Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PENGEMBANGAN TANAMAN HERBAL SEBAGAI DESTINASI WISATA DI DESA CATUR, KINTAMANI, BALI

View through CrossRef
Development of Herbal Plants as a Tourist Destination in Catur Village, Kintamani, BaliAbstract. The people of Catur Village are classified as less prosperous economically but have the potential for natural products and cultural uniqueness. Quite a lot of natural products in this area in the form of coffee, oranges, lemongrass, sweet potatoes, ginger, turmeric, and so on. These natural products are classified as herbs that are beneficial to health. Natural products and cultural uniqueness have not been developed into tourist attractions because people lack knowledge and skills. The Partner Village Development Program (PPDM) is a solution to the problems faced by the community. The PPDM implementation team provides training and assistance to the Women Farmers Group (KWT) and Tourism Awareness Group (Pokdarwis). The purpose of implementing PPDM in Catur Village is that KWT and Pokdarwis have the knowledge and skills in developing their natural and cultural potential. This training and assistance resulted in three things: First, KWT and Pokdarwis members were able to cultivate herbal plants in their yard or garden; Second, KWT and Pokdarwis members are able to make coffee perfume and process coffee waste into cascara tea and coffee leaf tea; Third, KWT and Pokdarwis members are able to organize tourist attractions and make trekking paths in the tourist area. The development and promotion of this tourist village use technology and social media such as Facebook, Youtube, and other online media. Thus, the tourist area in Catur Village, Kintamani Bali becomes an educational and contemporary tourism destination based on herbs.Keywords: Herbal plants, herbal tourism, technology, Catur Village, Kintamani Bali.Abstrak: Masyarakat Desa Catur tergolong kurang sejahtera secara ekonomi, namun memiliki potensi hasil alam dan keunikan budaya. Hasil alam cukup banyak di daerah ini berupa kopi, jeruk, sereh, bunga gumitir, ubi, jahe, kunyit, dan sebagainya. Hasil alam ini tergolong sebagai tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan. Hasil alam maupun keunikan budaya belum dikembangkan menjadi objek wisata karena masyarakatnya kurang pengetahuan serta keterampilan. Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Tim pelaksana PPDM memberikan pelatihan dan pendampingan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Tujuan pelaksanaan PPDM di Desa Catur adalah agar KWT dan Pokdarwis memiliki pengetahuan  serta  keterampilan  dalam  mengembangkan  potensi alam maupun budayanya.Pelatihan dan pendampingan ini menghasilkan tiga hal: Pertama, anggota KWT dan Pokdarwis mampu membudidayakan tanaman herbal di halaman rumah atau kebunnya; Kedua, anggota KWT dan Pokdarwis mampu membuat parfum kopi serta mengolah limbah kopi menjadi teh cerry kopi (cascara tea) dan teh daun kopi; Ketiga, anggota KWT dan Pokdarwis mampu menata objek wisata serta membuat jalur trekking di kawasan wisata tersebut. Pengembangan maupun promosi desa wisata ini menggunakan teknologi serta media sosial seperti facebook, youtube, dan media online lainnya. Dengan demikian, kawasan wisata di Desa Catur menjadi destinasi wisata edukasi dan kekinian yang berbasis pada herbal.Kata Kunci: Tanaman herbal, wisata herbal, teknologi, Desa Catur, Bali.
Title: PENGEMBANGAN TANAMAN HERBAL SEBAGAI DESTINASI WISATA DI DESA CATUR, KINTAMANI, BALI
Description:
Development of Herbal Plants as a Tourist Destination in Catur Village, Kintamani, BaliAbstract.
The people of Catur Village are classified as less prosperous economically but have the potential for natural products and cultural uniqueness.
Quite a lot of natural products in this area in the form of coffee, oranges, lemongrass, sweet potatoes, ginger, turmeric, and so on.
These natural products are classified as herbs that are beneficial to health.
Natural products and cultural uniqueness have not been developed into tourist attractions because people lack knowledge and skills.
The Partner Village Development Program (PPDM) is a solution to the problems faced by the community.
The PPDM implementation team provides training and assistance to the Women Farmers Group (KWT) and Tourism Awareness Group (Pokdarwis).
The purpose of implementing PPDM in Catur Village is that KWT and Pokdarwis have the knowledge and skills in developing their natural and cultural potential.
This training and assistance resulted in three things: First, KWT and Pokdarwis members were able to cultivate herbal plants in their yard or garden; Second, KWT and Pokdarwis members are able to make coffee perfume and process coffee waste into cascara tea and coffee leaf tea; Third, KWT and Pokdarwis members are able to organize tourist attractions and make trekking paths in the tourist area.
The development and promotion of this tourist village use technology and social media such as Facebook, Youtube, and other online media.
Thus, the tourist area in Catur Village, Kintamani Bali becomes an educational and contemporary tourism destination based on herbs.
Keywords: Herbal plants, herbal tourism, technology, Catur Village, Kintamani Bali.
Abstrak: Masyarakat Desa Catur tergolong kurang sejahtera secara ekonomi, namun memiliki potensi hasil alam dan keunikan budaya.
Hasil alam cukup banyak di daerah ini berupa kopi, jeruk, sereh, bunga gumitir, ubi, jahe, kunyit, dan sebagainya.
Hasil alam ini tergolong sebagai tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan.
Hasil alam maupun keunikan budaya belum dikembangkan menjadi objek wisata karena masyarakatnya kurang pengetahuan serta keterampilan.
Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat tersebut.
Tim pelaksana PPDM memberikan pelatihan dan pendampingan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Tujuan pelaksanaan PPDM di Desa Catur adalah agar KWT dan Pokdarwis memiliki pengetahuan  serta  keterampilan  dalam  mengembangkan  potensi alam maupun budayanya.
Pelatihan dan pendampingan ini menghasilkan tiga hal: Pertama, anggota KWT dan Pokdarwis mampu membudidayakan tanaman herbal di halaman rumah atau kebunnya; Kedua, anggota KWT dan Pokdarwis mampu membuat parfum kopi serta mengolah limbah kopi menjadi teh cerry kopi (cascara tea) dan teh daun kopi; Ketiga, anggota KWT dan Pokdarwis mampu menata objek wisata serta membuat jalur trekking di kawasan wisata tersebut.
Pengembangan maupun promosi desa wisata ini menggunakan teknologi serta media sosial seperti facebook, youtube, dan media online lainnya.
Dengan demikian, kawasan wisata di Desa Catur menjadi destinasi wisata edukasi dan kekinian yang berbasis pada herbal.
Kata Kunci: Tanaman herbal, wisata herbal, teknologi, Desa Catur, Bali.

