Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perancangan Website TMLESS Studio dengan Metode Design Thinking

View through CrossRef
TMLESS Studio adalah salah satu entertainment company yang berpusat di Yogyakarta, Indonesia yang bergerak dalam bidang pembuatan konten dari mulai film dan video musik hingga serial dan dokumentasi. Penawaran jasa dokumentasi yang dilakukan TMLESS Studio ini dilakukan masih dengan cara pengenalan diri secara langsung ke calon pelanggan atau dengan bantuan pelanggan lama yang merekomendasikan jasa mereka ke calon pelanggan. TMLESS studio telah mencoba menggunakan media sosial sebagai media pemasaran namun hal ini masih dianggap belum memberikan dampak kepada penjualan jasa. Solusi yang akan dilakukan untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut, maka akan dirancangkan website untuk menampilkan informasi karya dan penawaran jasa dokumentasi TMLESS Studio secara lengkap dalam satu area.              Perancangan website TMLESS Studio dilakukan menggunakan metode Design Thinking yang meliputi 5 tahapan yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Pada tahap test akan dilakukan pengujian menggunakan Single Ease Question (SEQ) menggunakan bantuan Google Sites dan Google Form untuk mengetahui apakah website yang diuji cobakan sudah dapat mengatasi permasalahan awal.              Hasil uji rerata data responden SEQ menunjukkan bahwa website yang diuji coba berada pada kategori sangat mudah (rerata = 6.19). Hasil uji rerata Task 5,6,7, dan 8 tentang informasi karya dan jasa yang ditawarkan oleh TMLESS Studio berada pada kategori sangat mudah. Hasil uji ini menunjukkan bahwa penerapan tahap-tahap dari metode Design Thinking dan implementasi SEQ pada perancangan website TMLESS Studio yang diuji coba telah berhasil mengatasi permasalahan dan dapat digunakan sebagai website tetap TMLESS Studio.
Title: Perancangan Website TMLESS Studio dengan Metode Design Thinking
Description:
TMLESS Studio adalah salah satu entertainment company yang berpusat di Yogyakarta, Indonesia yang bergerak dalam bidang pembuatan konten dari mulai film dan video musik hingga serial dan dokumentasi.
Penawaran jasa dokumentasi yang dilakukan TMLESS Studio ini dilakukan masih dengan cara pengenalan diri secara langsung ke calon pelanggan atau dengan bantuan pelanggan lama yang merekomendasikan jasa mereka ke calon pelanggan.
TMLESS studio telah mencoba menggunakan media sosial sebagai media pemasaran namun hal ini masih dianggap belum memberikan dampak kepada penjualan jasa.
Solusi yang akan dilakukan untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut, maka akan dirancangkan website untuk menampilkan informasi karya dan penawaran jasa dokumentasi TMLESS Studio secara lengkap dalam satu area.
             Perancangan website TMLESS Studio dilakukan menggunakan metode Design Thinking yang meliputi 5 tahapan yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test.
Pada tahap test akan dilakukan pengujian menggunakan Single Ease Question (SEQ) menggunakan bantuan Google Sites dan Google Form untuk mengetahui apakah website yang diuji cobakan sudah dapat mengatasi permasalahan awal.
             Hasil uji rerata data responden SEQ menunjukkan bahwa website yang diuji coba berada pada kategori sangat mudah (rerata = 6.
19).
Hasil uji rerata Task 5,6,7, dan 8 tentang informasi karya dan jasa yang ditawarkan oleh TMLESS Studio berada pada kategori sangat mudah.
Hasil uji ini menunjukkan bahwa penerapan tahap-tahap dari metode Design Thinking dan implementasi SEQ pada perancangan website TMLESS Studio yang diuji coba telah berhasil mengatasi permasalahan dan dapat digunakan sebagai website tetap TMLESS Studio.

Related Results

Design
Design
Conventional definitions of design rarely capture its reach into our everyday lives. The Design Council, for example, estimates that more than 2.5 million people use design-related...
Website sebagai Media Informasi Publik
Website sebagai Media Informasi Publik
Abstract. Technological developments make it easy to communicate through digital communication. This digital communication process is supported by the presence of means or containe...
BATIK TULIS KHAS SRAGEN DENGAN SUMBER IDE MOTIF GAJAH PURBA
BATIK TULIS KHAS SRAGEN DENGAN SUMBER IDE MOTIF GAJAH PURBA
ABSTRAK Duwi Wahyu Hidayat. C0913017. 2019. Batik Tulis khas  Sragen dengan Sumber Ide Gajah Purba. Tugas Akhir : Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Universi...
Design Thinking vs design thinking
Design Thinking vs design thinking
<p><b>This research offers a comparison of the different uses of design thinking and investigates how design thinking is used within business models and compares this t...
Evaluasi Penggunaan Website Puskesmas
Evaluasi Penggunaan Website Puskesmas
Latar belakang : Teknologi website sangat mempengaruhi pelayanan puskesmas. Pengadaan website dalam rangka memenuhi tuntutan pengguna akan ketersediaan layanan yang mudah, cepat da...
Perancangan User interface Website Untuk Promosi Paw Paw Cafe Dengan Metode Design thinking
Perancangan User interface Website Untuk Promosi Paw Paw Cafe Dengan Metode Design thinking
Penelitian ini bertujuan untuk merancang user interface (UI) website Paw Paw Cafe sebagai media promosi yang lebih modern dan professional dengan menggunakan metode design thinking...
TRANSFORMING THE CLASSROOM WITH DESIGN THINKING
TRANSFORMING THE CLASSROOM WITH DESIGN THINKING
Design thinking is not a new concept, but it is a tool that could potentially be very useful in the classroom. It is deeply rooted in the scientific method and works well with the ...
Design Thinking in Business and Management: Research History, Themes, and Opportunities
Design Thinking in Business and Management: Research History, Themes, and Opportunities
Design thinking is a human-centered, innovation-focused problem-solving approach that employs various tools and methods for creative purposes. It is a dynamic process and often pri...

Back to Top