitas yang memperlihatkan posisi Anies Bawesdan dalam daftar lima teratas orang paling popular di negeri ini, dengan harapan memiliki partai pengusung menuju 2024 dan lolos ambang batas presiden.
.
Related Results
Tiktok Live dan Citra Politik: Studi Kasus Anies Bubble pada Citra Politik Anies Baswedan
Tiktok Live dan Citra Politik: Studi Kasus Anies Bubble pada Citra Politik Anies Baswedan
TikTok Live is one of the top features of TikTok social media in user services. The widespread use of TikTok Live and young people who use social media are utilized by one of the c...
Implementation of Kpopfication in the campaign of presidential candidate Anies Rasyid Baswedan
Implementation of Kpopfication in the campaign of presidential candidate Anies Rasyid Baswedan
The digital era makes the existence of social media a tool used to spread and get information about many things that happen from one individual to another with a wider scope. This ...
THE STUDY OF ILLOCUTIONARY ACT: THE CONTROVERSIAL “PRIBUMI” ANIES BASWEDAN’S SPEECH
THE STUDY OF ILLOCUTIONARY ACT: THE CONTROVERSIAL “PRIBUMI” ANIES BASWEDAN’S SPEECH
After the campaign, the candidates had chosen did the programs for Jakarta as a place where they want to be. Anies Baswedan got believes from society so they are won the voters. Th...
Strategi Branding dan Komunikasi Politik Anies Baswedan melalui Instagram dalam Pemilu 2024
Strategi Branding dan Komunikasi Politik Anies Baswedan melalui Instagram dalam Pemilu 2024
This research is motivated by the rapid development of social media as a tool for political communication, particularly Instagram, which is used by politicians to build their image...
FENOMENA MEME GENRE BARU KOMUNIKASI POLITIK: ANALISIS SEMIOTIK MEME KASUS ANIES BASWEDAN
FENOMENA MEME GENRE BARU KOMUNIKASI POLITIK: ANALISIS SEMIOTIK MEME KASUS ANIES BASWEDAN
Penelitian ini melihat bagaimana fenomena meme sebagai genre baru Komunikasi Politik, beroperasi dalam lalu lintas pesan politik di internet, relasinya dengan kekuasaan, dan sebera...
Wacana mengenai Retorika Komunikasi: Retorika Politik Anies Baswedan
Wacana mengenai Retorika Komunikasi: Retorika Politik Anies Baswedan
Suhu politik di Indonesia akhir-akhir ini mulai hangat dikarenakan residu pemilu baik nasional maupun daerah. Khususnya Pilkada DKI Jakarta pada 2017 yang sarat akan intrik politik...
GAYA BAHASA ANIES BASWEDAN DALAM ACARA DESAK ANIES DI KOMPAS TV
GAYA BAHASA ANIES BASWEDAN DALAM ACARA DESAK ANIES DI KOMPAS TV
Berdasarkan masalah dalam penelitian ini yaitu apa saja gaya bahasa yang digunakan Anies Baswedan dalam acara Desak Anies di Kompas TV?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetah...