Related Results

PEMBUATAN MURAL PADA DAYA TARIK WISATA AIR TERJUN GREMBENGAN DESA WISATA BONGAN, TABANAN-BALI
PEMBUATAN MURAL PADA DAYA TARIK WISATA AIR TERJUN GREMBENGAN DESA WISATA BONGAN, TABANAN-BALI
Wisata Bongan saat ini tengah dikembangkan untuk menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa wisata ini memiliki beragam potensi wisata, baik itu ...
Inovasi Model Komunikasi Digital Desa Wisata dalam Pengembangan Kapasitas Pelaku Wisata di Kabupaten Bogor
Inovasi Model Komunikasi Digital Desa Wisata dalam Pengembangan Kapasitas Pelaku Wisata di Kabupaten Bogor
Kapasitas pelaku desa wisata di Indonesia umumnya masih rendah terutama para pelaku wisata di desa wisata. Rendahnya kapasitas tersebut dapat dilihat dari pelaku desa wisata yang b...
Alternatif Strategi Pengembangan Desa Rahtawu Sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Kudus
Alternatif Strategi Pengembangan Desa Rahtawu Sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Kudus
<p class="Abstract">Wisata Alam Colo merupakan salah satu tempat wisata yang berkembang di Kabupaten Kudus. Wisata alam ini mempunyai daya tarik baik dari segi fisik alam mau...
Upaya Peningkatan Fasilitas Wisata di Desa Wisata Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang
Upaya Peningkatan Fasilitas Wisata di Desa Wisata Dayeuhkolot, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang
Modern lifestyle trends have significantly increased public interest in travel, driving a rise in tourist visits to both regional and international destinations. This growing deman...
Literasi Wisata bagi Kelompok Pemandu Wisata Rammang-Rammang
Literasi Wisata bagi Kelompok Pemandu Wisata Rammang-Rammang
Abstrak. Urgensi dari Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah menyelesaikan masalah prioritas Kelompok Pemandu Wisata Karst Rammang-Rammang (mitra) yang: (1) masih fokus...
Strategi Pengembangan Destinasi Wisata Danau Rana Tonjong Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur
Strategi Pengembangan Destinasi Wisata Danau Rana Tonjong Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi destinasi wisata Danau Rana Tonjong di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Salah satu distinasi wisa...
STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA MEJONO KABUPATEN KEDIRI BERBASIS EKONOMI KREATIF
STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA MEJONO KABUPATEN KEDIRI BERBASIS EKONOMI KREATIF
Kabupaten Kediri memiliki potensi wisata salah satunya berlokasi di Desa Wisata Mejono. Desa Wisata Mejono memiliki karakteristik khusus sebagai desa wisata meliputi beberapa desti...

Back to Top