Javascript must be enabled to continue!
Fenomena Beling Malunan Sebagai Refleksi Kesetaraan Gender melalui Pembelajaran Ilmu Sosial
View through CrossRef
Beling malunan secara etimologis berarti “hamil dulu baru menikah”. Beling malunan adalah bentuk zina yang dilegalkan secara terselubung. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah semakin maraknya kasus zina beling malunan yang dilegalkan masyarakat termasuk wangsa brahmana yang dianggap strata sosial utama. Tujuan penelitian ini adalah mengulas makna dari fenomena beling malunan dalam perspektif subjek wangsa brahmana, kemudian mengejawantahkan hasil analisis tersebut sebagai refleksi kesetaraan gender dalam pembelajaran ilmu sosial. Penelitian kualitatif ini mengambil subjek secara purposive sampling, yakni tiga keluarga konjugal Suku Bali yang berasal dari wangsa brahmana. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara naturalistik, analisis dokumen, dan FGD. Data kemudian dianalisis dengan teknik analisis fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap keluarga merasa senang ketika anaknya menikah meskipun terjadi insiden hamil sebelum menikah, bahkan kehamilan tersebut memang disengaja untuk menguji kesehatan psikis dan kesuburan pasangan sebelum menikah. Selain itu, beling malunan juga menjelaskan bahwa pasangan yang melakukannya bebas dari pengaruh LGBT, hemat biaya periksa dokter spesialis, dan dapat menjadi topik pamer sosial kepada keluarga besar hingga masyarakat di lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai yang dapat diadopsi dari fenomena tersebut adalah nilai yang bersifat refleksi untuk membelajarkan kesetaraan gender melalui pembelajaran ilmu sosial.
Institut Agama Islam Negeri Madura
Title: Fenomena Beling Malunan Sebagai Refleksi Kesetaraan Gender melalui Pembelajaran Ilmu Sosial
Description:
Beling malunan secara etimologis berarti “hamil dulu baru menikah”.
Beling malunan adalah bentuk zina yang dilegalkan secara terselubung.
Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah semakin maraknya kasus zina beling malunan yang dilegalkan masyarakat termasuk wangsa brahmana yang dianggap strata sosial utama.
Tujuan penelitian ini adalah mengulas makna dari fenomena beling malunan dalam perspektif subjek wangsa brahmana, kemudian mengejawantahkan hasil analisis tersebut sebagai refleksi kesetaraan gender dalam pembelajaran ilmu sosial.
Penelitian kualitatif ini mengambil subjek secara purposive sampling, yakni tiga keluarga konjugal Suku Bali yang berasal dari wangsa brahmana.
Metode pengumpulan data menggunakan wawancara naturalistik, analisis dokumen, dan FGD.
Data kemudian dianalisis dengan teknik analisis fenomenologi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap keluarga merasa senang ketika anaknya menikah meskipun terjadi insiden hamil sebelum menikah, bahkan kehamilan tersebut memang disengaja untuk menguji kesehatan psikis dan kesuburan pasangan sebelum menikah.
Selain itu, beling malunan juga menjelaskan bahwa pasangan yang melakukannya bebas dari pengaruh LGBT, hemat biaya periksa dokter spesialis, dan dapat menjadi topik pamer sosial kepada keluarga besar hingga masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Nilai-nilai yang dapat diadopsi dari fenomena tersebut adalah nilai yang bersifat refleksi untuk membelajarkan kesetaraan gender melalui pembelajaran ilmu sosial.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Nilai Nilai Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Pembelajaran PAI di SD 05 Binanga Dua Labuhanbatu Selatan
Penelitian ini mengkaji penerapan nilai-nilai kesetaraan gender dalam pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD 05 Binanga Dua. Pokok masalah yang diangkat adalah...
Tingkat Refleksi Diri Dalam Pembelajaran Peserta Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Tingkat Refleksi Diri Dalam Pembelajaran Peserta Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
ABSTRAK: TINGKAT REFLEKSI DIRI DALAM PEMBELAJARAN PESERTA UJI KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI TAHUN 2020 Latar Belakang :refl...
Tingkat Refleksi Diri Dalam Pembelajaran Peserta Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
Tingkat Refleksi Diri Dalam Pembelajaran Peserta Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati
ABSTRAK: TINGKAT REFLEKSI DIRI DALAM PEMBELAJARAN PESERTA UJI KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI TAHUN 2020 Latar Belakang :refl...
Pesan dari Managing Editor
Pesan dari Managing Editor
Salam sejahtera,
Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. ...
Gender identity development in autistic individuals: An interview study
Gender identity development in autistic individuals: An interview study
Autistic individuals report more gender-related questions and gender incongruence compared to non-autistic peers. However, research on gender identity in autistic individuals lacks...
PENGARUH PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
PENGARUH PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
The aims of this study were (1) to determine the effect of limited face-to-face learning on social science learning outcomes for VII grade students at MTs Ar Rofiqy Bogor, (2) to d...
Sosio-Psikolinguistik
Sosio-Psikolinguistik
Sosio-Psikolinguistik adalah salah satu cabang ilmu dalam bidang linguistik terapan yang mempelajari keterkaitan antara aspek sosial dan psikologis dalam proses penggunaan dan pema...

